Misteri Sabdo Palon Dan Noyo Genggong

Misteri Sabdo Palon Dan Noyo Genggong
Dalam upaya menelisik misteri siapa sejatinya Sabdo Palon, saya mengawali dengan mengkaji Serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon. Di sini tidak akan dipersoalkan siapa yang membuat karya-karya tersebut untuk tidak menimbulkan banyak perdebatan. Karena penjelasan secara akal penalaran amatlah rumit, namun dengan pendekatan spiritual dapatlah ditarik benang merahnya yang akan membawa kepada satu titik terang. Dan ini akhirnya dapat dirunut secara logika historis.
Menarik memang di dalam mencari jawab tentang siapakah Sabdo Palon ? Karena kata Sabdo Palon dan Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Prabu Brawijaya V ( memerintah tahun 1453 – 1478 ) tidak hanya dapat ditemui di dalam Serat Darmagandhul saja, namun di dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo (1135 – 1157) juga telah disebut-sebut, yaitu bait 164 dan 173 yang menggambarkan tentang sosok Putra Betara Indra sbb :
164.
…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong.
(…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)
173.
nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti.
(menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi)
Serat Darmagandhul
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.
Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :
Sabdo Palon :
“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”
(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)
Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :
“…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; …”
(“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.
“Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. …..”
(“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”)
Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :
Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, …..
….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”
(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, …..
….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)
Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.
Dari apa yang telah disinggung di atas, kita telah sedikit memahami bahwa Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan :
“…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.”
(“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)
Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti. Jadi Semar merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah). Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada “tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.
Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu :
“….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.”
(“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”
“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.”
(“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)
Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita). Ibarat Arjuna dan Semar atau juga Prabu Parikesit dan Begawan Abhiyasa. Lebih lanjut diceritakan :
“Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.”
(“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)
Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.
Ramalan Sabdo Palon
Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sbb :
3.
Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan.
(Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)
4.
Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa.
(Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.)
5.
Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.
(Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)
6.
Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan.
(Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)
7.
Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.
(Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)
8.
Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya.
(Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)
Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Perlu kita tahu bahwa Semar adalah wujud manusia biasa titisan dewa Sang Hyang Ismoyo. Jadi ketika itu Sabdo Palon berencana untuk kembali ke asal mulanya adalah alam kahyangan (alam dewa-dewa), kembali sebagai wujud dewa, Sang Hyang Ismoyo. Lamanya pergi selama 500 tahun. Dan kemudian Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul: “Semar Ngejawantah”.
Mari kita renungkan sesaat tentang kejadian muntahnya lahar gunung Merapi tahun lalu dimana untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi yang tertinggi : “Awas Merapi”. Saat kejadian malam itu lahar merapi keluar bergerak ke arah “Barat Daya”. Pada hari itu tanggal 13 Mei 2006 adalah malam bulan purnama bertepatan dengan Hari Raya Waisyak (Budha) dan Hari Raya Kuningan (Hindu). Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu : Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Apabila angka tanggal, bulan dan tahun dijumlahkan, maka : 1 + 3 + 5 + 2 + 6 = 17 ( 1 + 7 = 8 ). Angka 17 kita kenal merupakan angka keramat. 17 merupakan jumlah raka’at sholat lima waktu di dalam syari’at Islam. 17 juga merupakan lambang hakekat dari “bumi sap pitu” dan “langit sap pitu” yang berasal dari Yang Satu, Allah SWT. Sedangkan angka 8 merupakan lambang delapan penjuru mata angin. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi. Di dalam kawruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana turunnya dewa ke bumi (menitis).
SIAPA SEJATINYA “SABDO PALON NOYO GENGGONG” ?
Setelah kita membaca dan memahami secara keseluruhan wasiat-wasiat leluhur Nusantara yang ada di blog ini, maka telah sampai saatnya saya akan mengulas sesuai dengan pemahaman saya tentang siapa sejatinya Sabdo Palon Noyo Genggong itu. Dari penuturan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan, saya mendapatkan jawaban : “Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah beliau : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.” (merinding juga saya mendengar nama ini)
Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum “Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh, beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Dalam Dwijendra Tattwa dikisahkan sebagai berikut :
“Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama “Dharma Yatra”. Di Lombok Beliau disebut “Tuan Semeru” atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan mata bathinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam “Pagunungan Anyar”). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.
Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan). Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.
Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).
Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, lalu bapak Tri Budi Marhaen Darmawan memberikan kepada saya 10 (sepuluh) pesan dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:
1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. ( bait 5 )
Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.
2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. ( bait 6 )
Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak. ( bait 8 )
Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat. ( bait 10 )
Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. ( bait 11 )
Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. ( bait 12 )
Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.
7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang. ( bait 13 )
Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang. ( bait 14 )
Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.
9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. ( bait 15 )
Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya. ( bait 16 )
Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.
Akhirnya bapak Tri Budi Marhaen Darmawan mengungkapkan bahwa dengan penelusuran secara spiritual dapatlah disimpulkan : “Jadi yang dikatakan “Putra Betara Indra” oleh Joyoboyo, “Budak Angon” oleh Prabu Siliwangi, dan “Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu” oleh Ronggowarsito itu, tidak lain dan tidak bukan adalah Sabdo Palon, yang sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru. Pertanyaannya sekarang adalah: Ada dimanakah beliau saat ini kalau dari tanda-tanda yang telah terjadi dikatakan bahwa Sabdo Palon telah datang ? Tentu saja sangat tidak etis untuk menjawab persoalan ini. Sangat sensitif… Ini adalah wilayah para kasepuhan suci, waskitho, ma’rifat dan mukasyafah saja yang dapat menjumpai dan membuktikan kebenarannya. Dimensi spiritual sangatlah pelik dan rumit. Tidak perlu banyak perdebatan, karena Sabdo Palon yang telah menitis kepada “seseorang” itu yang jelas memiliki karakter 7 (tujuh) satrio seperti yang telah diungkapkan oleh R.Ng. Ronggowarsito, dan juga memiliki karakter Putra Betara Indra seperti yang diungkapkan oleh Joyoboyo. Secara fisik “seseorang” itu ditandai dengan memegang sepasang pusaka Pengayom Nusantara hasil karya beliau Dang Hyang Nirartha.”
“Kesimpulan akhirnya adalah : Putra Betara Indra = Budak Angon = Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu seperti yang telah dikatakan oleh para leluhur Nusantara di atas adalah sosok yang diharap-harapkan rakyat nusantara selama ini, yaitu beliau yang dinamakan “SATRIO PININGIT”. Jadi, Satrio Piningit (SP) = adalah seorang Satrio Pinandhito (SP) = yaitulah Sabdo Palon (SP) = sebagai Sang Pamomong (SP) = dikenal juga dengan nama Semar Ponokawan (SP) = pemegang pusaka Sabdo Palon (SP) = berada di “SP” (?) = tepatnya di daerah “SP” (?) = dimana terdapat “SP” (?) = dengan nama “SP” dan “SP” (?) . Satrio Piningit tidak akan sekedar mengaku-aku bahwa dirinya adalah seorang Satrio Piningit. Namun beliau akan “membuktikan” banyak hal yang sangat fenomenal untuk kemaslahatan rakyat negeri ini. Kapan waktunya ? Hanya Allah SWT yang tahu. Subhanallah… Masya Allah la quwata illa billah…”
Dari apa yang telah saya ungkapkan sejauh ini mudah-mudahan membawa banyak manfaat bagi kita semua, terutama hikmah yang tersirat dari wasiat-wasiat nenek moyang kita, para leluhur Nusantara. Menjadi harapan kita bersama di tengah carut-marut keadaan negeri ini akan datang cahaya terang di depan kita. Semoga Allah ridho.
Sehubungan dengan lagi maraknya cerita tentang Satrio Piningit, Ratu Adil, Sabdopalon dan Noyogenggong. Ulasan saya sangat panjang, mohon tanggapan dan koreksi.
**********************
Misteri Satrio Piningit tak pernah pupus dari benak dan relung hati anak cucu leluhur nusantara. Fenomena sejak masa kewalian, pasca kehancuran Majapahit, ini sangat lekat terutama bagi anak cucu Jawa – Bali Dwipa.
Menurut kitab Musarar Jayabaya era sekarang masuk jaman Kalabendu (jaman sengsara), disebut kalabendu (kutukan bumi) disebabkan dari pengaruh hawa kutukan bumi, biasnya perilaku manusia menjadi edan (gila) dan hidupnya sengsara “hidup di jaman edan kalau tidak edan tidak kebagian”. Berdasarkan lambang-lambang yang terdapat pada pusaka pengayom nusantara, penyebab jaman edan ini terjadi, diawali sejak peristiwa tragedi “Bubad” pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Jaman dahulu peristiwa tersebut sangat menyakitkan hati masyarakat Sunda/Pajajaran. Dibalik peristiwa ini, ada semacam tabir tersembunyi penyebab kutukan bumi, yaitu perjanjian rahasia antara Raden Wijaya pendiri Majapahit dengan kakeknya “kelak jika Raden Wijaya telah menjadi raja besar janganlah sekali-kali menyerang Sunda/Pajajaran karena masih saudaranya sendiri”. Nasi sudah menjadi bubur dan sudah menjadi takdir.
Konon katanya, kebencian masyarakat Sunda/Pajajaran terhadap Majapahit terlihat di antaranya di wilayah Sunda/Pajajaran sampai saat sekarang tidak pernah terlihat nama Majapahit atau nama tokohnya dipakai sebagai nama jalan raya. Mudah-mudahan era sekarang telah berubah, tolonglah dibuatkan nama jalan dengan nama Majapahit atau nama tokoh Raja Hayam Wuruk di Jawa Barat (Bandung) dan juga sebaliknya di Jawa Timur menggunakan nama Sunda/Pajajaran dengan nama jalan dengan nama Prabu Maharaja Linggabuana atau Dyah Pitaloka, dan saya sangat berterima kasih atas kebaikannya.
Pada masa-masa sulit di jaman edan (jaman kalabendu) ini, masyarakat nusantara mendambakan datangnya jaman kalisuba (jaman kemakmuran) yang ditandai datangnya sosok Satrio Piningit dan Ratu Adil sebagaimana yang ditulis pada bait-bait syair terakhir kitab Musarar Jayabaya, Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Ronggowarsito.
Setelah saya membaca dan berusaha memahami bait-bait peninggalan pujangga leluhur kita dengan segala renungan, maka sayapun menjadi takjub dibuatnya akan karya-karya beliau. Antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/periode yang jauh berselang, namun di dalam perlambangnya memiliki saling keterkaitan. Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda.
Masing-masing orang bisa saja menafsirkan hal tersebut dengan penafsiran yang berbeda-beda. Tidak ada yang melarang. Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri menurut saya. Kebenaran sejati adanya didalam nurani yang suci dan bersih.
Wangsit Siliwangi :
“Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa.
tapi memang titisan raja. Titisan raja baheula
jeung biangna hiji putri pulo Dewata.
da puguh titisan raja; raja anyar hese apes ku rogahala”
(“Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata, karena jelas keturunan raja penguasa baru susah dianiaya”).
Inilah Soekarno, Presiden pertama NKRI, ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sebenarnya adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk “anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo. (Silahkan buktikan …)
Kitab Musarar Jayabaya, dalam Sinom bait 18 :
“Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglikasi,
Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki,
Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kerem negaranira,
Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa”
(“Nama rajanya Lung Gadung Rara Nglikasi kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajak rakyat adalah …..”)
Lung Gadung Rara Nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan mudah tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada Presiden pertama RI, Soekarno. Sedangkan Gajah Meta Semune Tengu Lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti, namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto. Dalam bait ini juga dikatakan bahwa Negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum.
Dalam bait 20 dikatakan :
“Bejade ingkang Negara, Narendra pisah lan abdi.
Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari,
Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan,
Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram”
(“Negara rusak, Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram”)
Bait ini menggambarkan situasi Negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila). Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji Loro Semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono), hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.
Pada bait 22, dikatakan :
“Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih,Lajengipun sinung lambang,
Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu,
Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngrawuhi,
Sasmitane lambang kang kocap punika”
(“Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu, Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut”)
Perlambang Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan Tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah, ini menunjuk kepada Presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.
Perlambang Semarang-Tembayat merupakan tempat dimana seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi. Jawaban & solusi mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di “Semarang Tembayat” yang telah diungkap oleh Prabu Jayabaya guna membantu memecahkan misteri ini.
Prediksi saya mengenai Semarang Tembayat. Hasil penelusuran, Raja Ghaib Barat Katiga (namanya dirahasiakan) sebagai penguasa/raja di wilayah Semarang Tembayat. Menurut keterangan beliau mengenai “Semarang Tembayat” telah dibenarkan, beliaulah salah satu pemegang asset nusantara. Jika sudah saatnya tiba, masalah ini juga akan terbuka. Menurut Raja Ghaib Barat Katiga Semarang Tembayat, salah satu kunci untuk membuka gudang asset tersebut juga terletak pada lambang Segi Tiga, lambang Segi Tiga juga bisa bermakna Allah, Jibril, Nabi Musa AS. Pertanyaan saya tentang teka-teki Segi Tiga yang disampaikan ini, kenapa Musa?).
Selain itu, berdasarkan informasi yang lain yang belum tentu kebenarannya, rahasia “Semarang Tembayat” adalah merujuk sebuah tempat/lokasi dilakukan sebuah Perjanjian Tiga Serangkai ”Segi Tiga” dibuat/ditandatangani dan disimpan oleh dua orang, yang satunya sebagai saksi, berupa secarik kertas rahasia berisi tulisan tentang asset yang banyak diperbincangkan orang.
Kemudian bait 27 berbunyi :
“Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung Putih, Semune Pudhak Kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku. Juluk Ratu Amisan. Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan”
(“Kemudian kelak akan datang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan”)
Perlambang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama Ratu Adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusiaan dan bencana alam. Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.
Bait 28 tertulis :
“Prabu tusing Waliyullah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan Gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih,
Iya iku ratu rinenggeng sajagad”
(“Raja utusan waliyullah. berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia”)
Prediksi saya tentang bait ini, yang dimaksud dengan hasil didikan/tempaan seorang waliyullah (aulia) yang juga selalu tersembunyi berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa adalah 2 (dua) waliyullah tersembunyi (menitis) di dalam dirinya (“sawiji”); yang satu seorang aulia dari Mekah dan yang satunya lagi seorang raja Jawa. Orang yang dimaksud merupakan Islam sejati, sudah makom Ma’rifat Mukasyafah, serta berciri khusus terdapat andheng-andheng (tahi lalat) segi tiga yang jelas sangat kelihatan (“dingklik”) “sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik”. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan nusantara sebagai “barometer dunia” (istilah Bung Karno : “Negara mercusuar”).
Saya mencoba menelusuri alat-alatnya yang menandai datangnya Sang Ratu Adil pada serat Jangka Jayabaya/catursabda, Pethikan Seratan Tangan Kangge Sambetan Jangka Triwikrama :
”.. Kulup ingsun mangsit marang sira … sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik. Lah ing kono kulup, ora suwe bakal katon alat-alate kang minangka dadi cacaloning Sang Ratu Adil Panetep Panata Agama Kalipatullah”
”…. mung gegamane bae golekana kongsi katemu ”.
Kemudian kita simak serat Paweling (Peringatan), sebagai berikut :
”Nanging piweling ingsun, diawas dieling, jejegna imanira, turuten gustinira ratu adil panetep panata gama. Golekana gegamane sing nganti ketemu, turuten dalane, ngetutburia saparane..”,
Pada syair tersebut, Jangka Jayabaya memberikan pesan/paweling, agar kita selalu waspada dan ingat kepada Tuhannya, tegakan iman, jadilah pengikut Ratu Adil Panetep Panata gama, dan kita diminta untuk mencari ”senjatanya” sampai ketemu.
Kitab Musarar Jayabaya, Bait 159
“Se lelet-lelete yen mbesuk ngancik tutup tahun sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu, bakal ana dewa ngejawantah apengawak manungsa, apasuryan padha Bethara Kresna, awewatak Baladewa, agegaman Trisula Wedha. Jinejer wolak-waliking jaman, wong nyilih mbalekake, wong utang mbayar, utang nyawa bayar nyawa, utang wirang nyaur wirang”
(Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup “sinungkalan dewa wolu, ngasto manggalaning ratu”, akan ada dewa tampil berbadan manusia, berparas seperti Bathara Kresna berwatak seperti Baladewa, bersenjatakan trisula wedha, tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar, hutang nyawa bayar nyawa, hutang malu dibayar malu)
Bait 160
“Sadurunge ana tetenger lintang kemukus lawa ngalu-alu tumanja ana kidul wetan bener lawase pitung bengi, perak esuk bener ilange Bathara Surya njumedhul …… iku tandane putra Bathara Indra wus katon tumeka ing arcapada …. “
(Sebelumnya ada pertanda Lintang Kemukus panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur lamanya tujuh malam, hilangnya menjelang pagi sekali bersama munculnya Batara Surya bebarengan dengan hilangnya kesengsaraan manusia yang berlarut-karut)
Bait 161
“Dununge ana sikile redi Lawu sisih Wetan, Wetane bengawan banyu, andhedukuh pindha Raden Gatotkaca, arupa pagupon Dara tundha tiga, kaya manungsa angleledha”.
(Asalnya dari kaki Gunung Lawu sebelah Timur, sebelah Timurnya bengawan, berumah seperti Raden Gatutkaca, berupa rumah merpati susun tiga, seperti manusia yang menggoda)
Memahami bait 159 s/d 161 dapat kita cermati sinungkalan dewa wolu (8), ngasta (2) manggalaning (9) ratu (1) mungkin maksudnya tahun Jawa 1928 atau 2006 Masehi (dalam perkiraan yang tepat 2008) akan dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Bhatara Kresna berwatak bagaikan Baladewa bersenjata Trisula Wedha, adalah tanda-tanda datangnya perubahan zaman, orang pinjam harus mengembalikan orang berhutang wajib membayar.
Prediksi saya tahun 2008 telah hadir ngejawantah di bumi nusantara berupa senjata Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra, munculnya di daerah Banyuwangi, sesuai dengan bait 161 “ bengawan banyu”). Tempat munculnya di Banyuwangi bukan secara kebetulan, karena daerah tsb dahulu adalah tempat pertemuan & perpisahan Prabu Brawijaya V (Sunan Lawu) dgn Sabdopalon & Noyogenggong, disaksikan Sunan Kalijaga (ref. naskah Darmogandul).
Darmogandhul (Jawa) :
“Sang Prabu karsane arep ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun serta nenggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk Negara Blambangan salina jenenge Negara Banyuwangi, dadiya tenger Sabdapalon enggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane”.”
Berdasarkan kutipan serat Dharmogandul, tempat tersebut (Banyuwangi) menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong akan datang lagi ke tanah Jawa “nanti jika ada orang Jawa bersenjatakan kaweruh, yaitu yang akan diasuh Sabdopalon, orang Jawan akan diberi petunjuk tentang bener salah”. Sebagai tanda tempat tsb, oleh sang Prabu Brawijaya dgn disaksikan Sunan Kalijaga, daerah Blambangan dirubah namanya menjadi Banyuwangi menjadikan tanda Sabdopalon & Noyogenggong pulang kembali ke tanah Jawa membawa momongannya.
Seperti apakah wujud Trisula Wedha atau Dewa/Putra Bathara Indra yang dimaksud oleh kitab Musarar Jayabaya?
Untuk memecahkan misteri ini, bait 161 telah memberikan kata kunci “rumahnya seperti Raden Gatotkaca” (bait 161 “andhedukuh pindha Raden Gatotkaca”). Artinya kita, diminta untuk berpikir dan menelusuri, siapakah sosok Raden Gatotkaca sehingga dikatakan sebagai rumah?
Untuk menjawab teka-teki tersebut, agar menyimak cerita wayang tentang masa kecil dan gugurnya Raden Gatotkaca. Diceritakan sewaktu Raden Gatutkaca masih bayi, pusernya tidak mempan dipotong dengan senjata apapun, maka Raden Arjuna diminta untuk pinjam pusaka Kunta kepada Dewa, tetapi hanya mendapatkan warangka/sarungnya pusaka saja, karena bilah pusaka telah terlebih dahulu diambil oleh Adipati Karna. Akhirnya pusernya Raden Gatutkaca dapat dipotong menggunakan warangka tersebut, tetapi naas warangkanya masuk kedalam puser. Kemudian pada waktu terjadinya perang Barathayuda antara Astina dengan Pandawa, Raden Gatutkaca mendapatkan lawan tangguh yaitu Adipati Karna. Diceritakan, senjata Kunta milik Adipati Karna digunakan untuk melawan Raden Gatotkaca, walaupun Raden Gatutkaca terbang menghindar dari kejaran senjata Kunta, bahkan sampai lapis langit ketujuh, tetap saja senjata Kunta mengejarnya!, dan Raden Gatotkaca tidak bisa menghindar. Hal ini disebabkan Raden Gatutkaca adalah rumah/sarangnya senjata tersebut (di pusernya bersemayam warangka/sarungnya).
Diperoleh jawaban sementara misteri teka-teki ini, bahwa Dewa/Putra Bathara Indra itu rumahnya seperti Raden Gatutkaca, dimaksud adalah Warangka.
Gambaran sementara, yang dimaksud sbg Dewa/Putra Bathara Indra yang sudah ngejawantah atau di temukan di Banyuwangi sebagai pasangan dari Warangka tersebut adalah bilah Pusaka Keris.?!
Sepertinya indikasi tentang Satrio Piningit lebih mengarah kepada gegaman/pusaka, kita simak :
Bait 164
”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti, mumpuni sakehing laku, nugel tanah Jawa kaping pindho, ngerahake jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen abebantu manungso Jawa, padha asenjata Trisula Weda, landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong”
(Putra kesayangan almarhum yang bermukim di Gunung Lawu, yaitu Kyai Brajamusthi, ya Kresna, ya Herumurti, menguasai seluruh ajaran (ngelmu), memotong tanah Jawa kedua kali, mengerahkan jin dan setan seluruh makluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula wedha, tajamnya tritunggal nan suci benar, lurus, jujur didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong).
Bait 168
”Mula den udia satriya iki, wus tan abapa, tan bibi, lola wus aputus wedha Jawa, mula ngandelake Trisula Wedha, landepe Trisula pucuk arupa gegawe sirik agawe pati utawa utang nyawa. Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan, sing pinggir-pinggir tulak tolak colong jupuk winaleran”
(Oleh sebab itu carilah satria itu yatim piatu, tak beranak saudara sudah lulus weda Jawa hanya berpedoman trisula, tajamnya trisula pucuk sangat tajam membawa maut atau utang nyawa, yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan).
Prediksi saya pada bait 164 dan 168 menggambarkan bahwa gaman/pusaka yang sebelum ditemukan memang yatim piatu, pusaka tersebut memang merupakan gaman/pusaka klangenan/ageman/putra kesayangan almarhum Sunan Lawu. Keistimewaan pusaka tersebut bersemayam 3 nur/dewa yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna, Herumurti (asal kata Dewa adalah dari kata Div yang artinya cahaya), mampu mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo membantu orang Jawa/bangsa Indonesia.
Ciri-ciri fisik, pucuknya sangat tajam membawa maut, tengahnya pantang merugikan orang lain, dan pinggir-pinggirnya menolak pencurian dan kejahatan; Tajamnya tri tunggal nan suci; benar, lurus, jujur dan didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong (di pangkal pusaka tersebut terdapat 2 bocah kembar yang digambarkan diiringi Sambdopalon dan Noyogenggong. 2 bocah kembar ini lahir di bawah pohon beringin (lambang/pamor pohon beringin).
Untuk membuka misteri tentang gaman/pusaka tersebut telah kroscek dengan melakukan dialog batin dengan Sunan Lawu. Diakui oleh beliau bahwa pusaka tersebut memang merupakan putra kinasih (klangenan) beliau, bait 159 disebutkan seperti manusia, “ana dewa ngejawantah apengawak manungsa”) bukankah di diri masing-masing manusia terdapat 4 nur hitam, merah, kuning dan putih yang merupakan nafsu-nafsunya manusia.
Hasil deteksi, ciri-ciri pusaka terssbut telah sesuai sebagaimana digambarkan dalam kitab Musarar Jayabaya yakni bersemayam didalam pusaka 3 warna nur/cahaya yaitu Merah, Biru dan Hijau, yaitu Kyai Brajamusthi, Kresna dan Herumurthi (bait 164 ”Putra kinasih swargi Sunan Lawu, ya Kyai Brajamusthi ya Kresna ya Herumurti”), mempunyai sifat yang suci, bener, jejeg/lurus, jujur (“landhepe triniji suci, bener, jejeg, jujur”).
Spesifikasi yang lain diterangkan pada bait 164, di pangkal pusaka, tepatnya dibawah gambar pohon Beringin, terdapat 2 (dua) bocah kembar sebagai Sabdopalon & Noyogenggong (bait 164 “didampingi Sabdopalon & Noyogenggong”), dipisahkan oleh pamor/gambar, seperti rumah Merpati susun tiga (bait 161 “arupa pagupon Dara tundha tiga”).
Bagi penghayat pusaka di tanah air pasti mengenal jenis pusaka ini, Oumyang Jembe. Jumlah jenis pusaka tersebut (hasil dialog dgn Pangeran Diponegoro) ada 27 buah (1 peti), tetapi hanya satu ini yang baru muncul dan terdapat 3 (tiga) nur dan yang dicari-cari oleh orang yang mengerti tentang sejarahnya pusaka ini. Pusaka ini andalan kerajaan besar yang mempunyai wilayah terluas Sriwijaya & Majapahit, pusaka ini sebagai Satrio Piningit.
Salah satu faktor pusaka ini dikatakan sebagai pusaka (putra) kesayangan (kinasih) Sunan Lawu adalah karena mengandung makna filosofis, sejarah & daya tuah yang luar biasa serta dipahat dalam lambang-lambang/pamor timbul. Salah satu pamor timbul/lambang pohon Beringin yang terdapat pada pusaka tersebut, menurut Sunan Lawu menggambarkan menanam pohon bersama (Majapahit & Pajajaran yang diibaratkan sebagai satu pohon) yang akhirnya berpisah. Sedangkan Majapahit & Pajajaran dipahatkan dengan lambang 2 (dua) bocah kembar terletak di kiri–kanan, kitab Musarar Jayabaya menyebutnya sebagai diiringi Sabdopalon &Noyogenggong atau 2 (dua) bocah kembar yang lahir di bawah pohon cemara.
Sabdopalon sebagai sebuah petuah orang tua kepada anak keturunannya Raden Wijaya pendiri Majapahit (yang juga keturunan darah Sunda) mendapat wejangan dan disumpah, kelak jika nanti negaranya menjadi negara besar & luas wilayahnya, janganlah sekali-sekali menyerang Sunda/Pajajaran karena masih saudara sendiri. Dan janji /sumpah tersebut telah dipenuhi oleh Raden Wijaya.
Waktu pun terus berjalan, Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk mencapai puncak jaman keemasan dengan wilayah jangkauan kekuasaan Majapahit sangat luas. Didorong oleh ambisi Maha Patih Gajahmada mepersatukan nusantara, menganggap belum lengkap jika Sunda belum ditaklukan, maka terjadilah peristiwa perang Bubad. Atas peristiwa tersebut berarti Raden Wijaya dan keturunannya telah melanggar sumpah dan nasehat kakeknya.
Akibat pelanggaran tersebut, setelah wafatnya raja Hayam Wuruk, sinar kejayaan Majapahit berangsur-angsur memudar, sampai pada generasi Prabu Brawijaya V kerajaan Majapahit sirna ditelan bumi. Begitu juga (berdasarkan babad sunda) kerajaan Pajajaran/sunda juga sama sirna ditelan bumi, tidak berbekas (tan kasat mata). Sejak peristiwa tersebut jaman Kalajaya (jaman hunggul) telah berubah menjadi jaman kalabendu (jaman sengsara dan angkara murka), fitrah manusia sejati yang mengedepankan budi pakartai akhlak mulia/luhur (bener, lurus/eling dan jujur) telah luntur/rusak akibat pengaruh prabawa kutukan bumi jawa (kalabendu jawa).
Gejalanya dimulai jaman Kalabendu ini, menurut Serat Darmogandul ditandai datangnya orang-orang sebrang seperti dari Arab, kerbau bulai (eropa) ke bumi nusantara dan sejak saat itu burung kuntul ada kuncirnya. Dahulu sebelum jaman Kalabendu jawa terjadi belum tumbuh kuncirnya. Maknanya, melambangkan manusia jawa telah berubah sifat-sifat asli sebagai orang jawa yang sejati, seperti, hilangnya budi pakarti manusia jawa yang luhur, tidak tahu balas budi baik orang lain, jika ditolong ia membalas kejelekan dari belakang ia menohok, suka berbohong, suka memfitnah. Menghalalkan segala cara.
Diceritakan sejak Wafatnya Raden Hayam Wuruk, maka sinar kejayaan Majapahit mulai memudar. Pusaka tersebut oleh Mpu pembuatnya yaitu Mpu Gedeng Supo nama lain dari Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha di larung ke laut. Dengan harapan kelak akan ditemukan kembali dan dipegang oleh orang yang ditakdirkan untuk memegang pusaka ini. Dengan diketemukan kembali pusaka ini itulah tanda jaman kalabendu akan segera berakhir dan menuju jaman kalisuba (jaman kemakmuran). Sunda/Pajajaran memaafkan, Majapahit dan Pajajaran bersatu kembali, nusa jaya lagi.
Sebagaimana kita ketahui Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha adalah penyusun Kakawin Sutasoma yang didalamnya tercantum Bhineka Tunggal Ika adalah salah satu penasehat Raja Hayam Wuruk, sedangkan cucunya yaitu Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru adalah salah satu penasehat Prabu Brawijaya V atau Sunan Lawu. Keduanya mempunyai keterkaitan dengan masalah rahasia pusaka tersebut.
Pusaka pengayom nusantara yang dilarung ke laut tersebut oleh Mpu pembuatnya, oleh orang yang mengerti rahasia, pusaka ini dicari-cari dan bahkan konon PB X juga ikut mencari pusaka ini dengan mengadakan sayembara, barang siapa menemukan pusaka ini akan diberi hadiah serta dijadikan abdi dalem kraton, karena beliau merasa tidak kuat ketempatan pusaka ini akibat gawatnya prabawa pusaka. Pernah ada seorang nelayan yang menemukan pusaka ini tetapi nelayan tersebut dicari-cari tidak ditemukan menghilang di laut.
Sebagaimana harapan Mpu Tantular, kelak pusaka ini ditemukan dan orang yang ketempatan pusaka ini tentunya pasti seorang yang waskita dalam pandangan spiritual dan tajam mata bhatinnya serta mampu memahami makna pusaka ini. Secara filosifis tahu dan mampu tatacara menyatukan kembali Majapahit dan Pajajaran melalui pusaka ini.
Pemahaman saya tentang gaman/pusaka memang belumlah sempurna, karena belum lama mengerti tentang pusaka, saya mendapatkan referensi dari Al-Qur’an yang bisa merujuk kepada pusaka/keris pada Surah Al-Hadid 25 yang artinya :
“dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang sangat dan berbagai manfaat bagi manusia. Dan Allah hendak mengetahui siapa yang menolongnya dan rasul-rasul-Nya biarpun tidak kelihatan”.
Penelurusan tentang tokoh Mpu Tantular/Dang Hyang Angsokanatha penasehat Raja Hayam Wuruk menguasai wilayah Timur dan Tengah diibaratkan sebagai ilmunya, sedangkan Mpu Dwijendra/Dang Hyang Nirartha/Penanda Sakti Wuwu Rawuh/Tuan Semeru penasehat Sunan Lawu menguasai Barat, diibaratkan menguasai asset, atau diibaratkan Majapahit sebagai ilmunya sedangkan Sunda/Pajajaran sebagai pemilik assetnya. Mungkin disinilah letaknya, jika Majapahit (Raja Hayam Wuruk) meminang Sunda/Pajajaran (Dyah Pitaloka) yang diartikan perempuan indentik dengan harta, artinya setelah Majapahit kehilangan Sunda/Pajajaran sama saja ia kehilangan asset, ini yang tidak disadari oleh pejabat Majapahit karena sesungguhnya ada hubungan bhatin yang sangat kuat diantara keduanya. Sebagai contoh lambang/logo kemakmuran berbentuk “padi & kapas” yang terdapat di logam emas adalah milik Sunda/Pajajaran, dan lambang padi kapas juga tergambar jelas di pucuk/ujungnya gaman/pusaka yang dibuat Mpu Tantular atau bahkan pada lambang negara Burung Garuda. Hubungan bhatin terlihat dari wajah polos raja Sunda/Pajajaran yang tidak terpikir akan terjadi insiden di jalan. Demikian juga Raja Hayam Wuruk juga sangat terpukul setelah peristiwa tersebut, ia sakit dan wafat. Periswita tersebut juga membuat Mpu Tantular juga ikut terpukul, maka sebagai konsekwensinya pusaka buatannya dilarung/dibuang ke laut.
Cobalah simak Wangsit Siliwangi :
“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong, dan bahkan berlebihan kalau bicara.”
Pada uraian di atas pernah saya kupas mengenai sejarahnya jaman Kalabendu sebagai akibat dari penghianatan Majapahit kepada Sunda/Pajajaran yaitu pada peristiwa Bubad. Hal ini terjadi karena generasi penerus utamanya para pejabat Majapahit tidak memahami sejarah dari leluhur terdahulunya. Karena dalam pikiran pejabat Majapahit tinggal Sunda yang belum di pangkuan Majapahit. Akhirnya terjadilah peristiwa yang menyakitkan hati masyarakat Sunda/Majapahit yang sesungguhnya kedua kerajaan adalah memang saudara sehidup dan semati.
Namun pada akhirnya kelak Sunda/Pajajaran akan memaafkan segala kekhilafan Majapahit itu terlihat dari kalimat “Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi …..” kita simak di bawah ini.
Wangsit Siliwangi :
“Dengarkan! Jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus. Disusul tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang Sunda dipanggil-panggil, orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil ratu adil yang sejati”.
“Tapi ratu siapa? dari mana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala”.
Disamping cerita tentang Majapahit dan Pajajaran, saya juga teringat juga akan sejarah Bandung Bandawasa. Cerita ini hampir mirip dengan cerita Majapahit dan Pajajaran, sebuah cerita tentang cinta yang tak tergapai, yang juga diagendakan dalam sebuah Pusaka/gaman namanya pusaka Kumalasari. Gaman/pusaka ini juga tak kalah handalnya dengan pusaka yang menceritakan tentang Majapahit dan Pajajaran. Gaman/pusaka tersebut juga merupakan pusaka kutukan, sama nasibnya dengan gaman/pusaka buatan Mpu Tantular yang baru ditemukan.
Bandung Bandawasa setelah mengalahkan/menewaskan Ratu Baka, dalam cerita yang umum diceritakan Bandung Bandawasa tertarik dengan putrinya yang cantik tinggi semampai untuk menjadi istrinya. Roro Jonggrang bersedia menjadi istrinya asal dibuatkan 100 patung dalam semalam, dan oleh Bandung Bandawasa disanggupi.
Kedua orang tersebut mengadu kemampuan masing-masing, Bandung Bandawasa dengan kemampuannya mengerahkan pasukan lelembut para jin untuk membantunya membuat 100 patun sedangkan Roro Jonggrang berusaha menghalang-halangi supaya Bandung Bandawasa gagal membuat patung dengan mengarahkan para abdinya membunyikan lesung (di Jawa lesung adalah tempat untuk menumbuk padi) menjelang sebelum fajar menyingsing yang pada akhirnya ayam berkokok tanda fajar akan menyingsing yang pada akhirnya para jin yang membantu mengira sudah fajar dan sang Surya akan segera terbit. Akhirnya Bandung Bandawasa hanya bisa membuat 99 buah patung dan kurang satu. Karena kesal Bandung Bandawasa walaupun sebenarnya tidak ada niat untuk mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung, maka keluarlah kata-kata kutukan “maka yang satu kamu”. Roro Jonggrang akhirnya menjadi mematung.
Menurut teman saya ada riwayat rahasia tentang sejarah ini, kelak menjelang jaman akhir (mungkin jaman kalisuba?) keduanya menyatu dan lahir darinya sebagai sosok yang ditunggu-tunggu sebagai orang yang dimaksud oleh syair-syair leluhur.
S
elain legenda Bandung Bandawasa juga ada cerita lagi tentang sebuah kutukan yaitu cerita Gunung Tangkuban Perahu, dari generasi Priangan/Sangkuriang. Konon katanya juga generasi Sangkuriang akan menyatu dengan generasi Bandung Bandawasa? (Walahualam Bisawab hanya Tuhanlah yang tahu). Sepertinya mungkin hanya dongeng belaka, tetapi nyata ada barang bukti diantaranya patung Rorojonggrang dengan pusakanya, demikian juga cerita tentang Majapahit dan Pajajaran yang hampir dilupakan orang juga ada barang bukti peninggalannya, serta cerita tentang Gunung Tangkuban Prahu.
Kita beralih kepada syair Wangsit Siliwangi, jika Sunda telah memaafkan maka tandanya adalah Gunung Gede meletus disusul oleh 7 (tujuh) gunung. Yang menjadikan pertanyaan apakah Gunung Gede benar-benar meletus? Atau hanya sebuah siloka (lambang)?
Prediksi saya, kalimat tersebut hanya siloka dari pada mengarah kepada bencana alam yang banyak menelan korban dan tidak ada korelasi (kaitannya) antara bencana alam gunung meletus dengan negara bersatu kembali, nusa jaya lagi? Atau kah memang sungguh-sungguh gunung tersebut memang meletus?
Konon katanya penguasa Gunung Gede adalah Eyang Surya Kencana, beliau juga salah satu penghuni Gua, akan memberikan warisan kepada orang yang dikehendaki/terpilih jika sudah waktunya tentunya untuk kemakmuran nusantara. Hal ini juga akan diikuti oleh 7 (tujuh) gunung yang lain. Tapi nanti setelah terjadinya penyaringan manusia, sebagaimana yang telah diterangkan di atas.
Sebelumnya akan banyak sekali bencana-bencana yang akan berlangsung, seperti halnya gunung meletus, air meluap, kecelakaan, penyakit, sekarang sakit besok meninggal, ini berlangsung sejak bulan Suro tahun lalu dan akan terus berjalan bagaikan air mengalir. Pemahaman ini tentunya juga bagi yang percaya. Kuncinya agar kita selamat banyak-banyaklah bertobat dan mendekatkan diri kepada Sang Khaliq (Sang Pencipta).
Tentang rahasia tentang penghuni/penjaga asset-asset di gua yang terdapat di semua gunung di nusantara, dapat kita simak Surah Al-Kahfi (Gua) :
Ayat 9 yang artinya :
“Ataukah kami mengira bahwa orang-orang yang menghuni gua Batu Bertulis adalah dari ayat-ayat kami yang mengagumkan”
Ayat 16 :
“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah melainkan Allah, maka carilah tempat perlindungan kedalam gua Tuhanmu melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan dia akan menyediakan sesuatu yang berguna dalam urusanmu”
Jangka Jayabaya Selebare Raja Kuning Babon Asli Kagungan Dalem Bandara Pangeran Harya Suryawijaya ing Ngayugyakarta, menerangkan bahwa Ratu Adil adalah seorang yang bersifat rendah hati tidak memiliki pamrih, bersedia mengeluarkan hartanya.
Rahasia menyangkut lokasi yang dimaksud oleh para leluhur dikatakan sebagai Lebak Cewene oleh Prabu Siliwangi adalah juga Gunung Perahu menurut Jayabaya, dan tempatnya di Semarang-Tembayat seperti juga telah diungkapkan oleh Jayabaya.
Dengan ciri-ciri terdapat 2 sumber air besar, 3 pohon beringin dan keberadaan watu gilang. Hampir semua gunung yang mengandung rahasia mempunyai ciri-ciri khusus ini dari ujung kulon sampai ke timur.
Jika merujuk Babad Caringin di Banten Lama juga ada lokasi yang bercirikan Watu Gilang, 3 pohon beringin dan 2 sumber mata air. Simak sejarah berakhirnya kerajaan Pajajaran berdasarkan naskah-naskah babad seperti Prasasti Batu Tulis-Bogor, Prasasti Sanghyang Tapak-Sukabumi, Prasasti Kawali-Ciamis, Tugu Perjanjian Portugis (Padrao) Kampung Tugu-Jakarta dan Taman Perburuan-Kebun Raya Bogor. Diceritakan berakhirnya jaman Pajajaran akibat serangan Kasultanan Banten th 1579M, Watu Gilang “Palangka Sriman Sriwicana” (tempat duduk penobatan tahta berukuran 200×160×20 cm) di boyong dari istana Pakuan ke istana Surosowan Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Watu Gilang tersebut juga diprediksikan sebagai kunci asset dinasti peninggalan Pajajaran tertulis dalam bahasa Sansekerta “Wikranto yen wanipateh Prabu ….. “.
Konon katanya disamping asset-asset dinasti nusantara adalah tentang keberadaan Sang Saka Bendera Merah Putih yang original pada jaman Majapahit/Pajajaran yang sampai sekarang masih tersimpan di tempat salah satu tempat (di gua) yang dirahasiakan nantinya akan di ambil oleh seseorang sebagaimana yang maksud dalam karya-karya leluhur. Dan konon katanya bendera yang sekarang disimpan di istana negara adalah hasil jahitan Ibu Fatmawati mencontoh bendera yang masih tersimpan ditempat itu. Berkibarnya sang saka bendera merah putih yang masih tersimpan tersebut, maka Indonesia itulah saatnya Indonesia menjadi negara mercusuar dunia?.
Mengenai penelusuran asset-asset nusantara yang penulis ketahui dari cerita-cerita sesepuh itu terdiri dari asset ampera, dinasti (kerajaan) dan asset-asset yang lain (amanah). Asset Ampera konon katanya dipegang oleh para pinisepuh berdasarkan Surat Keterangan Presiden R.I. No. 002/PBTAPRI/SKR/III/’48 tentang Harta Ampera, Surat Wasiat Presiden R.I. tanggal 12 Januari 1960 dan Surat Keterangan Waliamanah Penerima Wasiat dari Presiden R.I. tanggal 17 Nopember 1960, saya juga tidak tahu apakah referensi ini palsu atau asli serta diarsipkan di arsip nasional. Jika benar, alangkah bodohnya kita kenapa tidak ada penelusuran lebih lanjut? Satu lagi jika benar adanya betapa para pinisepuh penjaga gudang asset berupa logam dan kertas berharga (seperti Emas lantakan, platinium, berlian, giok dan juga kertas berharga), kini usianya mereka sudah tua, tidak ada penghargaan buat mereka dari pemerintah. Sedangkan asset dinasti/kerajaan keberadaannya masih menunggu waktu jika sudah waktunya pasti akan muncul.
Dengan adanya asset Ampera yang kemungkinan bisa digunakan untuk membantu bangsa Indonesia lepas dari krisis berkepanjangan maka penulis telah merencanakan akan mengumpulkan lebih dari 500 orang sesepuh yang tersebar di seluruh nusantara yang rencananya akan diselenggarakan melalui acara Temu Silaturahmi para Pemegang Asset Amanah seluruh nusantara pada bulan Oktober 2008 tetapi gagal. Sementara surat dukungan sudah disampaikan kepada bapak Presiden RI dan instansi-instansi terkait tetapi gagal karena tidak ada dananya. Fenomena perjuangan ini saya jadi ingat akan syair-syair Wangsit Siliwangi sebagai berikut :
“… selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong dan bahkan berkelebihan bicara”
“Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutup pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau, bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satunya datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah, setiap waktu akan berulang, itu dan itu lagi.”
Mungkin arahan leluhur di atas benar adanya, kami hanya
menemukan sejarah dan sejarah dalam setiap kejadian. Disamping itu banyak ditemui ranting daun kering dan potongan pohon (maksudnya sesepuh dan dokumen-dokumen yang dimiliki oleh banyak yang tidak benar). Ada yang sesepuh yang benar tetapi takut menunjukan dirinya.
Kita kembali kepada Kitab Musarar Jayabaya untuk melihat bentuk perilaku manusia pada jaman kalabendu jawa (jaman sengsara) bentuk penyimpangan perilaku yang terjadi di masyarakat :
1.Sungguh zaman gonjang-ganjing menyaksikan zaman gila tidak ikut gila tidak dapat bagian, yang sehat pada olah pikir, para petani dibelenggu, para pembohong bersuka ria (bait 142).
2.Raja tidak menempati janji, orang makan sesamanya, kayu gelondongan dan besi juga dimakan katanya enak rasa kue bolu, malam hari semua tak bisa tidur (bait 143).
3.Yang gila dapat berdandan, yang membangkang semua dapat membangun rumah, gedung-gedung megah (bait 144).
4.Orang berdagang barang makin laris, tapi hartanya makin habis, banyak orang mati kelaparan disamping makanan, banyak orang berharta namun hidupnya sengsara (bait 145).
5.Orang waras & adil hidupnya memprihatinkan & terkucil, yg tidak dapat mencuri dibenci, yg pintar curang jadi teman, orang jujur semakin tak berkutik, orang salah makin pongah, banyak harta musnah tak jelas larinya, banyak pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab (bait 146).
6.Bumi semakin lama semakin sempit, sejengkal tanah kena pajak, wanita memakai pakaian laki-laki (bait 147).
Akibat dari perilaku tersebut diatas mempengaruhi keseimbangan alam seperti :
1.Banjir bandang dimana-mana, gunung meletus tidak dinyana-nyana (bait 141).
2.Datangnya jaman penuh bencana di nusantara seperti tanah pecah merekah, gempa 7 kali sehari, dan bencana macam-macam.
3.Hujan salah musim.
Jaman edan akan berakhir, Sabdopalon yang termasyur dan menanggung malu, akan tampil kembali untuk membantu nusantara agar bermoral benar, lurus dan jujur (trisula weda) dengan ditandai munculnya putra kinasih swargi Sunan Lawu atau Putra Bathara Indra yang sulung.
Jika nanti jaman sudah berubah, barang siapa melanggar Sabdopalon maka konsekwensinya :
1.Banyak orang digigit nyamuk mati, digigit semut mati, banyak suara aneh tapan rupa, pasukan makluk halus sama-sama berbaris berebut garis yang benar, tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin putra Bathara Indra, bersenjatakan trisula weda, para asuhannya menjadi perwira perang, jika berperang tanpa pasukan sakti mandraguna tanpa aji-aji (bait 162).
2.Yang membantah pasti mati (bait 166).
Jika jaman sudah berubah menjadi jaman berakhlak trisula weda yang telah diwejang Sabdopalon maka akan terwujud jaman kemakmuran dan Indonesia akan segera menjadi negara mercusuar dunia, harta berlimpah muncul dimana-mana.
Prediksi saya perubahan jaman (wolak-waliknya jaman) dari jaman Kalabendu ke jaman Kalisuba dimulai awal bulan Suro tahun ini, yang hampir bertepatan bersamaan tahun baru Masehi, dapat disimak pada Bait 165 Pendhak Suro sambutlah kumara, yang sudah tampak menebus dosa dihadapan sang Maha Kuasa (“Pendhak Sura nguntapa kumara kang wus katon nimbus dosane kadhepake ngarsaning sang kuasa……”).
Disamping mengandung cerita sejarah, pusaka kesayangan Sunan Lawu ini juga :
1.Menguasai seluruh ajaran (ngelmu) bait 164
2.Mampu memberi perintah & mengerahkan jin, setan, kumara, prewangan dan para lelembut untuk bersatu padu membantu masyarakat Indoensia (bait 164).
3.Bergelar pangeran perang, dapat mengatasi keruwetan orang banyak (bait 163)
4.Setiap bulan Sura nguntapake kumara (bait 165)
5.Ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti) yang membantah pasti mati, orang tua, muda maupun bayi, orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi, garis sabdanya tidak akan lama (bait 166)
6.Pandai meramal seperti dewa, dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda, tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati, bijak, cermat dan sakti, mengerti sebelum sesuatu terjadi, mengerti garis hidup setiap umat, tidak khawatir tertelan zaman (bait 167).
7.Sudah lulus weda Jawa (bait 168).
Isyarat Jangka Jayabaya, pethikan serat tangan sebagai berikut :
“Bilih sampun wonten tandha-tandha ingkang sampun celak rawuhipun calon Ratu Adil :
Padha kaping 1
Besuk ing jaman akhir, sawise jaman hadi, ratu Adil Imam Mahdi saka tanah Arab meh rawuh, tengarane tatanduran suda pametune, para pandhita kurang sabare, ratu kurang adile, wong wadon ilang wirange, akeh wong padu lan padha goroh, akeh wong cilik dadi priyayi, wong ngelmu kurang lakune lan nganeh-anehi.
(Kelak, pada saat Ratu Adil Imam Mahdi sudah hampir tiba waktunya, tanda-tandanya adalah, tanaman berkurang hasilnya, para pemuka agama kehilangan watak sabarnya, pemimpin kurang rasa keadilannya, perempuan kehilangan rasa malu, banyak orang bertengkar dan berbohong, banyak orang kecil menjadi priyayi, orang berilmu kurang pengalamannya dan tindak-tanduknya janggal/aneh)
Dene yen rawuhe ratu Adil wis cedhak banget, ana tengarane maneh :
1)Yen sasi Sura ana tundhan dhemit
(bulan Sura ini terjadi pada bulan Desember 2008 s/d Januari 2009 sebagai bulan Sura duraka, di tahun Kalabendu, maka banyak musibah dan kecelakaan mengerikan baik di udara, darat dan laut (kereta, pesawat, kapal laut, bus, kendaraan)
2)Srengenge salah mangsa mletheke.
(Matahari terlihat terbit memancar setelah jam 06 pagi)
3)Rembulan Ireng rupane
(dibarengi dengan kejadian gerhana bulan berturut-turut selama tiga hari, di tiga lokasi wilayah nusantara)
4)Banyu abang rupane
(awal bulan Desember 2008 – Januari 2009 hampir seluruh wilayah Indonesia terjadi banjir, airnya keruh berwarna coklat kemerahan, lamanya sekitar 3 – 5 hari).
Tengara iki telung dina lawase, yen wis ana tengara mangkono, kabeh wong bakal ditakoni, sing ora bisa mangsuli bakal dadi pakane dhemit, sebab ratu adil mau rawuhe anggawa bala Jin, setan lan seluman pirang-pirang tanpa wilangan.
Padha kaping 2
Dene pitakone lan wangsulane mangkene :
(Pertanyaan dan jawabannya sebagai berikut)
Asalmu saka ngendi? Saking kodratollah
Yen bali apa sangumu? Sahadat, iman, tauhid, makrifat Islam
Apa kowe weruh aranku? Gusti Ratu Adil Idayatullah
Apa agamamu? Sabar darana
Apa kowe weruh bapakku? Gusti Ratu Adil Idayat Sengara
Apa kowe weruh ing ngendi panggonanku dilairake? Kalahirake Hyang Wuhud wonten sangadhaping cemara pethak (simak 2 bocah kembar yang lahir di bawah pohon cemara juga terdapat di pusaka buatan Mpu Tantular).
Keterangan:
Ratu adil imam mahdi dari tanah arab maksudnya, pemimpin umat manusia di bumi nusantara yang bersifat universal, kebetulan sebagai pemeluk agama Islam.
Darimana asalmu? Jawab : atas kehendak Allah, Ratu adil lahir di bumi nusantara sudah menjadi kodrat Tuhan.
Jika “pulang” bekalnya sahadat iman tauhid mukrifat islam, artinya kesaksian bahwa Ratu Adil membawa amanat bagi kebahagiaan seluruh rakyat melalui ilmu makrifat yang universal melampaui semua agama, suku, ras, golongan.
Apa kamu tahu namaku? Jawab, gusti ratu adil membawa petunjuk dari Tuhan.
Apa agamamu? Jawab : kesabaran yang seluas samudra
Apa kamu tahu bapakku? Jawab : gusti ratu adil idayah sengara, orang selalu mengutamakan keadilan, tetapi hidupnya berada selalu dalam laku prihatin.
Apa kamu tahu dimana aku dilahirkan? Jawab : dilahirkan oleh Hyang Wuhud, di bawah pohon cemara putih.
Serat Centhini, pupuh 258.
“Saka marmaning Hyang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenenge nata, ing kono raharjaning, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka”
(Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda).
“Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji-wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya,adenge tanpa sarana, nagdam maksuming srinata, sonya rutikedatonnya”
(kedatangan pemimpin baru tidak terduga, seperti munculnya secara ghaib, yang mempunyai sifat-sifat utama (note; yang diterjemahkan banyak pihak sabagai Satrio Piningit)
“Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita”
(datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya, yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yg berbudi luhur)
“Luwih adil paraarta, lumuh maring brana-arta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangkan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirrullah prajuritnya, tungguling dzikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna”.
(Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dgn harta benda, bernama Sultan Erucakra, tdk ketahuan asal kedatangannya, tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya kepercayaan/keimanan thdp Allah SWT prajuritnya dan senjatanya adalah semata-mata dzikir, musuh semua bisa dikalahkan)
“Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagad sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha”
(Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan Negara dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterimanya)
“Bumi sakjung pajegira, among sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda”
(Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang & pangan)
“Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, panjenenganin sang nata”
(Tidak ada penjahat, semua sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil bijaksana)
Namun demikian prediksi saya dalam memahami/mengartikan karya leluhur belumlah benar, maksud saya hanya sekedar menyampaikan, jika prediksi saya memang benar maka wajib saya sampaikan kepada masyarakat umum karena karya-karya leluhur telah menjadi bacaan umum, dan dapat menjadikan fitnah jika ini tidak disampaikan.
Salam persaudaraan dari saya untuk para sesepuh dan mohon maaf jika ada persinggungan dan persamaan pendapat bukan bermaksud buka rahasia tetapi marilah bantu saya untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta ini, dan saya yakin banyak saudara-saudaraku yang juga sedang berjuang walaupun beda konsep dan saya mohon doanya agar saya bisa menemukan sesuatu yang hilang untuk bangsa dan negaraku.
Sekali lagi, mohon maaf jika tulisan saya dianggap ngawur, sebagaimana yang telah diterangkan diatas dan atas dibacanya prediksi saya ucapkan terima kasih.
Wassalam

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Artikel ini.

Amiin ya Rabbal ‘Alamin

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

PENAWARAN PENYELENGGARAAN WISATA RELIGI/ ZIARAH MAKAM WALIYULLAH

WISATA RELIGI/ ZIARAH MAKAM WALIYULLAH
PAKET EXECUTIVE A

Paket Ziarah Wali 7 (Tujuh) Di Bali
Biaya : Rp. 1.500.000 / Pax
Dengan fasilitas sebagai berikut :
► Bus Standar Pariwisata bangku 2 – 2 seat 44 dengan fasilitas : AC, TV,
VCD/ DVD, Karaoke.
► Makan 6 (enam) kali di Restoran / Rumah Makan Prasmanan (selama di Bali)
► Penginapan
► Mengunjungi tempat-tempat ziarah di :
Syech Achmad Chamdun Choirussoleh (keramat pantai seseh)
Syech Maulana Yusuf Al Maghribi (keramat bukit bedugul)
Habib Ali Bin Abu Bakar Al Khamid (keramat pantai kusamba)
Habib Ali Bin Zaenal Abidin Al Idrus (keramat karangasem)
Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi (keramat karangasem)
Syech Abdul Qodir Muhammad (keramat karang supit)
Habib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih ( jembrana)
Makam Raden Ayu Siti Khotijah (Keramat agung pemecutan)

► Tour Leader / Guide Lokal.
► Free dokumentasi satu album format foto digital
► Fasilitas P3K.
► Asuransi ( diluar personal Accident ).
► Fee biro, parking dan Co.
NOTE : Bonus wisata pantai dan tempat belanja

PAKET EXECUTIVE B

Paket Ziarah Wali 7 (Tujuh) Di Bali
Biaya : Rp. 2.500.000 / Pax
Dengan fasilitas sebagai berikut :
► Bus Standar Pariwisata bangku 2 – 2 seat 44 dengan fasilitas : AC, TV,
VCD/ DVD, Karaoke.
► Makan 11 (sebelas) kali di Restoran / Rumah Makan Prasmanan
► Snack 1 kali di awal pemberangkatan
► Fasilitas hotel 1 kamar 4 orang (AC, LCD, KM Dalam)
► Mengunjungi tempat-tempat ziarah di :
Syech Achmad Chamdun Choirussoleh (keramat pantai seseh)
Syech Maulana Yusuf Al Maghribi (keramat bukit bedugul)
Habib Ali Bin Abu Bakar Al Khamid (keramat pantai kusamba)
Habib Ali Bin Zaenal Abidin Al Idrus (keramat karangasem)
Syech Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi (keramat karangasem)
Syech Abdul Qodir Muhammad (keramat karang supit)
Habib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Bafaqih ( jembrana)
Makam Raden Ayu Siti Khotijah (Keramat agung pemecutan)
► Tour Leader / Guide Lokal.
► Free dokumentasi satu album format foto digital
► Fasilitas P3K.
► Asuransi ( diluar personal Accident ).
► Fee biro, parking dan Co.
NOTE : Bonus wisata pantai dan tempat belanja

Wisata Religi Wali 9 + Jakarta 6 Hari 6 Malam
Paket Executive

Biaya : Rp. 5.000.000 / @orang (minimal 10 orang)

– Ziarah Wali 1 sampai dengan wali 9 Cirebon
– Masjid Kubah Emas Depok
– Masjid Masjid Istiqlal
– Makam Mbah Priok
– Ancol / Taman Mini Indonesia Indah
– Mangga Dua Mall / Tanah Abang Mall

Fasilitas :
– Makan 18 kali
– Hotel ( 1 kamar isi 3 orang )
– Tiket masuk wisata
– Aqua
– Mobil Elf seat 11 (AC, TV, DVD)

WISATA RELIGI/ ZIARAH MAKAM WALIYULLAH

ZIARAH WALI LIMO (PAKET REGULER)

Waktu : 1 hari 1 malam
Biaya : Rp 3.500.000,-
Tujuan :
• KH. Abdur Rohman Wahid/ Gus Dur Jombang
• Syech Jumadil Kubro Troloyo Trowulan
• Sayyid Sulaiman dan Syech Alif Mojoagung
• Raden Aly Rahmatullah ( Sunan Ampel ) Surabaya
• Raden Paku ( Sunan Giri ) Gresik
• Syech Maulana Malik Ibrahim Gresik
• Raden Nur Rahmad Sn.Sendang Dhuwur dan Raden Qosim ( Sn.Drajat ) Lamongan
• Syech Ibrahim Asmara Qondy Tuban
• Raden Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang ) Tuban
Fasilitas : Bus Pariwisata 60 seat, AC, TV, DVD, Karaoke
Catatan :
1 . Harga tersebut di atas tidak termasuk biaya parkir , tiket masuk lokasi
Makam dan penginapan
2. Obyek Wisata dapat dirubah sesuai permintaan dan kesepakatan
3. Jadwal perjalanan disusun setelah ada kesepakatan
4. Untuk Bus dengan fasilitas toilet ada panambahan biaya / harga khusus
5. Harga dapat berubah sewaktu-waktu
6. Harga Paket menyesuaikan – akomodasi – jumlah peserta – penginapan.
7. Apabila biaya makam + parkir ditanggung Event Organizer, maka ada penambahan
biaya Rp 1.500.000 dari biaya Penyelenggaraan.

ZIARAH WALI LIMO + WALI MADURA (PAKET REGULER)

Waktu : 3 hari 3 malam
Biaya : Rp 9.000.000,-
Tujuan :
• KH. Abdur Rohman Wahid/ Gus Dur Jombang
• Sayyid Jumadil Kubro Troloyo Trowulan
• Sayyid Sulaiman dan Syech Alif Mojoagung
• Raden Aly Rahmatullah ( Sunan Ampel ) Surabya
• Raden PAku ( Sunan Giri ) Gresik
• Syech Maulana Malik Ibrahim Gresik
• Raden Nur Rahmad Sn.Sendang Dhuwur dan Raden Qosim ( Sn.Drajat ) Lamongan
• Syech Ibrahim Asmara Qondy Tuban
• Raden Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang ) Tuban
• Syaichona Kholil Bangkalan
• Air Mata Ibu Aros Baya
• Syech Abu Syamsudin Batu Ampar Pamekasan
• Raja – raja Madura Asta Tingggi Sumenep
• Api Alam Abadi Pamekasan
Fasilitas : Bus Pariwisata 60 seat, AC, TV, DVD, Karaoke
Catatan :
1. Harga tersebut di atas tidak termasuk biaya parkir, tiket masuk lokasi
Makam dan penginapan
2. Obyek Wisata dapat dirubah sesuai permintaan dan kesepakatan
3. Jadwal perjalanan disusun setelah ada kesepakatan
4. Untuk Bus dengan fasilitas toilet ada panambahan biaya / harga khusus
5. Harga dapat berubah sewaktu-waktu
6. Harga Paket menyesuaikan – akomodasi – jumlah peserta – penginapan.
7. Apabila biaya makam + parkir ditanggung ditanggung Event Organizer, maka ada penambahan biaya Rp 3.000.000 dari biaya Penyelenggaraan.

WISATA RELIGI WALI PITU BALI (PAKET REGULER)

Waktu : 3 hari 3 malam
Harga : Rp 15.000.000,-
Tujuan :
• Makam Habib Ali Bin Umar Bafaqih
• Makam Habib Umar bin Maulana Yusuf
• Makam Habib Ali Bin Abu Bakar Al Chamid
• Makam Habib Ali bin Zainal Abidi Al Idrus
• Makam Syeh Maulana Yusuf Al Baihaqi Al Magribi
• Makam Pangeran Masepuh ( Syeh Ahmad Chamdun Choirus Shaleh )
• Makam Syech Abdul Qodir Muhammad ( The Kwan Lie )
• Makam Gusti Ayu Made Rai ( Raden Ayu Siti Khotijah )
• Makam Raden Kyai Jalil
• Tanjung Benoa
• Pasar Seni Sukowati/ Pusat Oleh-Oleh Krisna
• Tanah Lot

Fasilitas : Bus Pariwisata 60 seat, AC, TV, DVD, Karaoke
Catatan :
1. Harga tersebut di atas sudah termasuk biaya parkir , tiket masuk lokasi
Makam dan penginapan pelepas lelah.
2. Obyek Wisata dapat dirubah sesuai permintaan dan kesepakatan
3. Jadwal perjalanan disusun setelah ada kesepakatan
4. Untuk Bus dengan fasilitas toilet ada panambahan biaya / harga khusus.
5. Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
6. Apabila biaya makam + parkir ditanggung ditanggung Event Organizer, maka ada penambahan biaya Rp 5.000.000 dari biaya Penyelenggaraan.

ZIARAH WALI WOLU (PAKET REGULER)

Waktu : 3 hari 3 malam
Biaya : Rp 9.000.000,-
Tujuan :
• KH. Abdur Rohman Wahid/ Gus Dur Jombang
• Syech Jumadil Kubro Troloyo trowulan
• Sayyid Sulaiman dan Syech Alif Mojoagung
• Raden Aly Rahmatullah ( Sunan Ampel ) Surabaya
• Raden Paku ( Sunan Giri ) Gresik
• Syech Maulana Malik Ibrahim Gresik
• Raden Nur Rahmad Sn.Sendang Dhuwur dan Raden Qosim ( Sn.Drajat ) Lamongan
• Syech Ibrahim Asmara Qondy Tuban
• Raden Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang ) Tuban
• Raden Umar Said ( Sunan Muria ) Kudus
• Raden Jakfar Shodiq ( Sunan Kudus ) Kudus
• Raden Mas Syahid ( Sunan Kalijaga ) dan Raden Patah Demak
• Syech Hasan Munadi, Syech Hasan Dipuro Serta Sendang Kalimah Thoyyibah
• Raden Pandanarang ( Sunan Bayat ) Klaten

Fasilitas : Bus Pariwisata 60 seat, AC, TV, DVD, Karaoke
Catatan :
1. Harga tersebut di atas tidak termasuk biaya parkir , tiket masuk lokasi
Makam dan penginapan
2. Obyek Wisata dapat dirubah sesuai permintaan dan kesepakatan
3. Jadwal perjalanan disusun setelah ada kesepakatan
4. Untuk Bus dengan fasilitas toilet ada panambahan biaya / harga khusus
5. Harga dapat berubah sewaktu-waktu
6. Apabila biaya makam + parkir ditanggung ditanggung Event Organizer, maka ada penambahan biaya Rp 3.000.000 dari biaya Penyelenggaraan.

ZIARAH WALI WOLU PLUS (PAKET REGULER)

Waktu : 3 hari 3 malam
Biaya : Rp 8.000.000,-
Tujuan :
• KH. Abdur Rohman Wahid/ Gus Dur Jombang
• Syeh Jumadil Kubro Troloyo Trowulan
• Sayyid Sulaiman dan Syech Alif Mojoagung
• Raden Aly Rahmatullah ( Sunan Ampel ) Surabaya
• Raden Paku ( Sunan Giri ) Gresik
• Syech Maulana Malik Ibrahim Gresik
• Raden Nur Rahmad Sn.Sendang Dhuwur dan Raden Qosim ( Sn.Drajat ) Lamongan
• Syech Ibrahim Asmara Qondy Tuban
• Raden Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang ) Tuban
• Raden Umar Said ( Sunan Muria ) Kudus
• Raden Jakfar Shodik ( Sunan Kudus ) Kudus
• Raden Mas Syahid ( Sunan Kalijogo ) dan Raden Patah Demak
• Syech Hasan Munadi, Syech Hasan Dipuro Serta Sendang Kalimah Thoyyibah
• Raden Santri Gunung Pring Magelang
• Raden Pandanarang ( Sunan Bayat ) Klaten
• Pasar Klewer Solo
Fasilitas : Bus Pariwisata 60 seat, AC, TV, DVD, Karaoke
Catatan :
1. Harga tersebut di atas tidak termasuk biaya parkir , tiket masuk lokasi Makam dan penginapan
2. Obyek Wisata dapat dirubah sesuai permintaan dan kesepakatan
3. Jadwal perjalanan disusun setelah ada kesepakatan
4. Untuk Bus dengan fasilitas toilet ada panambahan biaya / harga khusus
5. Harga dapat berubah sewaktu-waktu
6. Apabila biaya makam + parkir ditanggung ditanggung Event Organizer, maka ada penambahan biaya Rp 3.000.000 dari biaya Penyelenggaraan.

ZIARAH WALI WOLU PLUS (PAKET REGULER)

Waktu : 3 hari 3 malam
Biaya : Rp 8.000.000,-
Tujuan :
• KH. Abdur Rohman Wahid/ Gus Dur Jombang
• Syeh Jumadil Kubro Troloyo Trowulan
• Sayyid Sulaiman dan Syech Alif Mojoagung
• Raden Aly Rahmatullah ( Sunan Ampel ) Surabaya
• Raden Paku ( Sunan Giri ) Gresik
• Syech Maulana Malik Ibrahim Gresik
• Raden Nur Rahmad Sn.Sendang Dhuwur dan Raden Qosim ( Sn.Drajat ) Lamongan
• Syech Ibrahim Asmara Qondy Tuban
• Raden Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang ) Tuban
• Raden Umar Said ( Sunan Muria ) Kudus
• Raden Jakfar Shodik ( Sunan Kudus ) Kudus
• Raden Mas Syahid ( Sunan Kalijogo ) dan Raden Patah Demak
• Syech Hasan Munadi, Syech Hasan Dipuro Serta Sendang Kalimah Thoyyibah
• Raden Santri Gunung Pring Magelang
• Raden Pandanarang ( Sunan Bayat ) Klaten
• Pasar Bring Hardjo, Malioboro dan Keraton Jogjakaerta
Fasilitas : Bus Pariwisata 60 seat, AC, TV, DVD, Karaoke
Catatan :
1. Harga tersebut di atas tidak termasuk biaya parkir , tiket masuk lokasi Makam dan penginapan
2. Obyek Wisata dapat dirubah sesuai permintaan dan kesepakatan
3. Jadwal perjalanan disusun setelah ada kesepakatan
4. Untuk Bus dengan fasilitas toilet ada panambahan biaya / harga khusus
5. Harga dapat berubah sewaktu-waktu
6. Apabila biaya makam + parkir ditanggung ditanggung Event Organizer, maka ada penambahan biaya Rp 3.000.000 dari biaya Penyelenggaraan.

ZIARAH WALI SONGO (PAKET REGULER)

Waktu : 6 hari 6 malam
Biaya : Rp 18.000.000,-
Tujuan :
• KH. Abdur Rohman Wahid/ Gus Dur Jombang
• Syech Jumadil Kubro Troloyo Trowulan
• Syech Alif Mojoagung
• Raden Aly Rahmatullah ( Sunan Ampel ) Surabaya
• Raden Paku ( Sunan Giri ) Gresik
• Syech Maulana Malik Ibrahim Gresik
• Raden Qosim ( Sunan Drajat ) Lamongan
• Syech Asmaraqundi Tuban
• Raden Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang ) Tuban
• Raden Umar Said ( Sunan Muria ) Kudus
• Raden Jakfar Shodiq ( Sunan Kudus ) Kudus
• Raden Mas Syahid ( Sunan Kalijogo ) dan Raden Patah Demak
• Syech Hasan Munadi, Syech Hasan Dipuro Serta Sendang Kalimah Thoyyibah
• Raden Santri Gunung Pring Magelang
• Raden Pandanarang ( Sunan Bayat ) Klaten
• Syech Habib Achmad Pekalongan
• Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati ) Cirebon
• Syech Sultan Hasanudin Banten
• Syech Yusuf Banten
• Masjid Istiqlal Jakarta
• Panjalu Tasik
• Syech Muhyi Tasik
• Goa Pamijahan Tasik

Fasilitas : Bus Pariwisata 60 seat, AC, TV, DVD, Karaoke
Catatan : 1. Harga tersebut di atas tidak termasuk biaya parkir , tiket masuk lokasi Makam dan penginapan.
2. Obyek Wisata dapat dirubah sesuai permintaan dan kesepakatan
3. Jadwal perjalanan disusun setelah ada kesepakatan.
4. Untuk Bus dengan fasilitas toilet ada panambahan biaya / harga khusus
5. Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
6. Apabila biaya makam + parkir ditanggung ditanggung Event Organizer, maka ada penambahan biaya Rp 6.000.000 dari biaya Penyelenggaraan.

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Artikel ini.

Amiin ya Rabbal ‘Alamin

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

Daftar Nama dan Alamat Makan Auliya’/ Waliyullah Di Indonesia

No Kabupaten Kecamatan Alamat Nama
1 Aceh Pasai Samudra Pasai Abdul Rouf Lekal
2 Aceh Perlak Perlak Malikul Dhohir
3 Aceh Pasai Samudra Pasai Al Malikul Saleh
4 Aceh Aceh Besar Meulaboh Teuku Umar
5 Aceh Aceh Besar Takengon Teuku Cik Di Tiro
6 Bali Singaraja Singaraja Mbah Singaraja
7 Bali Keramat Pantai Seseh Pangeran Mas Sepuh ( Raden Amangkuningrat )
8 Bali Keramat Pamecutan Jalan Batu Karu Pamecutan Dewi Khodijah ( Ratu Ayu Anak Agung Rai )
9 Bali Ubung Dekat terminal bus Denpasar Pangeran Sosrodiningrat Senopati
10 Bali Tabanan Keramat di Bukit Bedugul Habib Umar bin Yusuf Al Maghribi
11 Bali Kelungkung Dawah, Kusamba Habib Ali bin Abu Bakar Al Hamid
12 Bali Karangasem Bebandem, Bungaya Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi
13 Bali Karangasem Bebandem, Bungaya Ali bin Zaenal Abidin Al Idrus
14 Bandung Kota Cikapungdung Sumur Bandung
15 Bandung Cibuni Gunung Cibuni
16 Banjarmasin Sayid Ali Al-Hadad
17 Banten Pandeglang Cikaduen Syaikh Maulana Manshuruddin
18 Banten Pandeglang Labuan Ciwaringin Syaikh Asnawi
19 Banten Pandeglang Mbah Dimyati
20 Banten Serang Kasemen Sultan Hasanuddin
21 Banten Serang Kasemen Syaikh Yusuh bin Hasanuddin
22 Banten Panjalu Syaikh Muhyi
23 Banyuwangi Muncar Lateng Alas Purwo Datuk Ibrahim
24 Banyuwangi Datuk Abdurrohim
25 Banyuwangi Lateng Sayid Ahmad
26 Banyuwangi Lateng Mbah Abdurrohman
27 Banyuwangi Ketapang Habib Hadi Al-Hadad
28 Banyuwangi Kesilir Syaikh Dahlan
29 Banyuwangi Blok Agung Syaikh Muhyiddin
30 Banyuwangi Sumber Kepuh Mbah Wali Marhasan
31 Banyuwangi Kyai Thohir
32 Banyuwangi Kyai Iskandar
33 Banyuwangi Berasan Mbah Abdul Manan
34 Banyuwangi Datuk Abdul Rohim
35 Banyuwangi Blok Agung Syaikh Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur
36 Batam Datuk Abdulloh
37 Batang Gringsing Gringsing Ki Ageng Gringsing
38 Bekasi Kampungutan Mbah Toyyib
39 Bekasi Pondok Rangon CMIIVV Habib Usman bin Yahya
40 Blitar Wlingi Mbah Dimyati
41 Blitar Kota Presiden Soekarno
42 Blitar Nggembongan Mbah Kyai Kholil
43 Blitar Mantenan Mbah Kyai Abd. Ghofur
44 Blitar Kunir Srengat Mbah Kyai Ahya’
45 Blitar Kunir Cemandi Mbah Imam Hambali bin Ahmad
46 Bogor Empang Empang Habib Alwi Al Attas
47 Bojonegoro Padangan Mbah Hamid M. (Minak Lelono)
48 Brebes Losari Klampok Mbah Ruby
49 Bukhoro Rusia Qosrol Arifan Syaikh Muhammad Bahauddin Annaqsyabandi
50 Cianjur Cikalong W. Cikundul Ario Wiratnudatar
51 Cilegon Banjarnegara Banjarnegara Gunung Santri
52 Cirebon Gunungjati Astana Sunan Gunung Jati (Raden Syarif Hidayatulloh)
53 Cirebon Karangkendal Syeh Megelung
54 Cirebon Gunung Jati Astana Syaikh Datul Kahfi
55 Cirebon Gunung Jati Astana Mbah Imam Hanafi
56 Demak Kota Kadilangu Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
57 Demak Kota Bintoro Raden Fatah
58 Demak Mranggen Giri Kusumo Mbah Kyai Abdul Hadi
59 Garut Godog Suci R. Kian Santang
60 Gresik Kota Jl. Malik Ibrahim Sunan Gresik (Syaikh Maulana Malik Ibrahim)
61 Gresik Kebomas Giri Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
62 Gresik Kebomas Klangenan Sunan Prapen
63 Gresik Panceng Gua Surowiti Gua Sunan Kalijaga
64 Gresik Kota Jl. Kauman Habib Abu Baker
65 Gresik Manyar Leran Ny. Siti Fatimah
66 Gresik Kebomas Klangonan Sunan Prapen
67 Gresik Kota Jl. Kauman Habib Abu Bakar
68 Grobogan Purwodadi Kyai Ageng Selo (Mbah Kholil)
69 Indramayu Jatibarang Tambi Ki Buyut Tambi
70 Irak Baghdad Imam Syafi’i
71 Irak Baghdad Syaikh Imam Al-Ghozali
72 Irak Baghdad Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani
73 Jakarta Pusat Kwitang Perempatan Senen Habib Ali Al Habsy ( Habib Kwitang )
74 Jakarta Selatan Pasar Minggu JL. Rajawali I Al-Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad (Habib Kuncung)
75 Jakarta Timur Klender Pulogadung Pangeran Jayakarta
76 Jakarta Timur Jatinegara JL. Jatinegara Kaum Pangeran Jayakarta
77 Jakarta Utara Pasarikan Luarbatang Habib Husain
78 Jakarta Utara Tanjung Priok Koja, Terminal Peti Kemas Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad ( Mbah Priok )
79 Jakarta Utara Penjaringan, Jl. Luar Batang V Habib Husein bin Abubakar Alaydrus,
80 Jember Tempurejo Kyai Abdul Aziz
81 Jember Condro Mbah Kyai Siddiq
82 Jember Tanggul Habib Sholeh bin Muhsin
83 Jepara Kota Mantingan Sultan Hadirin
84 Jepara Mlonggo Demeling Mbah Dimiyati Syukri
85 Jombang Mojoagung Mbah As’ari
86 Jombang Mojoagung Mbah Mursidin
87 Jombang Mojoagung Mbah Alif
88 Jombang Mojoagung Betek Mbah Sayyid Sulaiman bin Dawud
89 Jombang Mojoagung Betek Mbah Damanhuri Betek
90 Jombang Mojoagung Sunan Ngudung
91 Jombang Peterongan Mbah Kyai Romli Tamim
92 Jombang Tebuireng Kyai Hasyim Asy’ari
93 Jombang Bareng Mbah Kyai Amin
94 Kalimantan Selatan Martapura Kuantan Abu Musa Al Banjari
95 Kediri Mojo Tambak Ngadi Syaikh Maulana Abdul Qodir Khoiri bin Isma’il Iskandariyah
96 Kediri Mojo Tambak Ngadi Syaikh Maulana Abdulloh Sholih Istambul
97 Kediri Mojo Tambak Ngadi Syaikh Muhammad Hirman Arruman
98 Kediri Mojo Tambak Ngadi KH. Anis Ibrohim
99 Kediri Mojo Tambak Ngadi KH. Ahmad Siddiq
100 Kediri Mojo Tambak Ngadi Kyai Bani Askar
101 Kediri Mojo Tambak Ngadi KH. Hamim Djazuli
102 Kediri Mojo Tambak Ngadi KH. Imam Thoha
103 Kediri Mojo Tambak Ngadi KH. Yasin Yusuf
104 Kediri Mojo Tambak Ngadi Kyai Ma’ruf Alhafidh
105 Kediri Mojo Tambak Ngadi KH. Muslim Manan
106 Kediri Mojo Tambak Ngadi KH. Rohmad Zuber
107 Kediri Mojo Tambak Ngadi Letda Akhyar
108 Kediri Mojo Tambak Ngadi M. Asmun’i
109 Kediri Mojo Tambak Ngadi Nyai Hj. Mardliyah
110 Kediri Mojo Tambak Ngadi Mbah Kyai Imam Nawawi
111 Kediri Mojo Tambak Ngadi Mbah Kyai Imam As’ari
112 Kediri Mojo Kemayan Mbah Kyai Abdulloh Mun’im
113 Kediri Mojo Kemayan Mbah Kyai Abd. Basyir
114 Kediri Mojo Kemayan Mbah Kyai Abd. Hasyim
115 Kediri Mojo Pelem Habib Moh. Thohir Baabud
116 Kediri Mojo Baran Mbah Kyai Yahya
117 Kediri Mojo Karangakates Mbah Kyai Imam Maki
118 Kediri Mojo Ploso Mbah Kyai Jazuli Usman
119 Kediri Mojo Mojo Mbah Kyai Abdul Jalil (Joyo Ulomo)
120 Kediri Mojo Batokan Mbah Kyai Abd. Jamal
121 Kediri Randulawang Mbah Mukhtar Abd. Hamid
122 Kediri Randulawang Mbah Kyai Ma’sum
123 Kediri Bandarkidul Mbah Kyai Abu Bakar
124 Kediri Bandarkidul Mbah Kyai Mundir Bahri
125 Kediri Bandar Mlati Mbah Kyai Ali Ma’lum
126 Kediri Kedunglo Mbah Kyai Abd. Majid
127 Kediri Kedunglo Mbah Kyai Ma’ruf
128 Kediri Lirboyo Mbah Kyai Marzuqi
129 Kediri Lirboyo Mbah Kyai Mahrus Ali
130 Kediri Lirboyo Mbah Kyai Abd Manaf Karim
131 Kediri Lirboyo Mbah Kyai Ya’qub
132 Kediri Setonogedong Mbah Sulaiman Washil
133 Kediri Mbetek Mbah Jumadilkubro
134 Kediri Mbetek R. Syarifuddin Mangkuyudo
135 Kediri Mbetek Jakfar Umaiyah Darmoyudo
136 Kediri Setonogedong Mbah Abdul Qodir
137 Kediri Setonolandean Mrican Mbah Kyai Ageng Abdulloh Mursyad
138 Kediri Mutih Mbah Kyai Dahlan
139 Kediri Mutih Mbah Nyai Ujang Sholih
140 Kediri Mutih Jampes Mbah Kyai Ihsan Nawawi bin Dahlan
141 Kediri Mutih Gus Baji
142 Kediri Sumberdringo Mbah Kyai Abdulloh Umar
143 Kediri Purwoasri Mbah Kyai Badrussholih
144 Kediri Pare Kencong Kyai Zamroji
145 Kendal Kaliwungu Kaliwungu Sunan Katong
146 Kerawang Wuadas Pulau Bata Syaikh Qurrotul’ain
147 Kerawang Wuadas Leran Singaperbangsa
148 Klaten Tembayat Sekawetan Khoiri Dawud
149 Klaten Tembayat Jabalekat Sunan Bayat (Mbah Ihsan Nawawi)
150 Klaten Palar Kyai Dardiri (Raden Ronggo Warsito)
151 Krawang Wuadas Pulaubata Syeh Kurotulain
152 Krawang Wuadas Leran Singa Perbangsa
153 Kudus Dawe Ngrejenu Abu Hasan Syadli
154 Kudus Dawe Ternadi Kaliyetno
155 Kudus Kota Jl. Menara Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq)
156 Kudus Dawe Colo/Muria Sunan Muria (Raden Umar Said)
157 Kudus Dawe Ternadi Kaliyetno
158 Kudus Kota Mbah Kyai Arwani Amin
159 Lamongan Paciran Drajat Sunan Drajat (Raden Qosim)
160 Lamongan Paciran Kemantren Maulana Ishak
161 Lamongan Paciran Sendang Duwur Maulana Mansyur
162 Lampung Selatan Kalianda Raden Intan
163 Lampung Selatan Penengahan Ratu Darah Putih
164 Lampung Selatan Teluk Betung Suteng Haji A. Bakar
165 Lampung Selatan Teluk Betung Suteng Haji Subana
166 Lampung Selatan Kalianda Kaki Gunung Rajabasa Syekh Ahmad Hasanudin
167 Lampung Selatan Tanggamus K.H. Gholib
168 Lampung Tengah Kota Gajah Gajah Mada
169 Lampung Utara Tulang Bawang Menggala Tubagus Ali
170 Madiun Caruban Grabahan Kuncen Mbah Anom Besyari
171 Madiun Caruban Pertapaan Ngukiran Awangrejo Mbah Abiyoso
172 Madiun Sewulan Mbah Bagus Harun (Syaikh Basyariyyah)
173 Madiun Banjarsari Mbah Kanjeng bin Oemar
174 Madiun Geger Slambur Syaikh Abdurrohman/Syaikh Abdulloh
175 Madiun Dolopo Jati Lawang Syaikh Ahmad bin Muhammad
176 Madiun Kebonsari Kepuhbeluk Kyai M. Thohir Besyari
177 Madiun Geger Jogodayuh Syaikh Zainal Abidin
178 Madiun Kebonsari Kembangsawit Kyai Munirul Ikhwan
179 Madiun Kebonsari Setemon Mbah Chudlori
180 Madiun Kebonsari Rejosari Mbah Ali Rohmad
181 Madura Batu Ampar Mbah Basaniyah
182 Madura Batu Ampar Mbah Abu Syamsudin
183 Madura Sumenep Kyai Ahmad Joko Tole
184 Madura Bangkalan Mbah Kyai Kholil
185 Madura Sumenep Mbah Sayid Yusuf
186 Madura Sayyid Abdurrohman
187 Madura Bangkalan Bujuksara Sayyid Syarifuddin
188 Madura Bangkalan Ny. Syarifah Ambami
189 Madura Sumenep Kwanyar Sunan Cendana (Sayyid Zainal Abidin)
190 Madura Batu Ampar Syaikh Muhlis
191 Madura Pamekasan Pajegan Tamberu Sayyid Usman
192 Magelang Tidar Puncak Gunung Syaih Subakir
193 Magelang Muntilan Mbah Jogoreso
194 Magelang Tidar Syaikh Subakir
195 Magelang Mangli Mbah Hasan As’ari
196 Magelang Watucongol Mbah Kyai Dalhar
197 Magelang Gunung Pring Mbah Raden Santri
198 Magelang Salaman Mbah Ma’sum
199 Magelang Kajoran Mbah Kyai Abd. Hamid
200 Magetan Giri Purno Gunung Bancak Mbah Baidlowi
201 Malang Ngantang Mbah Dulngadim Baidowi
202 Malang Gunung Kawi Kyai Zakaria (Mbah Njugo)
203 Malang Gunung Kawi Mbah Imam Sujono
204 Mesir Idhab Syaikh Abu Hasan Assyadhily
205 Mojokerto Trowulan Troloyo Syaikh Jumadil Qubro
206 Nganjuk Sawahan Ngliman Syaikh Kyai Ageng Aliman Muhyiddin Fatah
207 Nganjuk Brebek Poleng Mbah Fatkhur Rohman
208 Nganjuk Ngliman Ampel Mbah Mahfud Khoiri
209 Nganjuk Sawahan Sitores Mbah Nur Kholifah
210 Nganjuk Ngliman Amir Mahmud
211 Nganjuk Sawahan Patihan Rowo Sayyid Abu Khoiri
212 Nganjuk Prambon Grompol Kyai Mustajab
213 Nganjuk Mojosari Mbah Kyai Zaenuddin
214 Nganjuk Wilangan Syaikh Shuluki
215 Nganjuk Sekar Putih Mbah Kyai Hakim
216 Ngawi Gerih Kedungrejo I, Guyung Syeh Maulana Muhammad Al-Misri,
217 Ngawi Gerih Kedungrejo I, Guyung Syeh Maulana Sahid Al-Mukti,
218 Ngawi Gerih Kedungrejo I, Guyung Syeh Maulana Sahid Al-Bakir,
219 Ngawi Gerih Kedungrejo I, Guyung Syeh Maulana Al-Ngalawi, dan
220 Ngawi Gerih Kedungrejo I, Guyung Syeh Maulana Ahmad Muhammad”,
221 Pacitan Manten Mbah Mughofar
222 Palembang Pemakaman Tanah Tengkurep Habib Abdurrahman bin Husin bin Hasan Maula Taqoh ( Al _Idrus)
223 Palembang Pemakaman Tanah Tengkurep Habib Muhammad Bin Yusuf Al Angkawi
224 Palembang Pemakaman Tanah Tengkurep Habib Myuhammad bin Ali AL Haddad ( Datuk Murni AL Haddad )
225 Palembang Pemakaman Tanah Tengkurep Al Habib Aqil bin Alwi
226 Palembang Pemakaman Tanah Tengkurep Habib Abdullah bin Aqil Al Mandihij
227 Palembang Pemakaman Tanah Tengkurep Hubabah Syai Nisa Binti Abdullah Al Mandihij
228 Palembang Pemakaman Tanah Tengkurep Habib Muhammad bin Ahmad Al Habsyi
229 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Ibrahim bin Zain bin Yahya
230 Palembang Pemakaman Kambang Koci Radin Ayu Aisyah Binti Sultan Mahmud Badarruddin I
231 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Abdurrahman bin Hasan Al Habsyi
232 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Abdurrahman bin Hasan Al Aidarus
233 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Syech bin Hasan Al Aidarus (Kyai Geding)
234 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Syech bin Ahmad bin Shahabudin
235 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Alwi bin Ahmad AL Kaf
236 Palembang Pemakaman Kambang Koci HAbib Muhammad bin Abdurrahman Al Munawar
237 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Ali bin Abdurrahman AL Munawwar
238 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Abdullah bin Salim Al Kaf
239 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Syech bin Alwi Al Kaf
240 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Sulaiman bin Abdullah AL Khirid
241 Palembang Pemakaman Kambang Koci Sayyid Umar bin Ali Al Junaid
242 Palembang Pemakaman Kambang Koci Habib Abdullah bin Ali Al Kaf
243 Palembang Pemakaman Kambang Koci Syayid Ali ( Mangku Kusobo )
244 Palembang Pemakaman Kambang Koci Sayyid AL Allamah Abdurrahman (Jaya Wijaya)
245 Pasuruan Kota Jl. Abdul Hamid Mbah Abdul Hamid
246 Pasuruan Segoropuro Segoropuro Sayid Arif
247 Pasuruan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf
248 Pasuruan Sayyid Sanusi
249 Pasuruan Syaikh Hasan Bashri
250 Pati Margoyoso Kajen Syaikh Ahmad Mutamakin
251 Pati Kayen Landoh Syaikh Jangkung
252 Pati Sukolilo Prawoto Sunan Prawoto
253 Pati Margoyoso Ngemplak Mbah Kyai Ronggo Kusumo
254 Pati Tayu Pundenrejo Ky. Ageng Giringan
255 Pati Tayu Kyai Sholeh Amin
256 Pati Pungel Habib Alwy Ahmad Ba Alawy
257 Pati Habib Mahdum Al-Athos
258 Pekalongan Kota Sapuro Habib Ahmad
259 Pemalang Walang Songo Muga Bating Mbah Haji Nur Asnawi
260 Pemalang Walang Songo Muga Bating Kyai Ahmad M. Abdulloh
261 Ponorogo Bethoro Katong
262 Ponorogo Jetis Tegalsari Mbah Kyai Ageng Mohammad Hasan Besyari
263 Ponorogo Jetis Mbah Hasan Anom
264 Ponorogo Gontor Mbah Kyai Zarkasi
265 Ponorogo Gontor Mbah Kyai Sahal
266 Probolinggo Genggong Mbah Nur Hasan
267 Purwodadi Ngantru Tarub Joko Tarub
268 Purwodadi Ngantru Selo Ki Ageng Selo
269 Purwodadi Nggubuk Mbah Ganjur Siroyuddin
270 Purwokerto Kebumen Ranji Syeh Mahdum Ali
271 Rembang Sarang Setumbun Mbah Imam
272 Rembang Sedan Nglapan Sayid Hamzah
273 Rembang Sarang Setubun Mbah Imam
274 Rembang Lasem Mbah Sambu Dekto
275 Rembang Lasem Mbah Kyai Ma’sum
276 Rembang Lasem Mbah Abdurrohman Basaiwan
277 Saudi Arabia Madinah Imam Hanafi
278 Semarang Gunung Berguto Mbah Sholeh
279 Semarang Kendal Kali Wungu Sunan Katong
280 Semarang Kendal Kali Wungu Mbah Musyafak
281 Semarang Kota Bergoto Pajang Mbah Sholeh Darat
282 Serang W. Kondang Warungkondang Tabib Dawud
283 Sidoarjo Pagerwojo Pagerwojo Gus Uet
284 Sidoarjo Krian Mbah Muntoho bin Zarkasi
285 Sidoarjo Pagerwojo Mbah Mas’ud
286 Solo Kenep Kedung Gudel Kyai Syarif
287 Solo Pajang Mbah Hadi Wijoyo (Joko Tingkir)
288 Solo Lawean Ki Ageng Anis
289 Solo Pajang Haji Sirod
290 Sragen Sumber Lawang Gunung Kemukus Pangeran Samodro
291 Subang Sukamandi Manganti R. Wanayasa
292 Sumatra Barat Pariaman Padang Panjang Syeh Burhanudin
293 Sumenep Tlangu Raasa Kali Anget Syaikh Yusuf
294 Sumenep Tlangu Saasa Joko Tole
295 Surabaya Semampir Ampel Sunan Ampel (Raden Rohmatulloh)
296 Surabaya Semampir Ampel Mbah Sonhaji
297 Surabaya Semampir Ampel Mbah Sholeh
298 Surabaya Wonokromo Darmo Sunan Bungkul
299 Surabaya Pasarturi Sayyid Mansyur
300 Surabaya Pasarturi Kyai Djazuli bin Mursad
301 Surabaya Mananggal Abu Hasan
302 Surabaya Kembang Kuning Maulana A. bin Karimah
303 Surabaya Sunan Boto Putih
304 Surakarta Lawean Pajang Hadi Wijoyo
305 Tasikmalaya Pangandaran Patroman Syeh Ahmad
306 Tasikmalaya Pamijahan Saparwadi Mbah Abdul Muhyiddin
307 Tegal Kramat Kramat Raden Purabaya
308 Trenggalek Durenan Gunung Cilik Mbah Badowi
309 Trenggalek Santren Mbah Begawan Turesmi
310 Trenggalek Ngantru Mbah Abd. Hamid
311 Trenggalek Panggul Mbah Mas’utbarean
312 Trenggalek Nggador Gunung Cilik Mbah Boedowi Hudoyono
313 Trenggalek Pacitan Nglorok Mbah Yahudo
314 Trenggalek Durenan Semarum Mbah Mesir
315 Trenggalek Santren Mbah Nur Muzdalifah
316 Trenggalek Karangan Sumber Mbah Nur Kholifah
317 Trenggalek Gunungcilik Kamulan Kyai Ahmad Yunus
318 Tuban Kota Kutorejo Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrohim)
319 Tuban Singgahan Nglirip Syaih Abdul Jabar
320 Tuban Semanding Gesing Sunan Geseng
321 Tuban Palang Gesik Harjo Syaikh Ibrohim Asmoroqondi
322 Tuban Semanding Bejagung Mbah Mahmudin As’ari
323 Tuban Singgahan Nglirip Mbah Abdul Jabbar
324 Tuban Jatirogo Nglepon Mbah Punjul
325 Tulung Agung Mk. Mangunsari Kyai Abd. Fatah Hasan Tholabi
326 Tulung Agung Mk. Bakalan Mbah Noeryahman
327 Tulung Agung Botoran Mbah Doel ‘Adhim
328 Tulung Agung Tawangsari Mbah Manshur Tsani
329 Tulung Agung Majan Kyai Moh. Syarif
330 Tulung Agung Majan Mbah Hasan Mimbar
331 Tulung Agung Winong Mbah Langkir
332 Tulung Agung Mk. Kedung Singkal Mbah Khusen
333 Tulung Agung Sumber Gempol Ngadirogo Mbah Hasan Ahmad Joyo Diningrat
334 Tulung Agung Sumber Gempol Ngadirogo Mbah Kyai Ageng Patmo Dilogo
335 Tulung Agung Sumber Gempol Ngadirogo Mbah Kyai Ageng Mohammad Mesir
336 Tulung Agung Sumber Gempol Habib Ahmad bin Salim Al-Muhdhor
337 Tulung Agung Tawangsari Mbah Maddhali
338 Tulung Agung Ngunut Sumur Warak Mbah Abdul Aziz bin Taruno
339 Tulung Agung Ngunut Mbah Sholeh Faruq / Mbah Wironadi
340 Tulung Agung Kalangbret Srigading Mbah Basyaruddin
341 Tulung Agung Kalangbret Bancaan Mojosari Mbah Mansoer
342 Tulung Agung Sumput B. Rejo Kyai Abd. Hamid bin Ahmad
343 Tulung Agung Kalangbret Kauman Mbah Ghozali
344 Tulung Agung Kalangbret Bancaan Mbah Mustaham
345 Tulung Agung Karangwaru Imam Hambali bin Rohmad
346 Tulung Agung Kauman Mbah Kyai Mustaqim
347 Tulung Agung Karangbret Kauman Mbah Hasan Mimbar
348 Tulung Agung Gondang Macan Bang Sunan Kuning / Imam Hanafi / Zainal Abidin
349 Tulung Agung Sembung Cepean Mbah Abu Sujak
350 Tulung Agung Kali Turi Mbah Hasan Anom As’ari
351 Tulung Agung Notorejo Mbah Jauhari Mahmud
352 Tulung Agung Boyolangu Tanggung Mbah Abdulloh Fatah (Surontani)
353 Tulung Agung Campurdarat Mbah Mundir Madrawi
354 Tulung Agung Bedalem Mbah Raden Fatah bin Qosim
355 Tulung Agung Bedalem Mbah Toermudi bin Munir
356 Tulung Agung Pakel Bangunmulyo Mbah Abu Yusak bin Rokib
357 Tulung Agung Campurdarat KH. Dimyati
358 Tulung Agung Campurdarat Sayid Mursad
359 Tulung Agung Popoh Guru Wali (Nurhidayatulloh)
360 Tulung Agung Pakel Bangunmulyo Mbah Mahmud bin Tohir
361 Tulung Agung Pakel Bangunmulyo Abu Hasan bin Rowi
362 Tulung Agung Ngantru Pojok Syaikh Wahyuddin Baidlowi
363 Tulung Agung Sembung Gadingan Mbah Zarkasi bin Mahmud
364 Tulung Agung Bolorejo Tanijayan Mbah Kurdi bin Hudoyono
365 Tulung Agung Gondang Klampisan Mbah Maulana
366 Tulung Agung Besuki Keboireng Mbah Hasan Anom
367 Tulungagung Ngujang Mbah Syarqowi / Mbah Witono
368 Tulungagung Mbah Santri
369 Yogyakarta Bantul Parangtritis Parangkusumo Syeh Maulana Maghribi
370 Yogyakarta Kota Gede Sutowijoyo (Pangeran Senopati)
371 Yogyakarta Imogiri I.M Sujono (HB. Awal)
372 Yogyakarta Kali Urang Gunung Dorgo Mbah Jemadikubro
373 Yogyakarta Imogiri Sultan Agung
374 Yogyakarta Jati Anom Syeikh Ahmad Al-Maghrobi
375 Yogyakarta Lempuyangan Mbah Kyai Ashari
376 Yogyakarta Krapyak Mbah Kyai Munawir
377 Yogyakarta Mlangi Mbah Nuriman
378 Yogyakarta Lempuyangan Kyai Ahmad Dardiri
379 Habib Malik Abdulloh bin Ali
380 Habib Umar bin Abdurrohman Al Athos
381 Jenderal Ahmad Yani
382 Pengeran Diponegoro
383 Syaikh Abi Hasan Asy Syadzili
384 Syaikh Abi Yazid Al- Busthomi
385 Syaikh Abi Qosim Wali Junaid Al- Baghdadi
386 Syaikh Ma’ruf Al-Kurkhi
387 Mbah Wali Ashof Bin Barkhoya
388 Syaikh Abu Najib Asy Syahrowardi
389 Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Ismail
390 Syaikh Jalaludin Al-Mahali
391 Syaikh Jalaludin As Suyuthi
392 Syaikh Yusuf Hamdani
393 Syaikh Uwais Al-Qoroni
394 Syaikh Bahauddin An-Naqsabandi
395 Kyai Abdul Salam
396 Pangeran Papak Garut
397 Syaikh Ihsan Harits / Sultan Hadiwijoyo / Joko Tingkir
398 Syaikh Maulana Ishaq

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Artikel ini.

Amiin ya Rabbal ‘Alamin

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

AMALAN WIRID DAN DO’A SANTRI BENGKEL AKHLAQ PADEPOKAN DZIKIR DAN TA’LIM BUMIAJI PANATAGAMA

(1)
SYAHADAT PANETEP PANATAGAMA

Syahadatain Dan Doa

NIAT INGSUN,
NGERAWUHI SYAHADAT PANETEP PANATAGAMA
ROH IDLAFI KANG DADI TELENGING ATI
KANG DADI PANCERING URIP
KANG DADI LAJERING ALLAH
KANG MADHEP MARING ALLAH
YO INGSUN SEJATINING MANUNGSO SAMPURNO
SELAMET DUNYO – SELAMET AKHIR
YEN ALUM SIRAMONO
YEN DHOYONG JEJEGNO
JEG – JEJEG SOKO KARSANING ALLAH
LAILAHA ILLALLAH
MUHAMMADUR ROSULULLAH

AL FATIHAH ……….

(2)
SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT
PANGRUWATING DIYU
ING DHALEM PANEMBAH DHUMATENG GUSTI ALLAH SWT

GEDHONG SUKMO TUTUP SUKMO
KANCING ROSO PURBO WASESO LANGGENG
YO INGSUN PANGERAN SADIRUM
TEKO JALEG LUNGO JALEG
SANG HYANG WURYAN
WURYAN KATON WURYAN KETEMU
ILLALLAH – ILLALLAH – ILLALLAH
SYAHADAT TANPO SYAHADU
ILAFISYRIKA ORA ONO ING PANGERAN
NANGING ALLAH KANG SINEMBAH
SATUHUNE DUH ALLAH
KAWULO MASRAHAKEN DUSO KAWULO
MUGI DIPUN NGAPURO’O SAKATAHING DUSO KAWULO
KAWULO NYUWUN WILUJENG

AL FATIHAH………

(3)
QULHU GENI
NIAT INGSUN MATEK AJI QULHU GENI
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
QULHU GENI
BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
QULHU ALLAHU AHAD
KUN FAYAKUN MASYA’ALLAH
YA DZIRU ABADA ABADA

AL FATIHAH……….

(4)
QULHU SUNGSANG
NIAT INGSUN MATEK AJI QULHU SUNGSANG
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
RAJA IMAN
KUDHUNG-KU MALAIKAT JIBRIL
TEKEN-KU KANG NUNTUN KANJENG NABI MUHAMMAD
LAILAHA ILLALLAH
MUHAMMADUR ROSULULLAH

AL FATIHAH……….

(5)
QULHU BALIK
NIAT INGSUN MATEK AJI QULHU BALIK
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
SATO MORO SATO MATI
JALMO MORO JALMO MATI
SYETAN MORO SYETAN MATI
BUNO MORO BUNO MATI
ANTU MORO ANTU MATI
IBLIS MORO IBLIS MATI
MALING MORO MALING MATI
SEDYO OLO MATI SAKING PITULUNGANING ALLAH
LAILAHA ILLALLAH
MUHAMMADUR ROSULULLAH

AL FATIHAH……….
(6)
QULHU BUNTET
NIAT INGSUN MATEK AJI QULHU BUNTET
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
BADAN INGSUN KANGJENG NABI PANUTAN
ROSO INGSUN ROSUL
TEKEN INGSUN PORO MALAIKAT
LUPUTO KANG DEN ARAH
BALIK’O MARANG KANG NGARAH
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL’ALIYYIL’ADZIM

AL FATIHAH……….

(7)
QULHU PAYUNG ALLAH
NIAT INGSUN MATEK AJI QULHU PAYUNG ALLAH
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
ALLAHUMAH QULHU ALLAH
BADAN ALLAH
ROH ALLAH
JASAD ALLAH
KUDHUNG ALLAH
PAYUNG ALLAH
PAGER ALLAH
SOPO KANG SEDYO CIDERO OLO JAIL MARING AKU
DADI SATRUNE ALLAH
INKANAT ILLA SHOIHATAN WAKHIDATAN
FAIDZAHUM KHOMIDUUN

AL FATIHAH………
(8)
QULHU SEPUH
NIAT INGSUN MATEK AJI QULHU SEPUH
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
QULHU BALIK BOLAK BALIK
TANSA KUWALAK WALIK
PANUJUMU LUPUT BALIK
KENO’O KANG NUJU BALIK’O
BALEKNO – BALEKNO – BALEKNO
BALIK’O MARANG SIRO
LAILAHA ILLALLAH
MUHAMMADUR ROSULULLAH

AL FATIHAH……….

(9)
QULHU DURGO TELUH
NIAT INGSUN MATEK AJI QULHU DURGO TELUH
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
ALLAHUMMAH QULHU DURGO TELUH
BOLAK BALEK KASUMPET
MORO NGETAN PEPET
NGALOR NGEDUL SUMPET
NGULON RAPET
KARSANING ALLAH
ONO TENGAH DHELEG – DHELEG NGEDHEPREG
BINGUNG KAMI TEGENGEN

AL FATIHAH……….

(10)
MANTRA SANG KOLO COKRO
NIAT INGSUN MATEK AJI SANG KOLO COKRO
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
INGSUNG TADZALING DZAT KANG MOHO SUCI
KANG MOHO AMISESO
KANG KUWOSO ANGANDIKO KUN FAYAKUN
DADI SACIPTANINGSUN
TUMEKO SAK KARSANINGSUNG
ALLAHU ALLAHU
YA MAROJA – JAROMAYA
YA MARANI – NIRAMAYA
YA SILAFA – FALASIYA
YA MIRODA – DAROMIYA
YA MIDOSA – SADOMIYA
YA DAYUDA – DAYUDAYA
YA CIYACA – CAYACIYA
YA SIHAMA – MAHASIYA

AL FATIHAH……….
AJI LAMPAH LUMPUH
(11)
ADEG-ADEGKU BUMI PERTIWI.
PAYUNGKU BOPO RINO KAWOSO.
SADULURKU KIBLAT PAPAT.
MOTOKU PANGUWOSO JAGAD KAWOSO.
HONOCOROKO= HONO NING CIPTO ROGO KARSO.
DOTOSOWOLO= DATAN SALAH WAHYUNING LUMPUH.
PODOJOYONYO= PADANG JAGADE NYURUPONO.
MOGOBOTONGO= MARANG GAMBARAN ING BATHORO NGATON.

Di Baca 33 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.
AJI LEBUR SAKTI
(12)
SYAHADATAIN
NIAT INGSUN MANUNGGAL’AKEN NAPAS PAPAT, MBALEK’AKE SENGKOLONE……..
(ILMU PETENG/ JIN/ SYETAN PREWANGANE…………………………..)
QULHU BALIK AMBETO JABRO’IL, LUPUTNO PONCOBOYO,
QULHU BALIK 3x.
NGOTOBOGOMO,
NYOYOJODOPO,
LOWOSOTODO,
KOROCONOHO,
DINO LIMO ORA KENO KINOCO,
LEBUR ING PANGASTUTI
(SAKABEHANE ILMU PETENG/ JIN/ SYETAN PREWANGANE……………..)
PAPAN LEBUR TULIS ILANG, DINO LIMO ORA KENO KINOCO,
LEBUR ING PANGASTUTI, SOKO KARSANING ALLAH.
Di Baca 33 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.
AJI PANGUASANE GIGIR
CEMETI AMAR ROSULI
(13)
NAWAITU MINAKIBARI
BIBIHALIKAT HAPIKA KARJA, 33x.
GURUKU GENI, RATUKU GENI,
MUSTIKAKU GENI,
AKU ‘JALUK GAWEMU……………….
(LEBURNO ILMU KADEGDAYANE………….)
SOKO KARSANING ALLAH.

Di Baca 33 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.
MANTRA AWET MUDA
(14)
Assalamu’alaikum….
Wa’alaikum Salam,
Sumirat Dayaning AllahMacrut Dayaning,
Hek Yo Aku Mustikaning Allah.
Di Baca 28 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.
MANTRA MENDATANGKAN JODOH
(15)
Ya Udzat – Ya Udzat – Ya Udzat,
Sun Angirup Sakehing Roh.
Roh Idlafi Tumrap Sajroning Roh,
Roh Sing Dadi JodohKu Tekakno NgarepKu.
RosoKu Yo RosoMu, Yo MalaikatKu Yo MalaikatKu
Yo GustiKu Yo GustiMu.
Di Baca 7 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.

MANTRA AJI SRI WIDORO
(16)
NIAT INGSUN MATEK AJI SRI WIDORO
LAHAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAHIL ’ALIYYIL ’ADZIM

AjiKu Sri Widoro,
EsemKu Dewi Suprobo,
LiringKu Dewi Ratih,
Sing Andulu Sing Andeleng,
Teko Welas Teko Asih
Teko Dhemen Teko Kangen……………..
Menyang Ing JiwaKu,
Saking Karsaning Allah.

Di Baca 7 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.

MANTRA PANYUWUNAN
(17)
Assalamu’alaikum….
Wa’alaikum Salam,
Junjung – Junjungen DerajatKu,
Dohno BilahiKu,
CedakNo RezekiKu,
Iberno TekadKu Sing Suci,
Opo Sing Tak Sedyo Ojo Nganti Dino.
Di Baca 7 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.

MANTRA DERAJAT UTAMA
(18)
BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIM
Allahumma Alfidarojati Wa Alfi Barokati
Wa Alfi Nikmati Wa Alfi ‘Alayati,
Wa Alfi Fihi Birohmatika Ya Arhamar Rohimin.
Di Baca 7 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.
MANTRA MANDI AWET AYU LUAR DALAM
(19)
Niat Ingsun Adus Cahyo Cahyo,
Ingsun Ngirup Cahyaning Wong Sak Buwono,
Yo Aku Titisane Dewi Sri,
Kanggonan Ka-Eloking Pangeran,
EsemKu Koyo Sri Widoro,
RupaKu Dewi Ratih,
Teko Welas – Teko Lulut – Teko Asih
Sopo Kang Andulu Badan SaliraKu,
Saking Kersaning Allah.

Di Baca 7 x, Saat Mandi Kembang Setaman Setiap Malam Kelahiran/ Weton, Selama 7x Weton (7 Bulan).

MANTRA PENGASIHAN SULTAN AGUNG
(20)
Yahu Allah… Yahu Allah… Yahu Allah…
Shollallahu Alaihi Wassalam,
Aku Manik Astagina, Cahyo Cahyane Wong Sak Jagad
Ono Ingsun Kabeh, Roh Idlafi Ing Dzattullah,
Sir Banyu Ingsun, Bayu Sak Roso Dadi Sawiji,
Rohso Manjing Astagina,
Teko Welas Teko Asih………(Sebut Nama Orang Tsb),
Marang Aku.

Di Baca 33 x, Setelah Sholat Maghrib Dan Sholat Shubuh.
MANTRA MEMANGGIL RUH DAN ARWAH
(21)

1. Baca/ Panggil Malaikat Sam Hahirin Dan Sam Khohirin= 100x
2. Baca Wirid: Inkuntum Hadlortum Ayyatuhal ‘Arwahu Fa’aruni Syu’a ‘Anurikum= 100x
Di Baca Setelah Sholat Tahajud Dan Sholat Hajat.
MANTRA MEMANGGIL/ IZIN PEDANYANGAN

Nini Danyang Kaki Danyang,
Mbok Aryat Mbok Aji Syah Surat Mesyah,
Manik Moyo Durgo Bumi Ratu Pangayutan,
Ing ………………… (Sebutkan Nama Lokasi Tsb),
Sowan Kulo Ngriki Paring Pisusum Sekar Gondo Arum
Kelawan Kukuse Dupo Kumelun,
Sak Perlu ………………………. (Sebutkan Maksud Dan Tujuan),
Kelawan Ridloh Lan Pangestunipun Gusti Allah Swt.

Di Baca 7 x, Saat Ada Hajat Di Suatu Tempat Yang Wingit.
MANTRA MENGANGKAT PUSAKA DAN HARTA KARUN
(22)
1. Baca/ Panggil Dengan Wirid: Kun Fayakun, Jabbarin, Jabbarotin, Wa Jannatun Na’im= 100x
2. Baca Mantra Untuk Mengunci Pusaka Dan Harta Karun Tsb Agar Tidak Lari:
Guruning Bumi Ratuning Bumi Mustikaning Bumi,
Aku Njaluk PanguasaMu, Umbulno Sak Jroning IsiMu Bumi ……………………….
Guruning Angin Ratuning Angin Mustikaning Angin,
Aku Njaluk PanguasaMu, Biso’o Keno Opo Kang Dadi KekarepanKu ………………………..
(Titik- Titik Tsb Di Sebutkan Apa Yang Di Inginkan).
Kelawan Ridloh Lan Pangestunipun Gusti Allah Swt.
3. Baca Wirid: Wallahu Mukhrijum Maa Kuntum Taktumun= 100x
4. Baca Wirid: Bismillahi Aqwatuhu Bismillahi Qo’imatuhu
Laahaula Wala Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adzim= 100x
5. Baca Wirid: Nasyrun Minallahi Wa Fathkhun Qorib= 100x

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Artikel ini.

Amiin ya Rabbal ‘Alamin

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

SHOLAT SUNNAH HAJAT (LIDAF’IL BALA’ ) PADA HARI RABU TERAKHIR BULAN SHAFFAR 1435 H (24 DESEMBER 2013)

Shalat sunnah lidaf’il bala’ (tolak bala’) merupakan shalat sunnah hajat yang dikerjakan pada malam atau hari rabu akhir bulan Safar, tepatnya pada hari rabu pada pekan keempat. Shalat sunnah ini dikerjakan empat rakaat dua salam dan dilaksanakan secara berjamaah.

Shalat sunnah ini dilakukan dalam rangka mengajak Waspada sekaligus menenangkan umat dalam rangka berlindung kepada Allah akan datangnya bala’ dan bencana yang terjadi pada bulan Shaffar. Awal mula munculnya ibadah ini adalah berdasarkan ilham dan ijtihad para ulama’ Salaf maupun Ulama’ Sufiyah terdahulu yang teringat bahwa bulan Shaffar adalah bulan yang penuh dengan kesialan juga malapetaka, dan hari rabu pekan keempat merupakan hari yang paling na’as pada bulan itu.

Seorang Sufi asal India, Ibnu Khothiruddin Al-Atthor (Wafat Tahun 970 H/ 1562 M), dalam kitab “Jawahir Al-Khomsi” menyebutkan, Syekh Al-Kamil Farid-Din Sakarjani, telah berkata bahwa dia melihat dalam “Al-Awrad Al-Khawarija” nya Syekh Mu’inuddin sebagai berikut:

أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلاَثُمِائَةِ اَلْفٍ وَعِشْرِيْنَ أَلَفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّهَا فَيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِرَةِ مِنْ شَهْرِ صَفَرِ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبُ أَيِّمِ تِلْكَ السَّنَةِ، فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرُأُ فِيْ كُلِّ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ سَبْعَةَ عَشَرَ وَالْإِخْلاَصَ خَمْسَ مَرَّاتٍ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّاةً وِيَدْعُوْ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفَظَهُ االلهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلاَيَا الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَمْ تُحْمَ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلاَيَا إِلَى تَمَام السَّنَةِ.

Artinya: “Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan sekitar 320.000 macam bala’ yang semuanya ditimpakan pada hari rabu akhir bulan Safar. Maka hari itu adalah hari tersulit dalam tahun itu. Barang siapa shalat empat rakaat pada hari itu, dengan membaca di masing-masing rakaatnya setelah Al-Fatihah yakni surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, mu’awwidzatain masing-masing satu kali dan berdoa-do’anya Insya Allah akan disebutkan setelah ini–, maka dengan sifat karomnya Allah, Allah akan menjaganya dari semua bala’ yang turun pada hari itu dan di sekelilingnya akan terhindar dari bala’ tersebut sampai genap setahun”.

PELAKSANAAN SHOLAT SUNNAH LIDAF’IL BALA’
PADA HARI SELASA MALAM RABU TERAKHIR DI BULAN SHAFFAR 1435H (24 DESEMBER 2013)

Kepada Jama’ah Muslimin dan Muslimat serta Seluruh Santri/ wati dan Jama’ah Bengkel Akhlaq Padepokan Dzikir dan Ta’lim Bumiaji Panatagama, Di Umumkan bahwa pada tanggal Hari Selasa, 24 DESEMBER 2013, Pukul 18.00 WIB. bertepatan dengan 20 shoffar 1435 H, Adalah hari Rabu terakhir di bulan shaffar, kita dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunah untuk menolak balak/ LIDAF’IL BALA’.

Pelaksanaan sholat sunat Lidaf’il Bala’ diambil dari keterangan yang tercantum dalam kitab al-Jawahir al-Khomsi halaman 51-52. dilaksanakan pada Selasa Malam Rabu terakhir bulan Shoffar, sebanyak 4 rakaat 2 kali salam. Niatnya :

اُصَلِّي سُنَّةً لِدَفْعِ الْبَلاَءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Saya berniat sholat sunnah untuk tolak bala’ dua rakaat karerna Allah Swt.

Setiap rakaat setelah Al Fatihah membaca :
– Surat Al Kaustar 17 kali,
– Surat Al Ikhlash 5 kali,
– Surat Al Falaq dan An Naas masing-masing 1 kali

Sebelum melaksanakan sholat Lidaf’il Bala’ membaca istighfar :

اَسْتَغْفِرُالله الْعَظِيمْ اَلَّّذِيْ لَاإِلَهَ إلاَّ هُوَالْحَىُّ الْقَيُّومُ وَاَتُوبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لآيَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا ولآنَفْعًاوَلآمَوْتًا ولآحَيَاتًا وَلآنُشُورًا

Saya memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Saya mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tuhan yang hidup terus dan berdiri dengan sendiri-Nya. Saya mohon taubat selaku seorang hamba yang banyak berbuat dosa, yang tidak mempunyai daya upaya apa-apa untuk berbuat mudharat atau manfaat untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.

Do’a setelah shalat Lidaf’il Bala’:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمْ يَاشَدِيْدُالْقُوَّى وَيَاشَدِيْدَالْمِحَالِ اّللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُبِكَ بِكَلِمَتِكَ التَّّآمَّاتِ كُلِّهَا مِنَ الرِّيحِ الْاَحْمَرِ وَمِنَ
الدَّاءِ الْاَكْبَرِ فِي النَّفْسِ وَالدَّمِّ وَاللَّحْمِ وَالْعُظْمِ وَالْْجُلُوْدِ وَالْعُرُوقِ سُبْحَانَكَ إِذَاقَضَيْتَ اَمْرًا أَنْتَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونَ , اَللهُ اَكْبَرْ
اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ برحمتك يآارحم الرّا حمين

“Bismiillaahiirahmaaniirahiim, yaa syadiidulquwwaa wa yaa syadiidaalmihaali, Allahumma innii a’udzuubika bikalimaatikat taammaati kullihaa minar riihil ahmari waminad daa-il akbari fin nafsi waddami wallahmi wal’udzmi waljuluudi wal’uruuqi subhaanaka idzaa qhodhoita amron an taquula lahuu kun fayakuun (Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar) birrohmatika yaa arhamarrohimiin.”

Artinya : “Ya Allah, dengan kalimat-Mu yang sempurna, sesungguhnya aku berlindung dari Riihil Ahmar (Angin Merah) dan dari cobaan yang besar dalam diri, dalam darah, dalam daging, dalam tulang, dan dalam setiap tetes keringat. Maha Suci Engkau (Dzat Yang) jika Engkau menghendaki sesuatu maka Engkau berkata padanya : ‘Jadilah’, maka jadilah. (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar), dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Maka sangat tidak benar, apabila shalat ini dianggap sebagai Amalan Bid’ah yang Menyesatkan dan statusnya Haram dikerjakan oleh umat Islam.

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Artikel ini.

Amiin ya Rabbal ‘Alamin

Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

Makna Kata Dalam Mantra Sang Kolo Cokro

YA MAROJA JAROMA YA
YA MARANI NIRAMA YA
YA SILAPA PALASI YA
YA MIRODA DAROMI YA
YA MIDOSA SADOMI YA
YA DAYUDA DAYUDA YA
YA CIYACA CAYACI YA
YA SIHAMA MAHASI YA
NGOTOBOGOMO – NYOYOJODOPO – LOWOSOTODO – KOROCONOHO
Inilah arti Kalimat Di Atas Yang Berasal dari bahasa sansekerta dari berbagai sumber:
-YA MAROJA JAROMA YA
siapa yang menyerang, berbalik menjadi berbelas kasihan.
-YA MARANI NIRAMA YA
siapa datang bermaksud buruk, malah akan menjauh.
-YA SILAPA PALASI YA
siapa membuat lapar akan malah memberi makan.
-YA MIRODA DAROMI YA
siapa memaksa malah menjadi memberi keleluasaan/ kebebasan
-YA MIDOSA SADOMI YA
siapa membuat dosa, berbalik membuat jasa
-YA DAYUDA DAYUDA YA
siapa memerangi, berbalik menjadi damai
-YA SIYACA CAYASI YA
siapa membuat celaka berbalik menjadi membuat sehat dan sejahtera
-YA SIHAMA MAHASI YA
siapa membuat rusak berbalik menjadi membangun dan sayang.

NGOTOBOGOMO – NYOYOJODOPO – LOWOSOTODO – KOROCONOHO
(Adalah Huruf Jawa Yang Di Lafatkan Dari Belakang Ke Depan)

Yang Makna Huruf Tersebut Memiliki Falsafah Hidup Yang Luar Biasa, Sebagaimana Yang Di Ajarkan Paku Buwono IX, Sebagaimana Berikut:

Ajaran Filsafat Pagesangan Paku Buwono IX Adhedhasar Aksoro Jawi;

Ho-no-co-ro-ko ateges ono utusan yoiku utusan urip, wujude napas sing kajibah manunggalake jiwo lan rogoning manungso. Maksute ono sing paring kapercayaan, ono sing dipercoyo, lan ono sing dipercoyo kanggo makaryo. Telung perkoro iku ananging Alloh, manungso lan jejibahane manungso (minongko titah).

Do-to-so-wo-lo ateges manungso sawise cinipto nganti tekan saate tinimbalan, ora biso nolak utowo endho opo dene semoyo. Manungso lan samubarange kudu ndherek sendiko dhawuh, nompo sarto nindakake kersane Alloh.

Po-dho-jo-yo-nyo ateges manunggale Dzat Kang Ngcet Lombok(Kholik) karo sing diparingi urip (makhluk). Karepe cocog nunggal batine sing bisa disawang ing sajrone solah bawane adhedhasar kaluhuran lan kautaman. Joyo iku menang, unggul sing sabener-benere, ora mung menang-menangan utawa menang ora sportip.

Mo-go-bo-tho-ngo ateges nompo sakabehing dhedhawuhan sarto larangane Alloh Kang Moho Kuwoso (takwa). Maksude, manungso kudu pasrah, sumarah marang garising diwajibke, senajanto manungso diparingi wenang kanggo ngiradati, budidoyo kanggo nanggulangi. Wusanane, kabeh mung ono panguwasane Alloh

Ya ALLAH….
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.
Aamiin ya Rabbal’alamin
Di Publikasikan Oleh:

KH.M.Musyrifin Panatagama Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir