Monthly Archives: November 2013

Makna Kata Dalam Mantra Sang Kolo Cokro

YA MAROJA JAROMA YA
YA MARANI NIRAMA YA
YA SILAPA PALASI YA
YA MIRODA DAROMI YA
YA MIDOSA SADOMI YA
YA DAYUDA DAYUDA YA
YA CIYACA CAYACI YA
YA SIHAMA MAHASI YA
NGOTOBOGOMO – NYOYOJODOPO – LOWOSOTODO – KOROCONOHO
Inilah arti Kalimat Di Atas Yang Berasal dari bahasa sansekerta dari berbagai sumber:
-YA MAROJA JAROMA YA
siapa yang menyerang, berbalik menjadi berbelas kasihan.
-YA MARANI NIRAMA YA
siapa datang bermaksud buruk, malah akan menjauh.
-YA SILAPA PALASI YA
siapa membuat lapar akan malah memberi makan.
-YA MIRODA DAROMI YA
siapa memaksa malah menjadi memberi keleluasaan/ kebebasan
-YA MIDOSA SADOMI YA
siapa membuat dosa, berbalik membuat jasa
-YA DAYUDA DAYUDA YA
siapa memerangi, berbalik menjadi damai
-YA SIYACA CAYASI YA
siapa membuat celaka berbalik menjadi membuat sehat dan sejahtera
-YA SIHAMA MAHASI YA
siapa membuat rusak berbalik menjadi membangun dan sayang.

NGOTOBOGOMO – NYOYOJODOPO – LOWOSOTODO – KOROCONOHO
(Adalah Huruf Jawa Yang Di Lafatkan Dari Belakang Ke Depan)

Yang Makna Huruf Tersebut Memiliki Falsafah Hidup Yang Luar Biasa, Sebagaimana Yang Di Ajarkan Paku Buwono IX, Sebagaimana Berikut:

Ajaran Filsafat Pagesangan Paku Buwono IX Adhedhasar Aksoro Jawi;

Ho-no-co-ro-ko ateges ono utusan yoiku utusan urip, wujude napas sing kajibah manunggalake jiwo lan rogoning manungso. Maksute ono sing paring kapercayaan, ono sing dipercoyo, lan ono sing dipercoyo kanggo makaryo. Telung perkoro iku ananging Alloh, manungso lan jejibahane manungso (minongko titah).

Do-to-so-wo-lo ateges manungso sawise cinipto nganti tekan saate tinimbalan, ora biso nolak utowo endho opo dene semoyo. Manungso lan samubarange kudu ndherek sendiko dhawuh, nompo sarto nindakake kersane Alloh.

Po-dho-jo-yo-nyo ateges manunggale Dzat Kang Ngcet Lombok(Kholik) karo sing diparingi urip (makhluk). Karepe cocog nunggal batine sing bisa disawang ing sajrone solah bawane adhedhasar kaluhuran lan kautaman. Joyo iku menang, unggul sing sabener-benere, ora mung menang-menangan utawa menang ora sportip.

Mo-go-bo-tho-ngo ateges nompo sakabehing dhedhawuhan sarto larangane Alloh Kang Moho Kuwoso (takwa). Maksude, manungso kudu pasrah, sumarah marang garising diwajibke, senajanto manungso diparingi wenang kanggo ngiradati, budidoyo kanggo nanggulangi. Wusanane, kabeh mung ono panguwasane Alloh

Ya ALLAH….
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.
Aamiin ya Rabbal’alamin
Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

CANDI BOROBUDUR MENURUT AL QUR’AN DAN AL KITAB

1. PENDAHULUAN
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu, APAKAH ITU ARTINYA LANTAI YANG TERBUAT dari kaca???
Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjuru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya.

2. INDONESIA NEGARA ATLANTIS.
cerita Benua Atlantis yang pertama kali ditulis dalam sebuah dialogue karya Plato yang berjudul Timateus and Critias sekitar tahun 370 SM, disana dikatakan ada negeri subur, makmur, dan berteknologi maju. Negeri itu hancur karena bencana alam, Plato sendiri mendapat kisah ini dari penduduk Mesir, dan orang di Mesir menyebutnya Keftiu.
Atlantis itu artinya : Tanahnya Atlas – Negeri 2 pilar/tiang yang bisa diartikan sebagai negeri dengan pegunungan-pegunungan. Atlantis dikenal sangat subur, makmur, berteknologi tinggi, dengan kota berbentuk lingkaran/cincin yang tersusun daratan dan perairan secara berurutan, negeri ini disusun berdasarkan perhitungan matematika yang tepat dan efisien sehingga tertata dengan rapi dengan sebuah istana megah tepat di pusat kota sebagai pusat pemerintahan. Penduduk Atlantis terbagi dua, yang satu adalah turunan bangsa Lemuria yang berkulit putih, tinggi, bermata biru dan berambut pirangan, yang merupakan nenek moyang suku bangsa arya, sedang satunya lagi berkulit coklat/hitam, relatif pendek, bermata coklat, dan berambut hitam.
Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) . Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.
Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Portugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu dan teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

3. APAKAH ATLANTIS ITU ADALAH NEGERI SABA’ DALAM AL QUR’AN dan AL KITAB???
Ust. Fahmi Basya (FB) pimpinan Sains Spiritual Qur’an Dzikrul Lil Alamiin Bogor. Penjelasan catatan ini meliputi kebenaran adanya Jejak Nabi Sulaiman di tanah Jawa yang berjarak waktu 30-an Abad lebih dan sekitar misteri Candi Borobudur sebagai ‘arsy Ratu Saba’ yang dipindahkan Jin dalam semalam seperti diinspirasi oleh ayat Al-Qur’an terutama surah An-Naml.
Letak Bukit Stumbu di desa Karangrejo, skitar 2,5 Km sebelah barat daya Candi Borobudur, Magelang.
Secara metodologis, lontaran teori Stumbu DLA diatas didasarkan pada fakta-fakta ayat Al-Qur’an yang difahami secara simbolik berisi simbol-simbol matematis atas budaya penciptaan alam seisinya. Menurut FB yang lulusan Matematika MIPA UI tahun 1983, Dosen Matematika UIJ dan Dewan Pakar ICMI Jakarta Barat (2004) ini, terdapat tiga belas alasan mengapa Negeri Saba terletak di Indonesia dan bukan di Negeri Yaman seperti dipercaya ahli mufassir Al-Qur’an. Keseluruh bukti tentang Negeri Saba menurutnya bisa ditemui di Pulau Jawa, mengarah keberadaan Ratu Boko dengan Borobudur-nya.
Analisis khusus FB sejak tahun 1982 melahirkan beberapa buku seperti Matematika Al-Quran (2003) dan Sejuta Fenomena Al-Qur’an (2008). Ia menyimpulkan, pertama, bahwa penjelasan QS 27:22 tentang negeri Saba tidak ditemukan di Yaman, sedangkan bukti tersebut ditemukan di Pulau Jawa (Wana Saba). Sedang kedua, arti kata saba (sabun) tidak ditemukan nama Sabun di Yaman, sedang arti lain kata saba (hutan) juga tidak ditemukan disana. QS 27:24 ‘Untuk Saba pada tempat mereka ada ayat, dua hutan sebelah kanan dan kiri’.
Ketiga, kandungan ayat QS 27:24 ’…dan aku dapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari dari selain Allah’. Di dalam sejarah tak ditemukan sebuah tempat di Yaman yang masyarakatnya bersujud kepada matahari, sedangkan di Pulau Jawa berlokasi di Komplek Ratu Boko dengan beberapa bukti pendukung.
Keempat; Bukti itu seperti (27:40) adanya bangunan (’arsy) yang dipindahkan ke suatu Lembah berjarak terbang burung dalam waktu singkat. Tentang siapa yang memindahkan dan bagaimana dipindahkan, tafsir ayat tersebut mengisahkan yang memindah singgasana Ratu Saba adalah JINN IFRID selesai sebelum Nabi Sulaiman mengerlingkan mata. FB menerangkan, terdapat peran JINN dalam realisasi ruang waktu disini, bahwa makhluk ini memiliki syarat ilmiah memindahkan arsy Saba tersebut ke Lembah Semut. Berdasar hukum kecepatan cahaya, makhluk Jinn mampu dengan mudah dan super cepat memindahkan suatu bangunan. Diketahui peristiwa seperti ini bukan tidak pernah ada, bahkan terjadi pula di belahan bumi lain. Demikian pula relativitas pemahaman manusia akan membatasi kebenaran nash ini.
Kelima, menurut FB, lokasi kabar dalam QS 6:67 ada ditemukan sisa-sisa dan tandanya di Komplek Ratu Boko yang berjarak 36 Km dari Bukit Stumbu tenggara Borobudur. Di lembah Stumbu inilah arsy Saba tersebut dipindahkan sebagai kini dikisahkan RAKYAT (34:19) sebuah Candi BOKO dan Borobudur. Mereka kerjakan untuknya apa yang ia kehendaki dari gedung-gedung yang tinggi dan Patung-patung dan Piring-piring seperti kolam dan kuali-kuali yang tetap (34:13).
Keenam, ayat tentang SABA QS 34:16 ’dan sesuatu yang disebut Sidrin Qolil ’ masih ditemukan bukti sedikit itu pada Gerbang Ratu Boko dan Serpihan Stupa Candi Borobudur. Ayat ketujuh 34:16 ’…dengan dua kebun yang mempunyai rasa buah pahit’ bisa ditemukan Pulau Jawa. Makna buah Maja yang Pahit seperti ini lagi-lagi tidak ditemukan di Negeri Yaman, bagi teori yang menyebut lokasi sejarah SABA.
Kedelapan, peristiwa besar yang disebut dalam QS 34:16 tentang adanya BANJIR yang merubah peta dataran Asia dengan adanya Palung Sunda. Maka kami menjadikan mereka buah mulut dan kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Bukti kesembilan ini terdapat pada QS 34:19. Menurut FB, peristiwa banjir dahsyat tersaebut menyebabkan wilayah SABA hancur menjadi berpulau-pulau, belum pernah dalam sejarah kehancuran suatu negeri hingga menjadi lebih 17.000 pulau seperti Nusantara ini.
Kesepuluh, adanya catatan pembatasan pada perjalanan QS 34:18. Jarak perjalanan dimaksud sebatas kekuatan terbang ideal seekor Burung (Hud Hud) sepanjang 36 Km. Angka ini menurut FB merupakan bukti kesebelas keberadaan Saba di Jawa Tengah, merupakan jarak antara Komplek Ratu Boko sekarang dengan lokasi Candi Borobudur di Magelang.
Keduabelas, adanya surat Nabi Sulaiman (27:28) yang dibawa burung Hud Hud kepada Ratu Balkis, menurut FB tiada lain dicampakkan kaki-kaki burung tersebut di pelataran istana Boko yang disebutnya sebagai Sidril Qolil, kata ini dua kali ditemui di dalam Al-Qur’an.
Ketigabelas, adanya taabut peti wasiat. Menurut FB dalam ekspedisi diatas dari bunyi QS 27:29-30 ’Berkata Ratu Balqis: “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sungguh (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.’ Inilah beberapa pembuktian secuil kisah Nabi Sulaiman yang sampai kepada pemahaman bahwa Negeri Saba benar-benar terhubung kepada bangunan arsy di Jawa.
papa mimin akan tampilkan ayat2 yang berhubungan secara berurutan.
KEPANDAIAN-KEPANDAIAN YANG DIBERIKAN KEPADA DAUD A.S. DAN KEKUASAAN YANG DIBERIKAN KEPADA SULAIMAN A.S.
***34:10*** 10. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuk- nya,
***34:11*** 11. (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.
***34:12*** 12. Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)1236) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
1236).Maksudnya bila Sulaiman mengadakan perjalanan dari pagi sampai tengah hari maka jarak yang ditempuhnya sama dengan jarak perja- lanan unta yang cepat dalam sebulan. Begitu pula bila ia menga- dakan perjalanan dari tengah hari sampai sore, maka kecepatan- nya sama dengan perjalanan sebulan.
***34:13*** 13. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung- ku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.
***34:14*** 14. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.
KEINGKARAN KAUM SABA’ TERHADAP NIKMAT ALLAH DAN AKIBATNYA.
***34:15*** 15. Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.
***34:16*** 16. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar1237) dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr1238).
1237).Maksudnya: banjir besar yang disebabkan runtuhnya bendungan Ma’rib. 1238).”Pohon Atsl” ialah sejenis pohon cemara “pohon Sidr” ialah sejenis pohon bidara.
***34:17*** 17. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran me- reka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.
***34:18*** 18. Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berja- lanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman1239).
1239).Yang dimaksud dengan “negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya” ialah negeri yang berada di Syam, karena kesuburannya; dan negeri- negeri yang berdekatan ialah negeri-negeri antara Yaman dan Syam, sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesu- litan.
***34:19*** 19. Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami1240)”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancur- nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
1240).Yang dimaksud dengan permintaan ini ialah supaya kota-kota yang berdekatan itu dihapuskan, agar perjalanan menjadi panjang dan mereka dapat melakukan monopoli dalam perdagangan itu, sehingga keuntungan lebih besar.
***34:20*** 20. Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang- orang yang beriman.
***34:21*** 21. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidu- pan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.

3. AL KITAB
SAMA DENGAN AL QUR’AN DALAM PETUNJUK DAN BUKTI-BUKTI.
Kalau di Bible pada 2 Tawarikh 9 9:9 Maka diberikan permaisuri itu kepada baginda emas seratus dua puluh talenta dan amat banyak rempah-rempah dan permata yang indah-indah; maka belum pernah ada macam rempah-rempah seperti yang diberikan permaisuri Syeba itu kepada baginda raja Sulaiman.
9:10 Maka hamba Hiram serta dengan hamba Sulaiman yang membawa emas dari Ofir itu membawa kayu cendana dan permata yang indah-indahpun.
Rempah-rempah adalah hasil perkebunan di Indonesia, Cendana juga merupakan asli tanaman di Nusantara.

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.
Aamiin ya Rabbal’alamin

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

Silsilah Leluhur Jawadwipa

Silsilah Leluhur Jawadwipa

Sebenarnya pohon silsilah itu ada 3 (tiga) golongan
1. Sejarah silsilah manusia
2. Sejarah silsilah Banul Jan/ Al Yan Banul Yan, yg sama sekali tidak di ketahui manusia
3. Sejarah silsilah campuran (manusia dan Banul Jan/ Al Yan Banul Yan) inipun tidak banyak di ketahui kecuali dari NABI SITS AS saja

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

1. NABI ADAM AS (SANG HYANG JANMA WALIJAYA/ SANG HYANG ADHAMA) Usia 960 Tahun.
a. Pertama kali syariat sholat shubuh 2 rokaat di turunkan kepada nabi Adam As.
b. Menikah dengan Syaidatina HAWA ( SANG DEWI JANMA WANUJAYA/ SANG DEWI KAWAH-NYA)

2. NABI SITS As (SANG HYANG SYTA)
a. putra ke enam nabi adam As.
b. kelahirannya tidak melalui rahim Syaidatina HAWA Ra.
c.menerima 50 syahifah (Musyaf)
d. dia Berperang dan Membunuh QOBIL.
e. Usia Nabi SITS 900 Tahun.

3.SAYYID ANWAR (SANG HYANG NUR CAHYA) Yang Melahirkan Para DEWA.

menikah dengan:

DEWI NURINI BINTI PRABU NUR HADI BIN PRABU RAWANGIN BIN PRABU SANG HYANG MALIJA BIN SYANG HYANG BABAR BUANA BIN IZAJIL.

4. SANG HYANG NURASA

menikah dengan:

DEWI SARWATI BINTI PRABU RAWANGIN BIN PRABU SANG HYANG MALIJA BIN SANG HYANG BABAR BUANA BIN IZAJIL

mempunyai 3 anak:

a. SANG HYANG WENANG.
b.SANG HYANG WENING / DARMAJAKA ( Mendirikan Kerajaan Di Sri Langka)
c. SANG HYANG TAYA

5. SANG HYANG WENANG (SANG HYANG WISESA)

menikah dengan:

DEWI SAOTI BINTI PRABU HARI ( RAJA KELING INDIA) SANG HYANG KALINGGA PATI .

6. SANG HYANG TUNGGAL

Punya dua istri :

a. Istri pertama:

DEWI RAKTI BINTI SYANG HYANG SUYUD (RAJA JIN)

Punya 3 orang Anak yaitu:

1. SANG HYANG ANTAGA (TOGOG)
2. SANG HYANG ISMAYA (SEMAR).
3.SANG HYANG MANIK MAYA (BETARA GURU).

b. istri kedua:

DEWI DARMANI BINTI SANG HYANG DARMAJAKA BIN SYANG HYANG NURASA.

punya 3 orang anak:

1. SANG HYANG DARMA DEWA.
2. SANG HYANG DARMASTUTI.
3. SANG HYANG DEWANJALI.

7. SANG HYANG MANIK MAYA (BETARA GURU).

Punya 3 Istri Dan 10 Orang Anak:

a.menikah dengan DEWI UMA dan mempunyai 5 anak:

1. BATARA SAMBU.
2. BATARA BRAHMA (SRI MAHA PUNGGUNG/ DEWA BRAHMA
3. BATARA INDRA
4. BATARA BAYU
5. BATARA WISNU

b. Istri kedua dewi umayi (berputra 3 orang:

1. SANG HYANG GANESA.
2.SANG HYANG KUMARA/ SANG HYANG MAHA DEWA.
3. SANG HYANG ASMARA .

c. Istri ketiga DEWI ANJANI. Punya 1 Orang Putra:

SANG HANUMAN (KERA PUTIH YG SAKTI)
PUTRA YG LAIN ADALAH BATARA KALA YANG LAHIR TANPA IBU…

8. BATARA BRAMA/ SRIMAHAPUNGGUNG / DEWA BRAMA
MENIKAH DENGAN DEWI SARASWATI

9. BATARA SADANA (BRAHMANISITA)
menikah dengan DEWI SRI HUNON binti BATARA WISNU bin SANG HYANG GURU.

10. BATARA SATAPA (TRITUSTA)

11. BAMBANG PARIKANAN.

menikah dengan DEWI BRAMANEKI

12. RESI MANUMAYASA ( membangunpertapaan sapta arga/ Candi) bersama SEMAR (JANGGAN SEMARSANTA) dan PUTUT SUPALAWA

menikah dengan DEWI RETNAWATI

13. RESI SEKUTREM
menikah dengan DEWI NILAWATI

14. BAGAWAN SAKRI
menikah dengan dewi SATI binti PRABU PARTAWIJAYA

15. BAGAWAN PALASARA

a. menikah dengan DEWI DURGANDINI

b. menikah dengan DEWI KEKAJI

c. menikah dengan DEWI WATORI

16. BAGAWAN ABIYASA (Maha Raja Sanjaya, Rakai Mataram Prasasti Canggal 732)

17. PANDU DEWANATA (Prasasi Dinaya Gajayana 760)

18. DANANJAYA (R. Arjuna)

19. RADEN ABIMANYU

20. PRABU PARIKESIT

21. PRABU YUDAYANA

22. Prabu Yudayaka (Jaya Dharma)

23. Prabu Gendrayana

24. PRABU JAYA BAYA (Raja Kediri Yg Termasyur Dengan Jangka Jaya Baya)

25. Prabu Jaya Amijaya

26. Prabu Jaya Amisena

27. Raden Kusuma Wicitra

28. Raden Citra Suma

29. Raden Pancadriya

30. Raden Angling Dharma

31. Prabu Suwelacala

32. Prabu Sri Maha Punggung

33. Prabu Kandihawan (Jayalengkara)

34. Resi Gatayu

35. Resi Lembu Amiluhur

36. Raden Panji Asmara Bangun (Inu Kertapati)

37. Raden Kudalaweyan (Mahesa Tandreman)

38. Raden Banjaran Sri

39. Raden Munding Sari

40. Raden Munding Wangi

41. Raden Munding Pamekas

42. Raden Jaka Sesuruh (Raden Sangrama Wijaya) Majapahit 1

43. Prabu Trauma (Bhre Kumara)

44. Prabu Hardaningkung (Brawijaya 1)

45. Prabu Hayam Wuruk (Brawijaya 2)

46. Raden Putra (Brawijaya 3)

47. Prabu Partawijaya (Brawijaya 4)

48. RADEN ANGKAWIJAYA (DAMAR WULAN) BRAWIJAYA 5 MAJAPAHIT TERAHIR.

49. EYANG BETHORO KATHONG.

50. EYANG NDORO PRINGGO.

51. EYANG SEKAR PUTIH

Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku terma…suk orang-orang yang berserah diri”. (QS. 46:15)semua hakekatnnya adalah dari diri yg satu…Ya Allah sesungguh aku memiliki dua orang tua yg telah renta dan aku pun memiliki istri dan anak-anak kecil. Aku biasa menggembala kambing-kambing utk mereka. Apabila aku telah membawa pulang kambing-kambingku aku biasa memerah susu dan aku awali dgn memberikan minum kepada kedua orang tuaku sebelum memberikan kepada anak-anakku. Suatu ketika aku … Lihat Selengkapnyaterlalu jauh menggembala sehingga belum juga pulang sampai sore hari hingga kudapati mereka berdua telah tidur. mk aku pun memerah susu sebagaimana biasa. Kemudian aku datang membawa susu perahan itu dan berdiri di sisi kepala ayah ibuku. Aku tdk ingin membangunkan mereka berdua dari tidur dan aku pun tdk ingin memberi minum anak-anakku sebelum mereka berdua sementara anak-anakku menangis kelaparan di sisi kedua kakiku. Terus menerus demikian keadaanku dgn mereka hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwa aku lakukan semua itu utk mengharap wajah-Mu berikanlah jalan keluar dari batu itu hingga kami dapat melihat langit.”

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.(al ahqof 46.15).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(qs an naml 19:19).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.(al ahqof 46.15).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(qs an naml 19:19).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.(al ahqof 46.15).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(qs an naml 19:19).

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.(al ahqof 46.15)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(qs an naml 19:19).

Al-Kahfi:110
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

PERIODESASI WALI SONGO

PERIODESASI WALI SONGO

Mungkin Pembaca jarang menemukan rujukannya, dengan Artikel ini Pembaca akan menemukan Pencerahan yang sebagaimana yang Pembaca maksudkan…..!

 

Menurut buku Haul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Mohammad Dahlan, lebih lanjut menyatakan “Majelis Dakwah Yang Secara Umum Dinamakan Walisongo, Sebenarnya Terdiri Dari Beberapa Angkatan”. Para Walisongo tidak hidup pada saat yang persis bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, baik dalam ikatan darah atau karena pernikahan, maupun dalam hubungan guru-murid. Bila ada seorang anggota majelis yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya:

 

Periodesasi ke-1 (1404 – 1435 M), terdiri dari:

  1. Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419),
  2. Maulana Ishaq,
  3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro,
  4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
  5. Maulana Malik Isra’il (wafat 1435),
  6. Maulana Muhammad Ali Akbar (wafat 1435),
  7. Maulana Hasanuddin,
  8. Maulana ‘Aliyuddin, dan
  9. Syekh Subakir atau juga disebut Syaikh Muhammad Al-Baqir.

 

Periodesasi ke-2 (1435 – 1463 M), terdiri dari:

  1. Sunan Ampel yang tahun 1419 menggantikan Maulana Malik Ibrahim,
  2. Maulana Ishaq (wafat 1463),
  3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro,
  4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
  5. Sunan Kudus yang tahun 1435 menggantikan Maulana Malik Isra’il,
  6. Sunan Gunung Jati yang tahun 1435 menggantikan Maulana Muhammad Ali Akbar,
  7. Maulana Hasanuddin (wafat 1462),
  8. Maulana ‘Aliyuddin (wafat 1462), dan
  9. Syekh Subakir (wafat 1463).

 

Periodesasi ke-3 (1463 – 1466 M), terdiri dari:

  1. Sunan Ampel,
  2. Sunan Giri yang tahun 1463 menggantikan Maulana Ishaq,
  3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro (wafat 1465),
  4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi (wafat 1465),
  5. Sunan Kudus,
  6. Sunan Gunung Jati,
  7. Sunan Bonang yang tahun 1462 menggantikan Maulana Hasanuddin,
  8. Sunan Derajat yang tahun 1462 menggantikan Maulana ‘Aliyyuddin, dan
  9. Sunan Kalijaga yang tahun 1463 menggantikan Syaikh Subakir.

 

Periodesasi ke-4 (1466 – 1513 M, terdiri dari:

  1. Sunan Ampel (wafat 1481),
  2. Sunan Giri (wafat 1505),
  3. Raden Fattah yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Ahmad Jumadil Kubra,
  4. Fathullah Khan (Falatehan) yang pada tahun 1465 mengganti Maulana Muhammad Al-Maghrabi,
  5. Sunan Kudus,
  6. Sunan Gunung Jati,
  7. Sunan Bonang,
  8. Sunan Derajat, dan
  9. Sunan Kalijaga (wafat 1513).

 

Periodesasi ke-5 (1513 – 1533 M), terdiri dari :

  1. Syekh Siti Jenar yang tahun 1481 menggantikan Sunan Ampel (wafat 1517),
  2. Raden Faqih Sunan Ampel II yang ahun 1505 menggantikan kakak iparnya Sunan Giri,
  3. Raden Fattah (wafat 1518),
  4. Fathullah Khan (Falatehan),
  5. Sunan Kudus (wafat 1550),
  6. Sunan Gunung Jati,
  7. Sunan Bonang (wafat 1525),
  8. Sunan Derajat (wafat 1533), dan
  9. Sunan Muria yang tahun 1513 menggantikan ayahnya Sunan Kalijaga.

 

Periodesasi ke-6 (1533 – 1546 M), terdiri dari:

  1. Syekh Abdul Qahhar (Sunan Sedayu) yang ahun 1517 menggantikan ayahnya Syekh Siti Jenar,
  2. Raden Zainal Abidin Sunan Demak yang tahun 1540 menggantikan kakaknya Raden Faqih Sunan Ampel II,
  3. Sultan Trenggana yang tahun 1518 menggantikan ayahnya yaitu Raden Fattah,
  4. Fathullah Khan (wafat 1573),
  5. Sayyid Amir Hasan yang tahun 1550 menggantikan ayahnya Sunan Kudus,
  6. Sunan Gunung Jati (wafat 1569),
  7. Raden Husamuddin Sunan Lamongan yang tahun 1525 menggantikan kakaknya Sunan Bonang,
  8. Sunan Pakuan yang tahun 1533 menggantikan ayahnya Sunan Derajat, dan
  9. Sunan Muria (wafat 1551).

 

Periodesasi ke-7 (1546- 1591 M), terdiri dari:

  1. Syaikh Abdul Qahhar (wafat 1599),
  2. Sunan Prapen yang tahun 1570 menggantikan Raden Zainal Abidin Sunan Demak,
  3. Sunan Prawoto yang tahun 1546 menggantikan ayahnya Sultan Trenggana,
  4. Maulana Yusuf cucu Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1573 menggantikan pamannya Fathullah Khan,
  5. Sayyid Amir Hasan,
  6. Maulana Hasanuddin yang pada tahun 1569 menggantikan ayahnya Sunan Gunung Jati,
  7. Sunan Mojoagung yang tahun 1570 menggantikan Sunan Lamongan,
  8. Sunan Cendana yang tahun 1570 menggantikan kakeknya Sunan Pakuan, dan
  9. Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos) anak Sayyid Amir Hasan yang tahun 1551 menggantikan kakek dari pihak ibunya yaitu Sunan Muria.

 

Periodesasi ke-8 (1592- 1650 M), terdiri dari:

  1. Syaikh Abdul Qadir (Sunan Magelang) yang menggantikan Sunan Sedayu (wafat 1599),
  2. Baba Daud Ar-Rumi Al-Jawi yang tahun 1650 menggantikan gurunya Sunan Prapen,
  3. Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) yang tahun 1549 menggantikan Sultan Prawoto,
  4. Maulana Yusuf,
  5. Sayyid Amir Hasan,
  6. Maulana Hasanuddin,
  7. Syekh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani yang tahun 1650 menggantikan Sunan Mojoagung,
  8. Syekh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri yang tahun 1650 menggantikan Sunan Cendana, dan
  9. Sayyid Shaleh (Panembahan Pekaos).

 

Periodesasi ke 9, 1650 – 1750M, terdiri dari:

  1. Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan (tahun 1750 menggantikan Sunan Magelang)
  2. Syaikh Shihabuddin Al-Jawi (tahun 1749 menggantikan Baba Daud Ar-Rumi)
  3. Sayyid Yusuf Anggawi (Raden Pratanu Madura), Sumenep Madura (Menggantikan mertuanya, yaitu Sultan Hadiwijaya / Joko Tingkir)
  4. Syaikh Haji Abdur Rauf Al-Bantani, (tahun 1750 Menggantikan Maulana Yusuf, asal Cirebon )
  5. Syaikh Nawawi Al-Bantani. (1740 menggantikan Gurunya, yaitu Sayyid Amir Hasan bin Sunan Kudus)
  6. Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir ( tahun 1750 menggantikan buyutnya yaitu Maulana Hasanuddin)
  7. Sultan Abulmu’ali Ahmad (Tahun 1750 menggantikan Syaikh Syamsuddin Abdullah Al-Sumatrani)
  8. Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri
  9. Sayyid Ahmad Baidhawi Azmatkhan (tahun 1750 menggantikan ayahnya, Sayyid Shalih Panembahan Pekaos)

 

Periodesasi ke-10, 1751 – 1897 terdiri dari:

  1. Pangeran Diponegoro ( menggantikan gurunya, yaitu: Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan)
  2. Sentot Ali Basyah Prawirodirjo, (menggantikan Syaikh Shihabuddin Al-Jawi)
  3. Kyai Mojo, (Menggantikan Sayyid Yusuf Anggawi (Raden Pratanu Madura)
  4. Kyai Kasan Besari, (Menggantikan Syaikh Haji Abdur Rauf Al-Bantani)
  5. Syaikh Nawawi Al-Bantani. …
  6. Sultan Ageng Tirtayasa Abdul Fattah, (menggantikan kakeknya, yaitu Sultan Abulmufahir Muhammad Abdul Kadir)
  7. Pangeran Sadeli, (Menggantikan kakeknya yaitu: Sultan Abulmu’ali Ahmad)
  8. Sayyid Abdul Wahid Azmatkhan, Sumenep, Madura (Menggantikan Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas Al-Manduri)
  9. Sayyid Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek), Bangkalan, Madura, (Menggantikan kakeknya, yaitu: Sayyid Ahmad Baidhawi Azmatkhan)

 

Tahun 1830 – 1900 (Majelis Dakwah Wali Songo dibekukan oleh Kolonial Belanda, dan banyak para ulama’ dari didikan atau keturunan Wali Songo yang dipenjara dan dibunuh).

 

Semoga tulisan ini turut memberi pencerahan terkait dakwah yang di laksanakan majelis Wali Songo, Karena siapapun Mereka, pada hakekatnya telah menyebarkan ajaran Islam dan dari generasi ke generasi selalu memback-up dengan orang-orang yang Amanah.

 

Jika diantara para Waliyullah di atas ada silsilah garis keturunan dengan para Pembaca, maka beruntunglah Anda artinya Anda punya Alasan untuk meneruskan Dakwah mereka kepada Masyarakat, sesuai dengan kondisi Masyarakat Anda berada.. karena para wali songo dalam menjalankan da’wah selalu berbaur dengan hati masyarakat, untuk kemudian membimbing secara pelan-pelan.. dan tanpa terasa ribuan bahkan jutaan umat muslim telah berdiri dengan kokoh sendi sendi Iman, Islam dan Ihsannya.

 

 

Ya ALLAH…
Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
Lapangkanlah hatinya
Bahagiakanlah keluarganya
Luaskan rezekinya seluas lautan
Mudahkan segala urusannya
Kabulkan cita-citanya
Jauhkan dari segala Musibah
Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.

Aamiin ya Rabbal’alamin

 

Di Publikasikan Oleh:

 

 

 

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya

Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

PERINGATAN “SUGENG WARSA ENGGAL 2925 JAWI/ 1947 SAKA DAN MARHABBAN YA MUHARRAM1435 HIJRIYAH”

Dalam rangkah PERINGATAN “SUGENG WARSA ENGGAL 2925 JAWI/ 1947 SAKA DAN MARHABBAN YA MUHARRAM 1435 HIJRIYAH”, Yang di selenggarakan LP3BJ & ORMAS RAKET PRASAJA JAWA TIMUR, Di Jl. Kecipir Kelurahan Bumiayu Kec. Gadang, Kota Malang. Maka Kepada Para Santri & Jamaah Keluarga Besar Bengkel Akhlaq Padepokan Dzikir Dan Ta’lim Bumiaji Panatagama Bila Tidak Ada Udzur Syar’i Silakan Hadir Dalam Rangka Tholabul ‘Ilmi & Silaturrohim Dengan SegenapCivitas Anak Bangsa Yang Merasa Andar Beni Budaya Nusantara. Demikian Sekilas Info Yang Berfungsi Juga Sebagai Undangan. Terima Kasih Dan Selamat Beraktivitas Kepada Seluruh Santri Dan Jamaah Keluarga Besar Bengkel Akhlaq Padepokan Dzikir Dan Ta’lim Bumiaji Panatagama. Acara PERINGATAN “SUGENG WARSA ENGGAL 2925 JAWI/ 1947 SAKA DAN MARHABBAN YA MUHARRAM 1435 HIJRIYAH”, Yang di selenggarakan LP3BJ & ORMAS RAKET PRASAJA JAWA TIMUR, Di Jl. Kecipir Kelurahan Bumiayu Kec. Gadang, Kota Malang. Dilaksanakan Pada Tanggal 23 November 2013, Di Mulai Pukul 15.00 Wib – Pukul 01.30 Wib.

Di Publikasikan:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Umma, Dlo’if wal Faqiir

Serat Wulang Reh Putri

Serat Wulang Reh Putri

Serat Wulang Reh Putri adalah teks Jawa yang berbahasa dan beraksara Jawa serta berbentuk tembang macapat yang terdiri atas, pupuh Mijil (10 pada atau bait), Asmaradana (17 pada atau bait), Dhandhanggula (19 pada atau bait), dan Kinanthi (31 pada atau bait). Serat Wulang Reh Putri berisi nasihat dari Paku Buana X kepada para putri-putrinya tentang bagaimana sikap seorang wanita dalam mendampingi suami. Isi nasihat itu antara lain bahwa seorang istri harus selalu taat pada suami. Disebutkan bahwa suami itu bagaikan seorang raja, bila istri membuat kesalahan, suami berhak memberi hukuman. Istri harus selalu setia, penuh pengertian, menurut kehendak suami, dan selalu ceria dalam menghadapi suami meski hatinya sedang sedih. Berikut ini adalah suntingan teks “SERAT WULANG REH PUTRI” beserta terjemahannya.
Pupuh
M I J I L

1.
Ingsun nulis ing layang puniki / atembang pamiyos / awawarah wuruk ing wijile / marang sagung putraningsun estri / tingkahing akrami / suwita ing kakung //.
2.
Nora gampang babo wong alaki / luwih saking abot / kudu weruh ing tata titine / miwah cara-carane wong laki / lan wateke ugi / den awas den emut //
3.
Yen pawestri tan kena mbawani / tumindak sapakon / nadyan sireku putri arane / nora kena ngandelken sireki / yen putreng narpati / temah dadi lu p ut //
4.
Pituture raja Cina dhingin / iya luwih abot / pamuruke marang atmajane / Dewi Adaninggar duk ngunggahi / mring Sang Jayengmurti / angkate winuruk //
5.
Pan wekase banget wanti-wanti / mring putrane wadon / nanging Adaninggar tan angangge / mulane patine nora becik / pituture yogi / Prabu Cina luhung //
6.
Babo nini sira sun tuturi / prakara kang abot / rong prakara gedhene panggawe / ingkang dhingin parentah narpati / kapindhone laki / padha abotipun //
7.
Yen tiwasa wenang mbilaheni / panggawe kang roro / padha lawan angguguru lire / kang meruhken salameting pati / ratu lawan laki / padha tindakipun //
8.
Wadya bala pan kak ing narpati / wadon khak ing bojo / pan kawasa barang pratikele / asiyasat miwah anatrapi / Sapra- tingkahneki / luput wenang ngukum //.
9.
Sapolahe yen wong amrih becik / den amrih karaos / pon-ponane kapoka ing tembe / nora kena anak lawan rabi / luput ngapureki / tan wande anempuh //.
10.
Amung bala wenang ngapureki / polahe kang awon / beda lawan rabi ing lekase / pan mangkono nini wong ngakrami / apaitan eling / amrih asmareng kung //

Pupuh
ASMARANDANA

1.
Pratikele wong akrami / dudu brana dudu rupa / amung ati paitane / luput pisan kena pisan / yen gampang luwih gampang / yen angel-angel kelangkung / tan kena tinambak arta // .
2.
Tan kena tinambak warni / uger-ugere wong krama / kudu eling paitane / eling kawiseseng priya / ora kena sembrana / kurang titi kurang emut / iku luput ngambra-ambra //
3.
Wong lali rehing akrami / wong kurang titi agesang / Wus wenang ingaran pedhot / titi iku katemenan / tumancep aneng manah / yen wis ilang temenipun / ilang namaning akrama //
4.
Iku wajib kang rinukti / apan jenenging wanita / kudu eling paitane / eling kareh ing wong lanang / dadi eling parentah / nastiti wus duwekipun / yen ilang titine liwar //
5.
Pedhot liwaring pawestri / tan ngamungken wong azina /ya kang ilang nastitine / wong pedhot dherodhot bedhot / datan mangan ing ngarah / pratandhane nora emut / yen laki paitan manah //
6.
Dosa lahir dosa batin / ati ugering manungsa / yen tan pi nantheng ciptane / iku atine binubrah / tan wurung karusakan / owah ing ati tan emut / yen ati ratuning badan //
7.
Badan iki mapan darmi / nglakoni osiking manah / yen ati ilang elinge / ilang jenenging manungsa / yen manungsane ilang / amung rusak kang tinemu / tangeh manggiha raharja //
8.
Iku wong durjana batin/ uripe nora rumangsa / lamun ana nitahake / pagene nora kareksa / ugere wong ngagesang / teka kudu sasar susur / wong lali kaisen setan //
9.
Ora eling wong aurip / uger-uger aneng manah / wong mikir marang uripe / ora ngendhaleni manah / anjarag kudu rusak / kasusu kagedhen angkuh / kena ginodha ing setan //
10.
Pan wus panggawening eblis/yen ana wong lali bungah / setane njoged angleter / yen ana wong lengus lanas / iku den aku kadang / tan wruh dadalan rahayu / tinuntun panggawe setan //
11.
Wong nora wruh maring sisip/ iku sajinis lan setan / kasusu manah gumedhe / tan wruh yen padha tinitah / iku wong tanpa tekad / pan wus wateke wong lengus / ambuwang ugering tekad //
12.
Iku nini dipunelin /lamun sira tinampanan / marang Sang Jayengpalugon / ya garwane loro ika / putri teka Karsinah / iya siji putri Kanjun / aja sira duwe cipta //
13.
Maru nira loro nini /nadyan padha anak raja / uger gedhe namaning ngong / lan asugih ratu cina / parangakik Karsinah / rangkepa karatonipun / maksih sugih ratu Cina //
14.
Budi kang mangkono nini / buwangen aja kanggonan / mung nganggowa andhap asor / karya rahayuning badan / den kapara memelas / budi ingkang dhingin iku / wong ladak anemu rusak //
15.
Yen bisa sira susupi / tan kena ginawe ala / yen kalakon andhap asor / yen marumu duwe cipta /ala yekti tan teka / andhap asorira iku / kang rumeksa badanira //
16.
Lamun sira lengus nini / miwah yen anganggo lanas/ dadi nini sira dhewe / angrusak mring badanira /marumu loro ika / sun watara Jayengsastru / dadi tyase loro pisan //
17.
Telas pituturireki / mring putra Sang Prabu Cina / prayoga tiniru mangke /marang sakehing wanodya / iki pituturira / ing Tarnite Sang Aprabu / Geniyara gula drawa //

Pupuh
DHANDHANGGULA

1.
Lenggah madyeng pandhapa Sang Aji / lan kang garwa munggwing nging dhadhampar / panganten estri kalihe / munggwing ngarsa Sang Prabu / duk wineling kang putra kalih / winuruk ing masalah / angladosi kakung / Prabu Tarnite ngandika / anak ingsun babo den angati-ati / abagus lakinira //
2.
Suteng nata prajurit sinekti / tur kinondhang Sang Prabu Jenggala / amumpuni sarjanane / ing pramudita kasub / wicaksana alus ing budi / prawira mandraguna / prakoseng dibya nung / ratu abala kakadang / amepeki musthikane wong sabumi / taruna nateng Jawa //
3.
Marma babo dibegjanireki / sinaruwe mring prabu Jenggala / pira-pira ing maripe / ing Jawa nggoning semu / wit sasmita wingiting janmi / babo dipangupaya/wiweka weh sadu / mungguhing paniti krama / wong alaki tadhah sakarsaning laki / padhanen lan jawata //
4.
Nistha madya utama den eling/utamane babo wong akrama / jawata nekseni kabeh / pan ana kang tiniru / Putri Adi Manggada nguni / wido dari kungkulan / ing sawarnanipun / lan sinung cahya murwendah / Citrawati sinembah ing wido dari / Putri Adimanggada //
5.
Garwanira rajeng Mahespati / Sri Mahaprabu Harjuna Sasra / tinarimeng Batharane / dennya ngugung mring kakung / mila prabu ing Mahespati / katekan garwa dhomas / saking garwanipun / putri Manggada kang ngajap / sugih maru akeh putri ayu luwih / yen ana kinasihan //
6.
Mring kang raka Prabu Mahespati / Putri Manggada sigra anyandhak / kinadang-kadang yektine / jinalukaken wuwuh / ing sihira kang raka aji / pan kinarya sor-soran / kang raka anurut / dadya sor-soran sakawan / Citrawati saking panjunjungireki / tinurut dening raka //
7.
Lega ing tyas anrus ing wiyati / murtining priya putri Manggada / limpat grahitane sareh / iku yogya tiniru / Citrawati guruning estri / nini iku utama / suwita ing kakung / tan ngarantes pasrah jiwa / raga nadyan anetep den irih-irih / ing raka tan lenggana //
8.
Nora beda nini jaman mangkin / ingkang dadituladan utama / putri Manggada anggepe / suraweyan Sang Prabu / manthuk- manthuk atudhang- tudhing/ putra kalih gung nembah /ing rama Sang Prabu /poma nini dipun awas / pan wano dyaden cadhang karsaning laki / den bisa nuju karsa //
9.
Aja rengu ing netra den aris / angandika Prabu Geniyara / tan kapirsan andikane / mung solah kang kadulu /heh ta nini madyaning krami / sumangga ing sakarsa / tan darbe pakewuh / manut sakarsaning raka / Citrawati waskitha solahing laki / mila legawa tama //
10.
Nisthaning krama sawaleng batin / ing lahire nadyan lastari ya / ing wuri sumpeg manahe / ing pangarepan nyatur / nora wani mangke ing wuri / tyase agarundhelan / mongkok-mongkok mungkuk/ ing batin ajape ala / iya aja ana wadon kang den sihi / ngamungna ingsun dhawak //
11.
Tan kawetu mung ciptaneng batin / nisthanira tan wus saking driya / durjana iku ambege / pasthi den bubuk mumuk / bumi langit padha nekseni / nalutuh ing sajagad / dosane gendhukur / wido dari akeh ewa / ing delahan ing nraka den engis-engis / ing widodari kathah //
12.
Lamun nini nira den pasrahi / raja brana ing priya den angkah / branane wus den wehake /sayekti duwekingsu/ iku anggep wong trahiyoli / luwih nisthaning nistha / pakematan agung /dudu anggepe wong krama / baberan duba ruwun setan kaeksi / dudu si pating jalma //
13.
Setan kere pan anggawa lading / thethel–thethel balung wus binuwang / jejenising jagad kabeh / bebete wong anglindur/ tanpa niyat duwe pakarti / buru karep kewala / mring darbeking kakung / sanadyan pepegatana / duwek iku jer wus dadi duwek mami / jer ingsun wus digarap //
14.
Yeku budi satus trahiyoli / papalanyahan murka anungsang / nyilakani ing tanggane / lakon pitung panguwuh / ing tanggane kang denulari / aja na sasandhingan / wong mangkono iku / yekti kasrengat cilaka / bonggas gawe asandhing wong kena pidhir / reregede sajagad //
15.
Gawe kurang ambiyanireki /lah usungen dunya ing Mekasar / mung aja amurang bae / aja toleh maring / anggegawa regeding ati / lamun sira anyipta / yen atmajeng ratu / dadi gungan ing tyasira / wong akrama katon wong tuwanireki / anggandelaken ala //
16.
Ing akrama estri dadi adi / wus tinitah ing Suksma Kawekas /wus mangkana titikane/karsaning bathara gung / pangulahing hyang Hudipati / yen ana kang anerak / wong mopo ing tuduh / Bathara Suksma Kawekas / babendhu manungsa kang den upatani / dadi warit sakala //
17.
Saya lamun di suka ing Widhi / dadi manggih apureng delahan / kalamun den ingu bae / di sukana ing besuk / yeku ingkang ambab ayani / tanpa dadi delahan / yen mangkono kontang / poma nini den suwita / marang laki yen sira ginawa benjing / mulih mring lakinira //
18.
Sampun telas pitutur sang Aji / ing Tarnite Prabu Geniyara / sri atmaja kakalihe / pan prakara satuhu / yen tiruwa pasthi abecik / aja dumeh wong Buda / kang duwe pitutur / kaya sang raja ing Cina / aja dumeh-dumeh / kalamun wong kapir / tur majusi kapirnya //
19.
Nanging pitutur apan prayogi / mapan pirit pinet ing sarapat / lan kadis Rosulullohe / eklasna putraningsun / didimena raharjeng krami / nyuwargakken wong tuwa sira yen mituhu / marang wuruke si bapa / apan ana tatandhane ingkang becik / anganthia kang raharja //

Pupuh
KINANTHI

1.
Dene ta pitutur ingsun / marang putraningsun estri / den eling ing aranira / sira pan ingaran putri / puniku putri kang nyata / tri tetelu tegesneki //.
2.
Bekti nastiti ing kakung / kaping telune awedi / lahir batin aja esah / anglakoni satuhuning / laki ciptanen bendara / mapan wong wadon puniki //
3.
Wajib manut marang kakung / aja uga amapaki / marang karepe wong lanang / sanadyan atmajeng aji / alakiya panakawan / sayekti wajib ngabekti //
4.
Kalamun wong wadon iku / angrasa mengku mring laki / ing batine amarentah / rumangsa menang mring laki / nora rumangsa wanodya / puniku wataking laki //
5.
Iku wong wadon kepahung / bingung bintang kena wening / tan wurung dadi ranjapan / ing dunya tuwin ing akhir / dadi intiping naraka / kalabang lan kalajengking //
6.
Ingkang dadi kasuripan / sajroning naraka benjing / iku wong wadon candhala / iku tan bisa merangi / ing nepsu kala hawa / amarah kang den tutwuri //
7.
Iku poma putraningsun / anggonen pitutur iki / den wedi ing kakung nira / aja dumeh suteng aji / yen sira nora bektiya / ing laki tan wande ugi //
8.
Anggagawa rama ibu / kurang pamuruking siwi / iku terkaning ngakathah / apan esaningsun iki / marang Allohu Tangala / miwah ing Rosullullahi //
9.
Sakabehe anak ingsun / pawestri kang kanggo laki / kinasihan ing kang priya / pan padha bektiya laki / padha lakinya sapisan / dipun kongsi nini-nini //
10.
Maksih angladeni kakung / sartaa dipun welasi / angoyoda arondhowa / warege amomong siwi / lan nini pitutur ingwang / estokna ing lahir batin //
11.
Lawan ana kojah ingsun / saking eyangira swargi / pawestri iku elinga / lamun ginawan dariji / lilima punika ana / arane sawiji-wiji //
12.
Jajempol ingkang rumuhun / panuduh ingkang ping kalih / panunggul kang kaping tiga / kaping pat dariji manis / kaping gangsale punika / ing wekasan pan jajenthik //
13.
Kawruha sakarsanipun / mungguh pasmoning Hyang Widhi / den kaya pol manahira / yen ana karsane laki / tegese pol kang den gampang / sabarang karsaning laki //
14.
Mila ginawan panuduh / aja sira kumawani / anikel tuduhing priya / ing satuduh anglakoni / dene panunggul suweda / iku sasmitaning ugi //
15.
Priyanta karyanen tangsul / miwah lamun apaparing / sira uga unggulena / sanadyan amung sathithik / wajib sira ngungkulena / mring guna kayaning laki //
16.
Marmane sira punika / ginawan dariji manis / dipun manis ulatira / yen ana karsaning laki / apa dene yen angucap / ing wacana kudu manis //
17.
Aja dosa ambasengut /nora maregaken ati / ing netra sumringah / sanadyan rengu ing batin / yen ana karsaningpriya / buwangen aja na kari //
18.
Marmane ginawan iku / iya dariji jajenthik / dipun angthag akethikan / yen ana karsaning laki / karepe kathah thik-thikan / den tarampil barang kardi //
19.
Lamun angladasi kakung / den keba nanging den ririh / aja kebat gerobyagan / dreg-dregan sarya cicincing / apan iku kebat nistha / pan rada ngose ing batin //
20.
Poma-poma wekasingsun / marang putraningsun estri / muga padha den anggowa / wuruke si bapa iki / yen den lakoni sadaya / iba saiba ta nini //
21.
Si bapa ingkang ananggung / yen den anggowa kang weling / wus pasthi amanggih mulya / ing donya tuwin ing akhir / lan aja manah anyimpang / dipun tumemen ing laki //
22.
Den maruwa patang puluh / tyasira aja gumingsir / lahir batin aja owah / angladeni marang laki / malah sira upayakna / wong wadon kang becik-becik //
23.
Parawan kang ayu-ayu / sira caosna ing laki / mangkono patrape uga / ngawruhi karsaning laki / pasthi dadi ing katresnan / yen wong lanang den tututi //
24.
Yen wong wadon nora angsung / bojone duweya selir / mimah lumuh den wayuh / iku wong wadon penyakit / nora weruh tata karma / daliling Qur’an mastani //
25.
Papadhane asu bunting / celeng kobong pamaneki / nora pantes pinecakan / nora wurung mamarahi / den doh sapitung pandahat / aja anedya pinikir //
26.
Kaya kang mangkono iku / balik kang dipun nastiti / marang wuruke si bapa / darapon manggih basuki / kayata yen maca layang / tingkahing wanodya adi //
27.
Pagene ta nedya tiru / kalawan ewa pawestri / kang kinasihan ing priya / apa pawestri parunji / miwah ta estri candhala / apa nora kedhah-kedhih //
28.
Ingkang kinasihan kakung / kabeh pawestri kang bekti / kang nastiti marang priya / dene estri kang parunji / candhala pan nora nana / den kasihi marang laki //
29.
Malah ta kerep ginebug / dadine wong wadon iki / tanpa gawe maca layang / tan gelem niru kang becik / mulane ta putraningwang / poma-poma dipun eling //
30.
Marang ing pitutur ingsun / muga ta Hyang Maha Suci / netepana elingira / marang panggawe kang becik / didohna panggawe ala / siyasiya kang tan becik //
31.
Titi tamat layang wuruk / marang putraningsun estri / Kemis Pon ping pitu sura / Kuningan Be kang gumanti / esa guna swareng nata / Sancaya hastha pan maksih /

Terjemahan Teks
PUPUH
M I J I L

1.
Saya menulis karya ini, dalam bentuk tembang, memberikan petuah dalam bentuk (tembang) mijil, kepada seluruh anak perempuan saya, (tentang) tata krama dalam perkawinan, mengabdi kepada suami.
2.
Tidak mudah orang bersuami, sangat berat, harus tahu aturan, juga harus tahu cara-cara orang bersuami, dan juga watak (lelaki), waspadalah dan ingatlah.
3.
Wanita jangan mendahului kehendak suami, berbuat semaunya (asal perintah) meskipun kamu itu putri, kamu jangan menonjolkan kalau putra raja, akhirnya tidak baik.
4.
Nasihat ratu Cina ini, sangatlah berharga, nasehat yang diajarkan kepada anaknya, Dewi Adaninggar ketika melamar, Sang Jayengmurti, ketika berangkat (dinasihati).
5.
Pesannya dengan bersungguh-sungguh, kepada putra perempuannya, namun Adaninggar tidak mengindahkannya, maka kematiannya tidak baik, ajaran kebaikan, Prabu Cina yang luhur.
6.
Engkau anak perempuanku, saya menasihati, perkara yang berat, dua perkara yang besar, yaitu: yang pertama perintah raja, yang kedua suami, sama beratnya.
7.
Kalau salah dapat berbahaya, dua perbuatan, artinya sama dengan berguru, yang menunjukkan keselamatan, kematian, raja sama dengan lelaki, (sama perbuatannya).
8.
Jika prajurit hak raja, perempuan hak suami, sangat kuat pengaruhnya, siasat maupun tindakannya, dan segala tindakannya, salah bisa dihukum.
9.
Segala tingkah lakunya, jika orang itu menuju kebaikan, supaya dirasakan tujuannya, kalau suami tidak memberi maaf, kelak istri dan anak akan melakukan perbuatan yang tidak baik.
10.
Hanya prajurit yang, bertingkah laku salah, berbeda dengan istri yang tidak bisa dimaafkan, memberi maaf itu keliru,anak istri akan melakukan perbuatan tidak baik, jadi harus eling, dan cinta kasih.

PUPUH
ASMARANDANA

1.
Bekal orang menikah, bukan harta bukan pula kecantikan, hanya berbekal hati (cinta), sekali gagal, gagallah, jika mudah terasakan amat mudah, jika sulit terasakan amat sulit, uang tidak menjadi andalannya.
2.
Tidak bisa dibayar dengan rupa, syarat-syarat orang berumah tangga, harus diingat modalnya, ingat kekuasaan laki-laki, tidak boleh seenaknya, kurang berhati-hati dan kurang waspada, kesalahan yang berlebihan.
3.
Orang yang lupa aturan berumahtangga, orang yang kurang berhati-hati dalam hidupnya, dapat dikatakan sudah rusak, teliti itu artinya bersungguh-sungguh, meresap dalam hati, jika sudah hilang ketelitiannya, hilang nama baik berumah tangga.
4.
Itu kewajiban yang harus dipelihara, karena hanya wanita, harus bermodalkan eling, ingat akan wewenang laki-laki, jadi ingat perintah, berhati-hati sudah menjadi miliknya, apabila tidak berhati-hati maka rusaklah.
5.
Perempuan yang rusak, tidak hanya pada orang berzina, termasuk orang yang tidak berhati-hati (tidak teliti), dinamakan “bejat” moralnya, tidak mengenal arah, pertanda tidak ingat, bahwa berumah tangga bermodalkan hati.
6.
Dosa lahir dan batin, hati menjadi pedoman, jika tidak khusuk ciptanya, pertanda hatinya kacau, bisa menyebabkan kerusakan, berubahnya hati karena tidak ingat, kalau hati itu rajanya badan.
7.
Badan adalah hanya sekadar pelaksana geraknya hati, melaksanakan kemauan hati, jika hati hilang kesadarannya, hilang sifat kemanusiaannya, apabila sifat kemanusiaannya hilang, hanya kerusakan yang didapatkan, tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan.
8.
Itu orang yang jahat, tidak menyadari hidupnya, bahwa hidupnya ada yang mencipta, mengapa tidak dirawat, syaratnya orang hidup, jangan sampai salah langkah, orang yang lupa menjadi prbuatan setan.
9.
Tidak ingat tentang kehidupan, berpedoman pada hati, orang yang mengelak terhadap kehidupan, tidak mengendalikan hati, sengaja ingin merusak, terburuburu tingi hati (sombong), terkena godaan setan.
10.
Memang sudah menjadi perbuatan iblis, jika ada orang lupa menjadi senang, setan menari-nari dengan gembira, jika ada orang pemarah, itu dianggap saudara, tidak melihat jalan kebenaran, mengarah kepada pekerjaan setan.
11.
Orang yang tidak melihat akan kesalahan, itu sejenis dengan setan, tergesa-gesa menjadi tinggi hati, tidak tahu sama-sama dititahkan (diciptakan), itu orang yang tidak berpendirian, sudah menjadi watak orang pemarah, membuang pedoman yang menjadi dasar pedoman tersebut.
12.
Itulah anakku ingatlah, apabila engkau diterima, oleh Sang Jayengpalugon, yang istrinya dua itu, putrinya Karsinah, yang satunya putri Kanjun, janganlah engkau punya pikiran.
13.
Madumu dua orang itu, walaupun sama-sama anak raja, asal besar namaku, dan raja Cina lebih kaya, Parangakik Karsinah, walaupun rangkap kerajaannya, masih lebih kaya ratu Cina.
14.
Budi yang demikian itu anakku, buanglah jangan sampai kau miliki, gunakanlah rasa rendah hati, untuk keselamatan diri, berbuatlah agar dikasihi, budi yang pertama tadi, orang pemarah (sombong) akan berakibat celaka.
15.
Jika bisa engkau mengerti, tidak dapat dibuat jelek, jika berbuat rendah hati, jika madumu mempunyai niat jelek, pasti tidak akan terlaksana, sebab sikapmu yang rendah hati, yang telah bersemayam dalam badanmu.
16.
Namun, jika engkau sombong anakku, lebih-lebih jika “galak”, menjadikan dirimu, merusak badanmu sendiri, kedua madumu itu, ibaratnya “jayeng satru”, keduanya jadi perhatian.
17.
Nasihatnya telah selesai, kepada putra Sang Prabu Cina, sebaiknya kelak menjadi teladan, untuk semua wanita, ini nasihatnya, Sang Prabu di Ternate, Geniyara beralih pada pupuh dhandhanggula.

PUPUH
DHANDHANGGULA

1.
Sang raja duduk di tengah pendopo, dan sang istri berada di singgasana, kedua mempelai putri, berada di depan sang raja, kedua putrinya diberi pesan, diajarkan suatu hal, tentang melayani suami, Raja Ternate berkata, “anakku, berhatihatilah!, baik-baiklah pada suami”.
2.
Putra raja prajurit sakti, dan dikenal oleh Sang Prabu Jenggala, memiliki banyak kepandaian, akan kesenangan dan kemashuran, bijaksana dan berbudi halus, perwira yang agung (perkasa), kuat badannya, raja bertentara sanak saudara, mendekati keindahan orang sedunia, raja muda di Jawa.
3.
Bahwa keberuntungan itu, diperhatikan oleh Raja Jenggala, berapa banyak saudara ipar, di Jawa tempat tersamar, dan isyarat juga sampai di luar, berusaha memimpin, berhati-hati pada orang suci, bahwa di dalam ajaran tata krama, orang berumah tangga hendaknya menurut laki-laki, samakanlah dengan dewa.
4.
(orang) rendah, sedang, dan utama, ingatlah, terutama orang berumah tangga, semua dewa menyaksikan, bukankah ada yang ditiru, putri cantik dari Adimanggada, melebihi bidadari, dari segala warna, dan diberi sinar keutamaan yang indah, Citrawati disembah oleh bidadari, putri cantik Adimanggada.
5.
Istri raja Mahespati, Sri Mahaprabu Harjunasasra, diterima oleh dewa, karena menyanjung suaminya, karena itu raja Maespati, mendapat putri delapan ratus, dari istrinya, putri Magada menginginkan, memiliki madu yang banyak dan cantik-cantik, apabila ada yang dikasihi.
6.
Oleh suaminya raja Mahespati, putri Manggada segera mengambilnya, sebagai saudara kandungnya, dimintakan tambah, kasih sayang suaminya, dikerjakannya terus menerus, maka suami akan menurut, menjadi teman selamanya, usaha Dewi Citrawati, diturut oleh suaminya.
7.
Lega dan terangnya hati tak terhingga, pikiran yang dimiliki oleh putri Manggada, pandai dan berperasaan kepada orang lain, itu baik untuk ditiru, Citrawati sebagai guru wanita, anakku itu utama, mengabdi kepada suami, tidak merana menyerahkan jiwa, apabila raja dilindungi, dikasihi, yang tak terduga oleh suami.
8.
Tidak berbeda dengan zaman yang akan datang, yang menjadi teladan, hanya putri Manggada yang dipercaya, sang raja asyik, mengangguk-angguk dan menunjuk, kedua putrinya menghaturkan sembah, kepada ayahnya. “Anakku, waspadalah, bukankah wanita itu menerima segala kehendak suami”, dapatlah mengerti kemauannya.
9.
Jangan ragu-ragu dalam memandang, sang raja Geniyara berkata, tidak terdengar kata-katanya, hanya gerak-gerik yang terlihat, bahwa di dalam berumah tangga, pasrah pada kehendak (suami), tidak memiliki rasa sungkan, menurut kehendak suami, Citrawati memahami gerak hatinya, maka berada dalam keutamaan.
10.
Hal yang nistha di dalam batin, walaupun akan lestari, pada akhirnya hatinya bingung, di depan berkata, di belakang tidak berani, di dalam hati mengeluh, di dalam hati berniat tidak baik, jangan sampai wanita yang dikasihi, hanya memikirkan diri sendiri saja.
11.
Hanya dipikirkan di dalam hati, kejelekan orang itu tidak selamanya melekat di hati, orang jahat itu menganggap pasti itu penyakit bodoh, bumi dan langit menyaksikan, kotoran di dunia, dosanya bertumpuk, semua bidadari tidak senang, kelak masuk neraka dan diperolok-olok, oleh bidadari-bidadari.
12.
Namun, anakku jika engkau diberi, harta benda oleh suamimu berhati-hatilah, hartanya sudah diserahkan, hakikatnya kepunyaanmu, itu dianggap orang jahanam, lebih daripada hina, tukang sihir besar, bukan dianggap orang berumah tangga, menabur dupa dan setan menari-nari, bukan sifat makhluk (manusia).
13.
Setan berkeliaran membawa pisau, mengambil tulang yang sudah dibuang, mengotori seluruh dunia, perbuatan orang mengigau, tidak berniat memiliki perbuatan, mengejar kenyang saja, akan harta milik suami, walaupun terjadi perceraian, milikmu sudah menjadi milikku, sebab (saya) sudah diperistri.
14.
Yaitu budinya seratus jahanam, orang yang acak-acakan, membuat celaka tetangga, kotoran berlipat tujuh, tetangga ditulari, jangan didekati, orang seperti itu, pasti akan terkena kejelekannya, tidak ada gunanya berdekatan dengan orang sesat, kotoran sedunia.
15.
Ambillah harta dari Makasar, hanya jangan melanggar kehormatan, jangan mengingat ayahmu, akan membawa kotor hati, apabila berpendapat, bahwa engkau putra raja, menjadi kebanggaan hatimu, orang berumah tangga terlihat oleh orang tua itu, mempertebal/memperbesar kejelekan.
16.
Dalam rumah tangga wanita menjadi terhormat, yang diciptakan oleh Suksma Kawekas, itu sudah pertanda, kehendak Bathara Yang Maha Tinggi, kehendak Hyang Hutipati, jika ada yang menerjang, orang yang tidak mengindahkan petunjuk, Bathara Suksma Kawekas, semoga dihukum disumpah, menjadi “cacing” seketika.
17.
Semakin lama disukai Yang Maha Kuasa, kelak jadilah pemaaf, jika disimpan saja, kena marah nantinya, itu yang berbahaya, tidak akan berhasil nantinya, apabila demikian peruntungannya, maka dari itu anakku dapatlah mengabdi, kepada suami jika kamu dibawa nanti, kembali kepada suamimu.
18.
Sudah selesai nasihat sang raja, Raja Geniyara dari Ternate, kepada kedua putrinya, perkara yang sangat baik, jika ditiru baik manfaatnya, jangan merasa orang “buda”, yang memiliki ajaran, seperti Raja Cina, jangan merasa bahwa kafir itu segalanya, apabila kafirnya orang Mejusi.
19.
Tetapi ini ajaran (nasihat) yang baik, makna yang dikandungnya baik untuk diambil, dan hadis Rasulullah, ikhlaskan anakku, agar bahagia dalam berumah tangga, menjunjung nama orang tua, jika kamu turuti, ajaran (nasihat) ayahmu, berada dalam tanda/alamat yang baik, ajakan menuju kebahagiaan.

PUPUH
KINANTHI

1.
Bahwa ajaranku (nasihatku), kepada anak perempuanku, agar ingat akan namamu, engkau disebut putri, itu putri yang sejati, tiga, ketiganya ini maksudnya.
2.
Bebakti dan cermat kepada suami, yang ketiga takut, lahir batin jangan mengeluh, melaksanakan yang satu, jadikanlah suamimu orang terhormat, bukankah perempuan itu.
3.
Wajib menurut kepada suami, jangan menghalang-halangi, akan kehendaksuami, walaupun putra raja, mengabdilah kepada suami, harus benar-benar berbakti.
4.
Apabila wanita itu, merasa menguasai laki-laki, dalam batinnya memerintah, merasa menang dengan suami, tidak merasa sebagai wanita, itu wataknya laki-laki.
5.
Wanita jahat, bingung hatinya, tidak urung menjadi orang tercela, di dunia hingga akhirat, menjadi dasar neraka, kelabang dan kalajengking.
6.
Yang menjadi alasnya, di neraka kelak, itu wanita tercela, yang tidak dapat mengendalikan, hawa nafsu, amarah yang diikuti.
7.
Inilah anakku, pakailah ajaran ini, takutlah kepada suami, jangan merasa takabur (sombong) sebagai putri raja, jika engkau tidak berbakti, kepada suami tidak urung juga
8.
Membawa bapak ibu, kurang memberikan petuah pada anak, itu prasangka orang banyak, permintaanku ini, kepada Allah Taala, dan kepada Rasulullah.
9.
Semua putraku, yang putri terpakailah oleh suami, semoga dikasihi oleh suami, dan berbaktilah kepada suami, bersuamilah sekali saja, mudah-mudahan sampai neneknenek.
10.
Tataplah melayani suami, serta dikasihi, dapatlah memberikan keteduhan, semoga puas mengasuh anak, dan nasihatku kepadamu, hendaknya ditaati lahir dan batin.
11.
Dan ada pesan, dari mendiang kakekmu, ingatlah bahwa perempuan itu, dibekali jari, kelimanya itu ada, apabila dirinci mempunyai arti.
12.
Ibu jari yang pertama, telunjuk yang kedua, jari tengah yang ketiga, keempat jari manis, yang kelima itu, yang terakhir adalah kelingking.
13.
Ketahuilah maksudnya, isyarat Hyang Widhi, ibaratnya sepenuh hati, jika ada kehendak suami, arti yang mudah sepenuh hati, segala kehendak suami.
14.
Maka engkau dibekali telunjuk, janganlah engkau berani, apabila suamimenunjukkan, cepatlah melaksanakan, dengan jari tengahmu, itu juga isyarat.
15.
Suamimu jadikanlah pengikat, dan apabila memberikan sesuatu, kepadamu junjunglah, walaupun hanya sedikit, engkau wajib menjunjung, akan penghasilan suami.
16.
Maksudnya engkau, dibekali jari manis, buatlah “manis” roman mukamu, jika berada di depan suami, apabila jika bicara, pergunakanlah kata-kata yang manis.
17.
Janganlah pemarah dan bermuka masam, itu tidak menarik hati, roman muka dibuat gembira, walaupun sedang kesal hatinya, jika berada di depan suami, buanglah jangan sampai ketinggalan.
18.
Oleh karena itu dibekali, juga jari kelingking, ditimbang-timbang, jika ada kemauan suami, maksud ditimbang-timbang adalah, agar terampil dalam bekerja.
19.
Jika melayani suami, yang cepat namun halus, jangan cepat namun kasar, tergesagesa dan tidak tenang, bukankah itu cepat namun tercela, sebab dalam hati agar marah.
20.
Demikianlah pesanku, kepada putra perempuanku, semoga dilaksanakan, ajaran bapak ini, jika engkau laksanakan semua, begitulah anakku.
21.
Bapak yang menanggung, jika engkau laksanakan pesanku, sudah tentu menemukan kebahagiaan, di dunia dan di akhirat, dan hati jangan menyimpang, bersungguhsungguh terhadap suami.
22.
Walaupun dimadu berjumlah empat puluh, hatimu jangan berubah, lahir dan batin jangan berubah, melayani suami, usahakanlah, wanita yang baik-baik.
23.
Gadis yang cantik-cantik, serahkanlah kepada suami, demikian itu sifat, mengerti kehendak laki-laki, pasti memupuk cinta kasih, jika suami dibuat puas hatinya.
24.
Jika wanita tidak merelakan, suaminya mempunyai selir, dan tidak suka dimadu, itu wanita tercela, tidak tahu tata krama, menurut dalil Qur’an.
25.
Sama dengan anjing buntung, diumpamakan celeng terbakar, tidak pantas didatangi, tidak urung membuat, supaya dijauhkan tujuh ukuran, janganlah terus dipikir.
26.
Hal seperti itu, agar diteliti kembali, ajaran san bapak, dimaksudkan untuk mendapatkan selamat, ibaratnya membaca surat, tingkah laku wanita luhur.
27.
Mengapa tidak ditiru, oleh para istri, yang dikasihi oleh suami, apakah wanita jahat, dan wanita tercela, apa tidak segan-segan.
28.
Yang dikasihi oleh suami, suami wanita yang berbakti, yang teliti terhadap suami, namun wanita yang jahat, tercela, tidak ada yang dikasihi suami.
29.
Bahkan sering dipukul, wanita yang begini, tidak ada gunanya membaca surat, tidak mau meniru yang baik, oleh sebab itu anakku, ingat-ingatlah.
30.
Ajaranku (nasihatku) ini, semoga Hyang Maha Suci, tetap memberikan kesadaran, terhadap perbuatan yang baik, dijauhkan dari perbuatan jahat, aniaya yang tidak baik.
31.
Tamatlah surat ajaran (nasihat), kepada putra putrinya, Kamis Pon tanggal 7 Sura, Kuningan tahun Be, dengan Candrasangkala “esa guna swareng nata”, Windu sancaya yang ke delapan.

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir