MENGENALI JATI DIRI/ SEJATINE INGSUN

MENGENALI JATI DIRI/ SEJATINE INGSUN

Orang yang mengetahui “kembang tepus” niscaya dia akan mengerti artadaya. Ia akan mengenal Dirinya sendiri. dan, ternyata artadaya itu satu asal dengan “sang hidup” (sukma sejati dan roh kudus/ saudara sejati). Satu pancer dengan hidupnya manusia. satu turunan! Baik artadaya maupun sang hidup muncul dari sumber yang sama, yaitu cahaya yang terpuji , dalam bahasa arabnya disebut “Nur Muhammad” atau al-haqiqah al-muhhamadiyyah. Hakikat cahay yang terpuji juga disebut sebagai “hakikat Budha” atau “hakikat Yesus”, tetapi sunan Kalijaga menyebutnya dalam ungkapan jawa “kembang tepus”.
Tanaman tepus termasuk dalam keluarga jahe-jahean dan sudah dikenal sejak zaman kuno. Tumbuhan ini mudah sekali berkembang biak dengan rimpang atau akarnya. Batang, daun, dan bunganya tumbuh dari akar yang sama. Jadi, daya kuasa dan hidupnya bunga tepus itu satu pancer. manusia yang terdiri dari wujud lahiriah dan uripe, hidupnya, juga satu akar. satu pohon! Keduanya berasal dari cahaya yang terpuji. Dan, cahaya yang terpuji ini berasal dari Cahaya illahi. Cahaya di atas cahaya. Allah adalah Cahaya di atas cahaya. Nur ala nur (Q.S.24:35).
Bagi mereka yang hobi membaca hadis, dia pasti tahu tentang adnya hadis yang menerangkan bahwa segala sesuatu di alam raya ini berasal dari cahaya yang terpuji, cahya kanga pinuji, ya Nur Muhammad. Hadis ini sebenarnya mengingatkan kita bahwa semua ini, baik berupa langit dan bumi maupun hewan dan tumbuhan, asal-usulnya sama dengan manusia dan jiwanya. Semuanya berasal dari cahaya yang terpuji. Tak ada yang muncul dari akar yang lain. Cuma Artadaya ini bisa menjadi tirai bagi sang diri dalam melihat Dia.
Kalau kita sudah mengetahui bahwa segala usul segala sesuatu itu sama, maka kita harus bisa saling mengenal. Dan lewat roh kudus atau saudara sejati kita dapat saling berkomunikasi dengan tumbuh2an, hewan, bebatuan, sungai dlll yang ada di alam ini.
Adanya hijab, tabir yang menutupi pengetahuan manusia tentang asal-usul dan tujuannya, menyebabkan manusia gampang terperosok hidupnya. Artadaya yang berguna untuk menepuh perjalanan hidupnya, malah sering membelenggu manusia itu sendiri. Keinginan manusia untuk bisa lepas dari bumi, malah membuatnya terjerat di bumi. Keinginan manusia untuk hidup merdeka, malah saling sikut untuk manguasai yang alain.
Manusia harus mengetahui bungat tepus. mengetahui dzat dan sifatnya sendiri. dalam diolgnya dengan nabi Khidir, sunan kalijaga diingatkan agar dalam hidup ini tidak sekedar berjalan, tetapi sungguh2 melihat apa yang ada disekelilingnya. Tanpa memperjatikan dengan sungguh2 manusia akan kehilangan jati dirinya. Akan tetapi kehilangan orientasi hidupnya. Tujuan hidupnya.
Dalam petualangan mistiknya ketika sunan Kalijaga bertemu nabi Khidir AS, sunan menyampaikan kisahnya sebagai berikut:
“Ingkang dihin sira anon cahyo
gumawang tan wruh arane
pancamaya punika
sejatine tyas sayekti
pangarepe sariro
pancmaya iku
ingaran muka sipat
ingkang nuntun sipat kang linuwih
yeku asline sipat”
“Yang pertama kau lihat cahaya, yang mencorong tapi kau tak tahu namanya. Itulah pancamaya! Yang senyata-nyatanya ada di dalam hati. Mengatur badan manusia. Pancamaya itu, juga dinamakan mukasyafah. menuntun sifat-sifat mulia sifat asal diri manusia.”
Jelas sekali bahwa di dlam lubuk hati terdalam manusia ada pancamaya. perlu diperhatikan , bahwa yang disebut “hati” disini bukanlah organ fisik manusia yang terletak disebelah kanan dada. bukan itu, melainkan hati dalam makna rohani. Suatu tempat dialam gaib yang juga tempat bagi Betal mukaram. Tetapi ada relasi atau hubungan anatara alam gaib dan alam nyata. lalu apa yang disebut pancamaya?
Kalau diterjemahkan secara harfiah, pancamaya artinya lima bayangan. namun kata maya juga bisa bermakna aneka warna, berbagai macam. pancamaya merupakan pelita asal yang ada pada manusia. Aneka warna tersebut melambangkan berbagai sifat mulia Tuhan yang sering disebut sebagai asmaul husna yang terdiri dari 99. Manusia dianugrahi sifat mulia tersebut kecuali agung karena agung hanya kepunyaan Allah. Dan sifat mulia pada mausia bukan “Yang Maha” karena itupun juga hanya kepunyaan Allah. Sebagai contoh, Allah adalah maha pemurah dan manusia sebenarnya juga mempunyai sifat pemurah sehinnga biasanya kita bersedekah pada orang yang membutuhkan. Allah adalah Maha Penyayang dan manusia mempunyai sifat penyayang yang digunakan untuk menyayangi orang tua, pasangan, anak dll. Tapi perlu diingat bahwa sifat mulia yang ada pada manusia bukan “yang maha”.
Kodrat tertanam di dalam benih. ketika Sang Diri melakukan mikraj dari betal makmur dan turun ke Betal mukadas, sang hartati menyambut kedatanganya. Dia membawakan kodrat bagi sang diri. Sang hartati membawa sarana bagi sang diri. Bersatunya sang diri dengan sang hartati menjelma menjadi bayi yang disebut sebagai wujud dari artadaya.
Pancamaya mengarahkan manusia unatuka memiliki sifat mulia. Dan sifat2 mulia sebenarnya merupakan sifat asli manusia. Disebut juga mukasyafah. Sifat yang terseingkap hijabnya. Terbuka topengnya. Ini artinya berbagai kejahatan itu baru timbul dibelakang hari. Bukan sifat asli yang tertananam di dalam jati diri manusia. Sering kita berkata dalam hidup ini kita harus mendengarkan suara hati nurani, hati yang bercahaya. Pancamaya ini di alam gaib memancarkan sinarnya yang terang sekali. Mencorong, karena beraneka warna yang melambangkan berbagai sifat mulia yang dianugrahkan pada manusia menyatu sehingga tampaklah sinar yang terang mencorong. Jadi selama orang mendengarkan suara hati nuraninya, mengikuti pancamaya maka ia tak akan tersesat dlam hidup ini.
Persoalannya, pancamaya ini bersandangkan Artadaya. Terselimuti oleh nafsu, pancamaya terselubungi oleh daya dan kekuatan untuk kelangsungan hidupnya di bumi ini. Tanpa artadaya manusia akan kehilangan vitalitas hidupnya.
Sifat asli jati diri manusia adalah ketenangan, kedamaian, ketentraman sehingga pancamaya memancarkan cahaya warna puih bagaikan matahari. Meski pancaran sinarnya terdiri dari beraneka warna tetapi tampak putih belaka. Dan warna putih melambangkan kesucian batin manusia. Akan tetapi pancmaya tertutupi oleh tiga kekuatan alam, yaitu kekuatan yang diwariskan oleh orang tua, kekuatan unsur preyo dan unsue sreyo sebagaimana telah dijelaskan di atas. Tiga kekuatan itu dilambangkan dengan warna hitam, merah dna kuning. dan warna putih adalah kesucian hati manusia. Ketiga kekuatan itu menjadi penghalang bagi manusia untuk manunggal dengan Yang Maha Kuasa. Nmun bila manusia bisa mengendalikan tiga kekuatan tersebut, maka akan menjadi positif dan berguna bagi kehidupan manusia. Dalam khasanah tasawuf, empat daya yang berwarna hitam, merah, kuning dan putih itu dipandang sebagai kekuatan jiwa atau nafsu: al-amarah. al-lawwamah, al-shufiah dan al-muthmainah.
Dalam Pupuh 4 (dandhanggula) bait ke 17 suluk linglung sebagi berikut:
“Sirna patang prakara na malih
urub siji wewulo warnanya
seh melaya lon ature
punapa wastanipun
urub siji wewolu warni
pundi ingkang sanyata
urub kang satuhu
wonten kadi retno mancar
wonten kadi maya-maya ngebati
wonten abra markata”
” Empat warna lenyap. Muncul yang lain. Satu nyala delapan warna. Syekh Melaya berkata pelan: ” apakah namanya? Satu nyala delapan warna itu, mana yang sejati, nyala yang sebenarnya? ada yang seperti mutiara bersinar kemilau. Ada yang bagaikan sinar warna-warni menakjubjan. ada yang terang gemerlapan”.

Manusia sejatinya adalah roh suci yang ditemani oleh sukma sejati yaitu penunjuk apa tugas dan peran kita di dunia ini sebagai khalifah dan roh kudus atau saudara sejati adalah penuntun kita untuk menjalani tugas kita di dunia ini. dan roh suci, sukma sejati, saudar sejati berasal dari satu pancer atau sumber yaitu nur muhammad atau cahaya terpuji. Setelah dalam perjalanan mistiknya sunan kalijaga mengetahui cahaya seperti yang diceritakan di atas, beliau bertanya pada saudara sejatinya.
Dalam bait selanjutnya saudar sejati menjawab pertanyaan sunan. bahwa warna2 yang gemebyar itu sebenarnya satu. Berasal dari wujud yang satu. Sebagimana roh suci, sukma sejati dan saudara sejati atau roh kudus itu satu asal usulnya. Namun , beraneka warnanya sehingga dijelaskan bahwa semua warna yang dilihat oleh sunsn itumerupaka perlambang bagi seluruh isinya bumi dan langit. Artinya, segenap isinya bumi dan langit itu ada pada tubuh manusia. baik dalam suluk linglungnya sunan kalijaga maupun yang terdapat dalam “Bima Suci Kidung Basa Mardawa” disebutkan bahwa kedelapan warnia ini juga merupakan miniatur jagad raya yang ada di dalam diri manusia.
Saudara sejati selanjutnya menerangkan bahwa apa yang dapat disaksikan dalam keadaan meditasi bukanlah Tuhan. Yang menguasai segala keadaan yaitu Tuhan yang maha Esa, tidak dapat dilihat. Dia tidak mempunyai rupa, tidak berwarna, tak berwujud, tidak dapat dikhayalkan, tanpa tempat tinggal. Dia hanya terjangkau oleh orang yang hatinya awas. Hanya isyarat atau perlambangya yang memenuhi semesta. Meski dekat, tetapi tidak dapat disentuh. Tuhan dinyatakan sebagai “tan kena kinaya ngapa”. Dia tidak dapatdigambarkan seperti apaun. Dia hanya bisa disifati dengan sifat2 yang patut bagi-Nya.
Klaua bukan Tuhan, lalu apa yang disaksikan sunana?. Ternyat,a yang disaksikan suanan bak boneka gading yang berkilauan sinarnya itu adalah Premana atau permana. Inilah ajaran yang disebut chi (qi) dalam pandangan Cina. Ki dalam ajaran kebatinan atau reiki dari jepang yang juga dikenal sebagai prana dalam ajaran India. Dan, Permanalah yang menyebabkan badan ini hidup. Tetapi, Permana tak ikut merasakan kesedihan, kesakitan, dan penderitaan. Permana juga tidak membutuhkan tidur atau istirahat. tidak pula memerlukan makan dan minum. Jika Permana keluar dari tubuh, badan menjadi tak berdaya. Akhirnya menbusuk. Jadi, kekuasaan Permana itu untuk hidupnya badan jasmani ini.
MENGOLAH KEBATINAN

Kebatinan adalah laku, usaha dengan melalui rasa, hati yang bening, untuk mengetahui urip sejati, hidup sejati. Laku batin tersebut dilandasi perbuatan dan perilaku yang baik, budi luhur, hati bersih suci, dengan selalu mendekatkan diri dan manembah kepada Gusti, Tuhan.

Beberapa pengalaman akan dialami oleh pelaku kebatinan, ada yang enak, ada yang dirasa berat, semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi.

Pengalaman puncak pelaku kebatinan/ spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo berada dalam hubungan serasi dengan Gusti, Tuhan.
Istilah populernya adalah :
Jumbuhing kawulo Gusti – Hubungan serasi kawulo Gusti
Manunggaling kawulo Gusti – Manunggalnya kawulo Gusti
Pamore kawulo Gusti -Bersatunya kawulo Gusti

Yang intinya berarti : Seorang anak manusia telah berada dikehidupan sejati dalam lindungan keagungan Tuhan.

Timbulnya Kebatinan

Timbulnya kebatinan sebenarnya adalah hal logis, setelah manusia dalam pengalaman menjalani kehidupan ini, menemukan fakta bahwa hidup dan alam ini , tidak hanya terdiri dari benda-benda dan zat-zat yang lahir saja. Selain yang lahir, yang kasat mata, ada juga hal-hal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sebenarnya ada, eksis. Selain ada yang konkrit , ada yang abstrak, yang diakui oleh siapapun, seperti : pikiran, gagasan, batin dsb. Jelas, selain lahir ,ada batin. Sebelum sesuatu termanifestasi, muncul, lahir, sesuatu itu berada dulu didalam angan-angan, pikiran, yaitu batin. Setiap tindakan yang dilakukan, muncul dialam lahir, tentu sebelumnya di-batin dulu.

Batin Itu Luas dan Dalam

Dengan pengertian dasar seperti diatas, maka yang termasuk lahir adalah apa saja yang kelihatan oleh mata, sedangkan yang tidak kelihatan termasuk ranah batin.

Pandangan yang ditangkap mata juga ada dua.
Pertama : Yang bisa dilihat oleh mata lahir, mata biasa.
Kedua : Ada orang yang tajam mata batinnya, sehingga mampu melihat yang oleh kebanyakan orang disebut gaib.
Perlu diketahui bahwa setiap orang secara alami,dari “ sononya” juga dilengkapi, memiliki mata batin. Itu anugerah Tuhan, bukan takhayul!
Tetapi kemampuan fungsi mata batin, sejak anak kecil telah dikalahkan oleh logika, yang ditanamkan oleh orang tua dan pergaulan umum. Tidak hanya mata batin yang ditutup; kepekaan otak , rasa dan indra yang lain , juga ditutup.
Jadi yang terjadi sesungguhnya,kepekaan mata batin, otak batin, rasa batin , itu tidak hilang, hanya sengaja ditutup atau dihalangi atau tidak dikembangkan. Alasannya : Tidak sesuai dengan logika.Oleh karena perangkat-perangkat batin secara alami dan sah dimiliki setiap manusia, maka hal tersebut tak bisa dihilangkan. Sekali lagi, yang terjadi hanyalah fungsinya tidak dihidupkan.
Seorang manusia yang terbuka mata lahir dan batinnya, tetap berfungsi otak dan rasa batinnya, dia bisa melihat dan memahami yang kelihatan dan “ yang tidak kelihatan”.
Sehingga yang disebut dunia nyata itu relatif. Ini tidak perlu diperdebatkan.

Kesimpulannya sebagai berikut :
Bagi saudara-saudara kita yang fungsi perangkat-perangkat batinnya tidak diaktifkan, dibiarkan tertutup, yang dilihat adalah yang nyata secara konkrit. Itu bagus, wajib bersyukur kepada Tuhan, karena mempunyai mata, otak dan panca indra normal yang berfungsi bagus.

Sementara itu, saudara-saudara kita yang perangkat-perangkatnya berfungsi lahir batin, mampu melihat dan mengetahui bahwa kenyataan itu terdiri dari dua hal, yaitu :
Yang nyata bagi setiap orang ditambah “ yang tidak kelihatan”

Ini sebenarnya hal yang normal saja, katakanlah bahwa orang tersebut memanfaatkan sepenuhnya karunia yang diberikan oleh Tuhan.
Adapun terjemahan Surat An-Nur ayat 35 yang artinya :
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang diyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh disebelah timur (sesuatu) dan tidak pula disebelah barat (nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dikehendaki. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.

Membuka Kembali Perangkat-Perangkat Batin

Karena yang mempunyai kemampuan melihat termasuk hal-hal yang disebut gaib jumlahnya sedikit, orang-orang seperti itu secara salah kaprah dipandang mempunyai kemampuan diatas normal, ada yang menyebut mereka paranormal, bahkan supernormal dlsb.

Supaya anda tidak perlu ke “paranormal” kalau lagi bingung atau punya masalah, selain perlu lebih banyak berdoa kepada Tuhan, tenangkan perasaan anda, kendalikan emosi, mulailah berlatih santai membuka kembali fungsi-fungsi perangkat “gaib” yang anda miliki.

Tentu untuk itu anda harus sabar, melatih diri, karena perangkat-perangkat itu sudah lama sekali tidak difungsikan. Kalau terbukanya terlalu cepat atau tiba-tiba, nanti anda kaget dan bisa mengalami goncangan jiwa.

Pelaksanaan dan latihan tersebut hanya melibatkan dan berhubungan dengan diri anda sendiri dan diberkati oleh Tuhan.

Latihan mengolah batin, bisa dilakukan sendiri atas dasar kemantapan hati yang pasrah total kepada Gusti atau dengan petunjuk atau bimbingan seseorang yang lebih senior dalam olah kebatinan, yang biasanya disebut Guru.

Bimbingan Guru Laku tersebut untuk menghindari dari beraneka gangguan dan hal-hal yang negatif, sehingga tidak keliru tujuan sejatinya. Silahkan, anda bebas menentukan pilihan.

Yang penting anda yakin selalu berada dijalan yang hakiki, yang benar, yang menjadi hak anda dan itu adalah jalan Ilahi.

Menjalani, mempelajari, melatih olah kebatinan atau spiritualitas menurut istilah universal, itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan takhayul, mahluk-mahluk halus yang mendiami tempat-tempat angker, santet dan hal-hal semacam itu.

Kebatinan adalah jalan yang mulia, metode untuk menghayati kebenaran sejati, mengenali diri sejati, hidup sejati, sehingga hubungannya dengan Tuhan, serasi.

Ada yang menyebut keadaan seperti itu : Wis tinarbuko, bahasa Jawa, sudah terbuka batinnya yang tinggi, sudah mendapat Pencerahan atau mendapatkan cahaya illahi. Ada yang menyebut Unio Mystica – Persatuan mistis kawulo Gusti . Dalam pemahaman spiritualitas universal dikatakan : Aku ketemu Higher-Self, diri yang lebih tinggi/ Pribadi atau bahkan bisa ketemu dengan Highest –Self – Pribadi Sejati.

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Ta’usyiah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah, Prasangka Keji, Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Ta’usyiah ini

Aamiin ya Rabbal’alamin

Batu, 22 November 2015
Di Publikasikan Oleh:

KRT. KH. Mukhammad Musyrifin Puja Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

Silsilah Dan Sejarah Hidup Raden Ayu Dewi Condro Asmoro RA (Mbah Batu) Cikal Bakal dan Inspirator berdirinya Kota Batu

Silsilah Dan Sejarah Hidup Raden Ayu Dewi Condro Asmoro RA (Mbah Batu)
Cikal Bakal dan Inspirator berdirinya Kota Batu

1. Prabu Banjaransari (Raja Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat).
2. Raden Arya Metahun (Mengembara sampai di Lumajang, Jawa Timur).
3. Raden Arya Randu Kuning/ Kyai Gede Lebe Lontong (Bupati Lumajang Tengah).
4. Raden Arya Bangah (Bupati Gumenggeng) yaitu wilayah tersebut sekarang menjadi Desa Banjaragung di Kec. Rengel, Kab. Tuban.
5. Raden Arya Dandang Miring (Bupati Lumajang).
6. Raden Arya Wiraraja (Bupati Sumenep).
7. Raden Aryo Ronggo Lawe/ Raden Aryo Adikoro ( Bupati Tuban ke-1).
Keterangan:
Ranggalawe memiliki dua orang istri bernama Martaraga dan Tirtawati. Dari Istri yang bernama Martaraga lahir seorang putra bernama Kuda Anjampiani. Sedangkan dari Istri yang bernama Tirtawati lahir seorang putrid bernama Nyai Ageng Lanang Jaya/ Nyai Lanang Baya.
Nyai Ageng Lanang Jaya / Nyai Lanang Baya diperistri Sayyid Abdur Rahman (Raden Mas Aryo Tedjo Kusumo) bin Syekh Abdullah bin Syekh Khoromis bin Syekh Mudzakir Rumi bin Syekh Wahid Rumi bin Syekh Abdul Wahid Qornain bin Sayyidina Abbas RA bin Abdul Muntholib (Kakek Rosulullah SAW).
8. Sayyid Abdur Rahman/ Raden Mas Aryo Tedjo Kusumo (Bupati Tuban ke-2)
9. Syekh Zali Al-Khalwati/ Syekh Khawaji/ Raden Mas Ronggo Tedjo Laku (Bupati Tuban ke-3).
10. Raden Mas Haryo Lana Aryo Tedjo I (Bupati Tuban ke-4).
11. Raden Mas Haryo Dikoro Aryo Tedjo II (Bupati Tuban ke-5) yang memiliki 3 orang anak:
A. Raden Ayu Dewi Condrowati/ Nyai Ageng Manila (Isteri Sayyid Aly Rahmatullah/ Sunan Ampel. B. Raden Ayu Dewi Condro Asmoro (Mbah Batu). (Isteri Tumenggung Satim Singomoyo). C. Raden Ahmad Sahur/ Tumenggung Arya Wilwatikta (Ayahanda Raden Mas Syahid/ Sunan Kalijaga).
Keterangan:
A. Raden Ayu Dewi Condrowati (Isteri Sayyid Aly Rahmatullah/ Sunan Ampel). Beliau memiliki 4 anak:
1. Putri Nyai Ageng Maloka.
2. Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).
3. Raden Qosyim Syarifuddin (Sunan Drajat)
4. Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.
B. Raden Ayu Dewi Condro Asmoro (Isteri Tumenggung Satim Singomoyo). Beliau memiliki 2: 1. Raden Noto Suryo. 2. Raden Noto Kusumo.
C. Raden Ahmad Sahur/ Tumenggung Arya Wilwatikta. Beliau Memiliki 3 orang anak: 1. Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga). 2. Raden Ayu Dewi Sari Wulan (Istri Empu Supo Driyo). 3. Raden Ayu Dewi Roso Wulan (Istri Syech Maulana Maghribi/ Ibu Jaka Tarub).
12. Raden Ahmad Sahur/ Tumenggung Arya Wilwatikta (Bupati Tuban ke-6).
13. Raden Tumenggung Syech Maulana Mansur (Bupati Tuban ke-7) Putra Raden Noto Suryo/ cucu Raden Ayu Dewi Condro Asmoro (Mbah Batu), beliau adalah Bupati Tuban pada masa transisi kekuasaan dari Majapahit ke Demak.
Sejarah Singkat Lahirnya Desa Bumiaji
Ketika Majapahit berhasil diruntuhkan oleh Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya yang bergelar Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (Raja Wilwatikta Keling Daha Jenggala Kediri) pada tahun 1478 Masehi. Tahun peristiwa tersebut di tulis dalam Candrasangkala yang berbunyi “Ilang Sirno Kertaning Bhumi”.
Setelah Majapahit runtuh dan dikuasai oleh Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (Raja Wilwatikta Keling Daha Jenggala Kediri). Raja Majapahit terakhir ini pun akhirnya diserbu oleh laskar Bintoro Demak di bawah pimpinan Sunan Ngudung (Ayahanda Sunan Kudus). Hal ini karena Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya diketahui berhubungan secara rahasia dengan musuh bebuyutan Bintoro Demak yaitu orang Portugis. Maka tamatlah riwayat Kerajaan Majapahit pada tahun 1527 Masehi. Misi Laksamana Cheng Ho yang telah dipaparkan sebelumnya dengan jitu telah direalisasikan oleh Putera Selir Prabu Brawijaya V yaitu Puteri Champa/ Raden Ayu Duworowati/ Raden Ayu Condro Wulan, yang memiliki putra bernama Pangeran Jin Bun/ Raden Fatah (Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah).
Adalah Tumenggung Satim Singomoyo seorang Tumenggung Majapahit. Beliau adalah orang yang selalu membantu Sayyid Jumadil Kubro dalam mengembangkan ajaran Islam di Pulau Jawa karena hanya beliaulah seorang pejabat kerajaan yang bisa diajak bermusyawarah tentang kesulitannya di dalam berdakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Saat itu, beliau telah memeluk agama Islam walaupun hal ini tidak berani dilakukan secara terang-terangan. Tumenggung Satim Singomoyo memiliki isteri bernama Raden Ayu Dewi Condro Asmoro.
Ketika perang dengan kerajaan Keling Daha Jenggala Kediri yang dipimpin Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, Tumenggung Satim Singomoyo wafat sebagai syuhada’, beliau dimakamkan di sebuah tempat yang sekarang bernama TROLOYO di Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto. Menjadi satu Lokasi dengan makam Sayyid Jumadil Kubro. Makam beliau diberi tanda tanaman pohon jati. Namun setelah pohon jati itu besar tumbuhlah pohon aspak dan pohon beringin. Hingga sekarang pohon tersebut masih hidup.
Sementara istri beliau Raden Ayu Dewi Condro Asmoro mengungsi bersama: A. 100 prajurit. B. 7 orang emban. C. 3 orang Pandego: 1. Kyai Sampar Brojo Ghini/ Kyai Brojo Musthi (Ahli Kanuragan). 2. Nyai Sima Istri Kyai Sampar Brojo Ghini/ Kyai Brojo Musthi (Ahli Agama). 3. Kyai Said (Ahli Pertanian dan Peternakan).
Bersama merekalah beliau meretas Asa dan merintis peradaban baru hingga sampai di sebuah hutan yang subur di tepian aliran sungai Brantas, yang bernama “WONO AJI” artinya Hutan yang memiliki Kemulyaan. Hingga pada suatu saat karena izin Allah Swt beliau merubah nama daerah tersebut dari “WONO AJI” menjadi “BUMIAJI” yaitu pada tahun 1495 masehi/ 17 tahun setelah keruntuhan kerajaan Majapahit beliau merubah nama daerah “WONO AJI menjadi BUMIAJI”, hal tersebut di karenakan WONOAJI semakin hari semakin menampakkan kemulyaannya yang sebagai daerah yang “GEMAH RIPAH LOH JINAWI, TOTO TENTREM KERTO RAHARJO” sebagai wujud ke Ridlo’an Allah Swt.
Raden Ayu Dewi Condro Asmoro yang demi keselamatan dan kenyamanan beliau di dalam bergaul dengan masyarakat menyamarkan namanya dengan sebutan “Mbah Tuwo” dan akhirnya masyarakat Wonoaji-pun terbiasa memanggil beliau dengan sebutan “Mbah Tuwo”. Beliau memulai kehidupan barunya bersama masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, berbagi pengetahuan dan ajaran agama yang diperolehnya selama menjadi istri Tumenggung Satim Singomoyo dengan mendirikan sebuah padepokan yang diberi nama “PADEPOKAN GUBUK ANGIN”.
Akhirnya banyak penduduk Wonoaji dan sekitarnya bahkan masyarakat yang jauhpun berdatangan dan menetap untuk berguru/ menuntut ilmu serta belajar ilmu agama kepada Raden Ayu Dewi Condro Asmoro/ Mbah Tuwo di sebuah Padepokan beliau yang di beri nama “PADEPOKAN GUBUK ANGIN”, yang memiliki makna Tempat Tinggal Yang Senantiasa Bergantung Pada Hembusan Angin (Kuasa Illahi Robbi).
Setelah peradapan daerah bernama Wonoaji yang berubah nama menjadi Bumiaji semakin berkembang maka pada tahun 1535 Masehi, yaitu 57 tahun setelah Raden Ayu Dewi Condro Asmara/ Mbah Tuwo mengungsi dari Keraton Majapahit, Gusti Allah Swt Memanggil Beliau kembali ke Rahmatullah sebagai Min Jumlatil ‘Aulia’. Belum ada data yang Valid berapa usia Raden Ayu Dewi Condro Asmara saat kembali ke Rahmatullah, akan tetapi legenda meriwayatkan beliau wafat pada usia yang sangat lanjut. Diperkirakan Beliau wafat di usia 120 tahun. Beliau dimakamkan di sebuah tempat yang sekarang berada di dusun Banaran, desa Bumiaji, Kec. Bumiaji, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, menjadi satu lokasi dengan makam para pengikut beliau, Abdi setia serta para Waliyullah yang lain yaitu: 1. Kyai Sampar Brojo Ghini/ Kyai Brojo Musthi (Ahli Kanuragan). 2. Nyai Sima Istri Kyai Sampar Brojo Ghini/ Kyai Brojo Musthi (Ahli Agama). 3. Kyai Said (Ahli Pertanian dan Peternakan). 4. Pangeran Rohjoyo Bagus Permadi/ Syech Abdul Karim Abul Ghona’im. 5. Syarifah Dewi Muthma’inah. Serta pengikut Pangeran Diponegoro yaitu: 6. Kyai Na’im.

Keberadaan “Raden Ayu Dewi Condro Asmara/ Mbah Tuwo” inilah cikal bakal serta orang yang dikenal sebagai pemuka/ Sesepuh masyarakat yang memulai babat alas dan dikultuskan masyarakat sebagai inspirator sebutan dari suatu wilayah yang sekarang bernama Kota Batu. Dan jika Kita menghitung sudah berapa tahun desa ini bernama Bumiaji, sejak Raden Ayu Dewi Condro Asmara merubah wilayah ini dari “Wonoaji menjadi Bumiaji”? Yaitu sejak tahun 1495 hingga tahun 2015, maka usia desa ini adalah 520 tahun. Subhanallah, sudah 5 Abad lebih 20 tahun, nenek moyang Kita telah menghuni desa ini dengan I’tikad suci, yaitu mewariskan segala yang telah beliau rintis dengan segenap pengorbanan Harta, Jiwa juga Raga. Maka alangkah Durhaka dan tidak berbudinya Kita sebagai anak cucunya, jika Kita tidak bisa berterima kasih kepada mereka nenek moyang kita. Dengan cara memelihara dan melestarikan apa yang telah mereka wariskan kepada Kita
Wallahu A’lam Bisshowab.
Ya ALLAH……
✔ Muliakanlah orang yang membaca Sejarah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah, Prasangka Keji, Berkata Kasar dan Mungkar
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Sejarah ini

Aamiin ya Rabbal’alamin

Batu, 22 November 2015
Di Publikasikan Oleh:

KRT. KH.Mukhammad Musyrifin Puja Reksa Budaya
Khodimul Ummat Dlo’if wal Faqiir

Shalat Sunnah Hajat Lidaf’il Bala’: Tradisi Islam di Bulan Shaffar Sarana Tolak Bala’

Shalat sunnah hajat lidaf’il bala’ (tolak bala’) merupakan shalat sunnah hajat yang dikerjakan pada malam atau hari rabu akhir bulan Safar, tepatnya pada hari rabu pada pekan keempat. Shalat sunnah ini dikerjakan empat rakaat dua salam dan dilaksanakan secara berjamaah.
Shalat sunnah ini dilakukan dalam rangka memperingati sekaligus menenangkan umat dalam rangka berlindung kepada Allah akan datangnya bala’ dan bencana yang terjadi pada bulan Safar. Awal mula munculnya ibadah ini adalah berdasarkan ilham dan ijtihad para ulama’ salaf maupun ulama’ sufiyah terdahulu yang teringat bahwa bulan safar adalah bulan yang penuh dengan kesialan dan malapetaka, dan hari rabu pekan keempat merupakan hari yang paling na’as pada bulan itu. Seorang sufi asal India, Ibnu Khothiruddin Al-Atthor (w. th 970 H/1562 M), dalam kitab “Jawahir Al-Khomsi” menyebutkan, Syekh Al-Kamil Farid-Din Sakarjanj telah berkata bahwa dia melihat dalam “Al-Awrad Al-Khawarija” nya Syekh Mu’inuddin sebagai berikut:
أَنَّهُ يَنْزِلُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ ثَلاَثُمِائَةِ اَلْفٍ وَعِشْرِيْنَ أَلَفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ وَكُلُّهَا فَيْ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِرَةِ مِنْ شَهْرِ صَفَرِ فَيَكُوْنُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبُ أَيِّمِ تِلْكَ السَّنَةِ، فَمَنْ صَلَّى فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرُأُ فِيْ كُلِّ مِنْهَا بَعْدَ الْفَاتِحَةِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ سَبْعَةَ عَشَرَ وَالْإِخْلاَصَ خَمْسَ مَرَّاتٍ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ مَرَّاةً وِيَدْعُوْ بِهَذَا الدُّعَاءِ حَفَظَهُ االلهُ تَعَالَى بِكَرَمِهِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلاَيَا الَّتِيْ تَنْزِلُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَمْ تُحْمَ حَوْلَهُ بَلِيَّةٌ مِنْ تِلْكَ الْبَلاَيَا إِلَى تَمَام السَّنَةِ.
Artinya: “Sesungguhnya dalam setiap tahun diturunkan sekitar 320.000 macam bala’ yang semuanya ditimpakan pada hari rabu akhir bulan Safar. Maka hari itu adalah hari tersulit dalam tahun itu. Barang siapa shalat empat rakaat pada hari itu, dengan membaca di masing-masing rakaatnya setelah Al-Fatihah yakni surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, mu’awwidzatain masing-masing satu kali dan berdoa –do’anya Insya Allah akan disebutkan setelah ini–, maka dengan sifat karomnya Allah, Allah akan menjaganya dari semua bala’ yang turun pada hari itu dan di sekelilingnya akan terhindar dari bala’ tersebut sampai genap setahun” .
Adapun cara pelaksanaan shalat sunnah ini sama dengan shalat-shalat sunnah pada umumnya. Namun yang membedakannya adalah, setiap habis membaca surat Al-Fatihah pada masing-masing rakaatnya membaca: Surat Al-Kautsar 17 kali, Surat Al-Ikhlas 5 kali, Surat Al-Falaq dan surat An-Naas masing-masing satu kali.
Adapun doa yang dibaca setelah selesai shalat lidaf’il bala’ seperti berikut:
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ وَّ عَلَى ألهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. نَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ القَيُّوْمُ وَنَتُوْبُ إلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَيَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ مَوْتًا وَلاَ نُشُوْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّيْ عَلَى سَيِّدِنَا محمَّدٍ. وَادْفَعْنَا مِنَ الْبَلاَءِ الْمُبْرَامِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْدُ بِكَلِمَاتِ التَّآمَّاتِ كُلِّهَا مِنَ الرَّيْحِ الْأَحْمَرِ وَمِنَ الدَّآءِ الْأَكْبَرِ فِيْ نَفْسِنَا وَدَمِّنَا وِلحمِنَا وَعَظْمِنَا وَجُلُوْدِنَا وَعُرُوْقِنَا. سُبْحَانَكَ إِذَا قَضَيْتَ مَرًّا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ. الله أَكْبَرُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ ٣X.
اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقَوِيَّ وَيَا شَدِيْدَ الْمَحَالِ يَا عَزِيْزُ يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جمِيْعَ خَلْقِكَ يَا مُحِسِنُ يَا مُجْمِلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لآاِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ارْحَمْنَا بِرَحْمًتِكَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَاَخِيْهَا وَجَدِّهَا وَاَبِيْهِ وَاُمِّهِ وَبَنِيْهِ اكْفِنَا شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَاكَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَادَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّ عَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. آمين.
Adapun kaifiat lain pelaksanaannya sebagai berikut :
Sebelum memulai shalat mengucapkan istighfar sebanyak 3 kali sebagai berikut :

“Astaghfirullahal ’azhiim alladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaiih, taubatan ’abdin dzhoolimin la yamliku linafsihi dhorron walaa naf’aan, wala mautan, walaa hayaatan, walaa nusyuuron.”

Artinya : “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, Dzat yang tiada Tuhan kecuali Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Tegak dan aku bertaubat kepada-Nya. Taubat hamba yang zhalim, yang tidak bisa menguasai dalam dirinya kemadharatan yang ada padanya, kemanfaatannya, matinya, hidupnya, dan pada waktu dikembalikannya.”
Niat Shalat Sunnah Lidaf’il Bala’:

“USHOLLI SUNNATAN HAJAT LIDAF’IL BALAA’I ROK’ATAINI LILLAHI TA’ALA”

Artinya : “Aku berniat shalat sunah lidaf’il bala dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Setelah selesai shalat sunat kemudian berdo’a sebanyak 3 kali, dengan lafadz doanya sebagai berikut :

“Bismiillaahiirahmaaniirahiim, yaa syadiidaalquwwaa wa yaa syadiidaalmihaali, Allahumma innii a’udzuubika bikalimaatikat taammaati kullihaa minar riihil ahmari waminad daa-il akbari fin nafsi waddami wallahmi wal’udzmi waljuluudi wal’uruuqi subhaanaka idzaa qhodhoita amron an taquula lahuu kun fayakuun (Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar) birrohmatika yaa arhamarrohimiin.”

Artinya : “Ya Allah, dengan kalimat-Mu yang sempurna, sesungguhnya aku berlindung dari Riihil Ahmar (Angin Merah) dan dari cobaan yang besar dalam diri, dalam darah, dalam daging, dalam tulang, dan dalam setiap tetes keringat. Maha Suci Engkau (Dzat Yang) jika Engkau menghendaki sesuatu maka Engkau berkata padanya : ‘Jadilah’, maka jadilah. (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar), dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Setelah pelaksanaan shalat berakhir, biasanya diadakan shodaqohan sekadarnya seperti halnya kenduri yang diawali dengan membaca doa tahlil, kemudian dilanjutkan dengan ceramah atau mauidhah hasanah secukupnya, yang selanjutnya acara tersebut diakhiri dengan makan bersama. Setelah itu, para jamaah dipersilakan mengambil air barokah yang sudah dipersiapkan oleh panitia sebelumnya. Para jamaah pun bisa langsung meminumnya di tempat, atau boleh juga dibawa pulang untuk diminum bersama keluarga di rumah.

Status Hukum Shalat Hajat Sunnah Lidaf’il Bala’
Walaupun ibadah ini oleh sebagian kalangan dikategorikan sebagai amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw dan bahkan menganggapnya sebagai bid’ah, namun oleh para ulama’ sufiyah dan tarekat, amalan shalat lidaf’il bala’ ini tetap boleh dikerjakan asalkan tidak menganggapnya sebagai keharusan yang mesti dilakukan. Keeksistensian ibadah ini pula jangan sampai dijadikan barang perselisihan sehingga timbul pertentangan di kalangan internal umat muslim. Akan tetapi justru amalan ini dijadikan momentum peningkatan kualitas ibadah kepada Allah swt serta sebuah sarana agar dapat berlindung kepada-Nya dari segala macam bencana dan mara bahaya yang akan menimpanya.
Allah swt berfirman:
وَ اسْتَعِيْنُوْا بِا الصَّبْرِ وَالصَّلَوةِ (البقرة: 45
“Carilah pertolongan (Allah) dengan sabar dan shalat” (QS. Al-Baqarah: 45).

Ayat diatas diperkuat dengan hadirnya sunnah Rasulullah saw:
عن حذيفة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إذا حزبه أمر فزع إلى الصّلاة (رواه أحمد و أبو داود)
Dari Hudzaifah ra berkata: “Apabila Rasulullah saw menemui suatu kesulitan, maka beliau segera menunaikan shalat” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Apalagi semua shalat –baik shalat wajib maupun shalat sunnah– merupakan sebuah ibadah yang ditekankan untuk dilakukan oleh setiap muslim. Rasulullah saw telah bersabda:
الصّلاة خير موضوع
“Shalat adalah sebaik-baik amal yang ditetapkan (Allah untuk hamba-Nya)”

Ditambah lagi, setelah selesai shalat dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah dan disertai dengan shadaqahan ala kadarnya. Inipun juga dianjurkan oleh Nabi saw dalam sabda beliau:
بَكِرٌوْا بِا الصَّدَقَةِ فَإِنَّ الْبَلاَءَ لاَ يَتَخَطَّاهَا (رواه الطبراني
“Segeralah bershadaqah, sebab bala’ bencana tidak akan melangkahinya” (HR. Thabrani).

Yang menjadi permasalahan disini ialah, banyak di kalangan umat Islam meyakini bahwa amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya secara langsung dari Rasulullah saw – seperti halnya shalat lidaf’il bala’ ini – dianggapnya sebagai keharusan yang mesti dikerjakan, akan tetapi ibadah-ibadah yang jelas-jelas ada tuntunannya dari Rasulullah saw, oleh masyarakat tidak dianggap sebagai keharusan –seperti shalat berjamaah, shadaqah dan semacamnya–bahkan terasa malas untuk mengerjakannya. Pandangan seperti inilah yang sangat keliru, dan perkara ini amat dekat dengan bid’ah. Padahal, perkara yang sifatnya qath’i (jelas dalil dan contohnya) harus didahulukan untuk diamalkan daripada perkara yang tidak langsung dicontohkan oleh Rasulullah saw, atau terakulturasi oleh budaya-budaya tertentu. Namun yang jelas, bentuk ibadah seperti di atas, bukan bermaksud untuk mengubah-ubah syari’at, tetapi sebagai bentuk strategi dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah, dengan catatan tidak menafikkan perkara-perkara yang jelas dalilnya.
Kebiasaan melaksanakan shalat Lidaf’il Balaa’ pada hari Rabu di penghujung bulang Safar dinukil dari kitab Al-Jawahir Khomsi (halaman 51-52) dan juga kitab Kanzunnajah. Inti pesan yang disampaikan Syekh Al-Kamil Fariduddin Sakrajanji, “Saya telah melihat dalam aurad Al-Khawaja Mu’iduddin Q.S, sesungguhnya dalam setiap tahun Allah SWT menurunkan 320.000 bala’ penyakit dan seluruhnya di hari Rabu akhir di bulan Safar. Maka hari tersebut merupakan hari yang tersusah dari hari-hari yang lain dalam satu tahun”. Pada tahun ini Shalat sunnah hajat lidaf’il bala’ (tolak bala’) kita laksanakan pada tanggal 8 Desember 2015, pada hari Selasa Pahing malam Rabu Pon, bakdah sholat Isya’.

Ya ALLAH….
✔ Muliakanlah orang yang membaca Artikel ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah, Prasangka Keji, Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Artikel ini.
Aamiin ya Rabbal’alamin.

Batu, 22 November 2015
Di Publikasikan Oleh:
KRT. KH. Mukhammad Musyrifin Puja Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir