MENGENALI JATI DIRI/ SEJATINE INGSUN

MENGENALI JATI DIRI/ SEJATINE INGSUN

Orang yang mengetahui “kembang tepus” niscaya dia akan mengerti artadaya. Ia akan mengenal Dirinya sendiri. dan, ternyata artadaya itu satu asal dengan “sang hidup” (sukma sejati dan roh kudus/ saudara sejati). Satu pancer dengan hidupnya manusia. satu turunan! Baik artadaya maupun sang hidup muncul dari sumber yang sama, yaitu cahaya yang terpuji , dalam bahasa arabnya disebut “Nur Muhammad” atau al-haqiqah al-muhhamadiyyah. Hakikat cahay yang terpuji juga disebut sebagai “hakikat Budha” atau “hakikat Yesus”, tetapi sunan Kalijaga menyebutnya dalam ungkapan jawa “kembang tepus”.
Tanaman tepus termasuk dalam keluarga jahe-jahean dan sudah dikenal sejak zaman kuno. Tumbuhan ini mudah sekali berkembang biak dengan rimpang atau akarnya. Batang, daun, dan bunganya tumbuh dari akar yang sama. Jadi, daya kuasa dan hidupnya bunga tepus itu satu pancer. manusia yang terdiri dari wujud lahiriah dan uripe, hidupnya, juga satu akar. satu pohon! Keduanya berasal dari cahaya yang terpuji. Dan, cahaya yang terpuji ini berasal dari Cahaya illahi. Cahaya di atas cahaya. Allah adalah Cahaya di atas cahaya. Nur ala nur (Q.S.24:35).
Bagi mereka yang hobi membaca hadis, dia pasti tahu tentang adnya hadis yang menerangkan bahwa segala sesuatu di alam raya ini berasal dari cahaya yang terpuji, cahya kanga pinuji, ya Nur Muhammad. Hadis ini sebenarnya mengingatkan kita bahwa semua ini, baik berupa langit dan bumi maupun hewan dan tumbuhan, asal-usulnya sama dengan manusia dan jiwanya. Semuanya berasal dari cahaya yang terpuji. Tak ada yang muncul dari akar yang lain. Cuma Artadaya ini bisa menjadi tirai bagi sang diri dalam melihat Dia.
Kalau kita sudah mengetahui bahwa segala usul segala sesuatu itu sama, maka kita harus bisa saling mengenal. Dan lewat roh kudus atau saudara sejati kita dapat saling berkomunikasi dengan tumbuh2an, hewan, bebatuan, sungai dlll yang ada di alam ini.
Adanya hijab, tabir yang menutupi pengetahuan manusia tentang asal-usul dan tujuannya, menyebabkan manusia gampang terperosok hidupnya. Artadaya yang berguna untuk menepuh perjalanan hidupnya, malah sering membelenggu manusia itu sendiri. Keinginan manusia untuk bisa lepas dari bumi, malah membuatnya terjerat di bumi. Keinginan manusia untuk hidup merdeka, malah saling sikut untuk manguasai yang alain.
Manusia harus mengetahui bungat tepus. mengetahui dzat dan sifatnya sendiri. dalam diolgnya dengan nabi Khidir, sunan kalijaga diingatkan agar dalam hidup ini tidak sekedar berjalan, tetapi sungguh2 melihat apa yang ada disekelilingnya. Tanpa memperjatikan dengan sungguh2 manusia akan kehilangan jati dirinya. Akan tetapi kehilangan orientasi hidupnya. Tujuan hidupnya.
Dalam petualangan mistiknya ketika sunan Kalijaga bertemu nabi Khidir AS, sunan menyampaikan kisahnya sebagai berikut:
“Ingkang dihin sira anon cahyo
gumawang tan wruh arane
pancamaya punika
sejatine tyas sayekti
pangarepe sariro
pancmaya iku
ingaran muka sipat
ingkang nuntun sipat kang linuwih
yeku asline sipat”
“Yang pertama kau lihat cahaya, yang mencorong tapi kau tak tahu namanya. Itulah pancamaya! Yang senyata-nyatanya ada di dalam hati. Mengatur badan manusia. Pancamaya itu, juga dinamakan mukasyafah. menuntun sifat-sifat mulia sifat asal diri manusia.”
Jelas sekali bahwa di dlam lubuk hati terdalam manusia ada pancamaya. perlu diperhatikan , bahwa yang disebut “hati” disini bukanlah organ fisik manusia yang terletak disebelah kanan dada. bukan itu, melainkan hati dalam makna rohani. Suatu tempat dialam gaib yang juga tempat bagi Betal mukaram. Tetapi ada relasi atau hubungan anatara alam gaib dan alam nyata. lalu apa yang disebut pancamaya?
Kalau diterjemahkan secara harfiah, pancamaya artinya lima bayangan. namun kata maya juga bisa bermakna aneka warna, berbagai macam. pancamaya merupakan pelita asal yang ada pada manusia. Aneka warna tersebut melambangkan berbagai sifat mulia Tuhan yang sering disebut sebagai asmaul husna yang terdiri dari 99. Manusia dianugrahi sifat mulia tersebut kecuali agung karena agung hanya kepunyaan Allah. Dan sifat mulia pada mausia bukan “Yang Maha” karena itupun juga hanya kepunyaan Allah. Sebagai contoh, Allah adalah maha pemurah dan manusia sebenarnya juga mempunyai sifat pemurah sehinnga biasanya kita bersedekah pada orang yang membutuhkan. Allah adalah Maha Penyayang dan manusia mempunyai sifat penyayang yang digunakan untuk menyayangi orang tua, pasangan, anak dll. Tapi perlu diingat bahwa sifat mulia yang ada pada manusia bukan “yang maha”.
Kodrat tertanam di dalam benih. ketika Sang Diri melakukan mikraj dari betal makmur dan turun ke Betal mukadas, sang hartati menyambut kedatanganya. Dia membawakan kodrat bagi sang diri. Sang hartati membawa sarana bagi sang diri. Bersatunya sang diri dengan sang hartati menjelma menjadi bayi yang disebut sebagai wujud dari artadaya.
Pancamaya mengarahkan manusia unatuka memiliki sifat mulia. Dan sifat2 mulia sebenarnya merupakan sifat asli manusia. Disebut juga mukasyafah. Sifat yang terseingkap hijabnya. Terbuka topengnya. Ini artinya berbagai kejahatan itu baru timbul dibelakang hari. Bukan sifat asli yang tertananam di dalam jati diri manusia. Sering kita berkata dalam hidup ini kita harus mendengarkan suara hati nurani, hati yang bercahaya. Pancamaya ini di alam gaib memancarkan sinarnya yang terang sekali. Mencorong, karena beraneka warna yang melambangkan berbagai sifat mulia yang dianugrahkan pada manusia menyatu sehingga tampaklah sinar yang terang mencorong. Jadi selama orang mendengarkan suara hati nuraninya, mengikuti pancamaya maka ia tak akan tersesat dlam hidup ini.
Persoalannya, pancamaya ini bersandangkan Artadaya. Terselimuti oleh nafsu, pancamaya terselubungi oleh daya dan kekuatan untuk kelangsungan hidupnya di bumi ini. Tanpa artadaya manusia akan kehilangan vitalitas hidupnya.
Sifat asli jati diri manusia adalah ketenangan, kedamaian, ketentraman sehingga pancamaya memancarkan cahaya warna puih bagaikan matahari. Meski pancaran sinarnya terdiri dari beraneka warna tetapi tampak putih belaka. Dan warna putih melambangkan kesucian batin manusia. Akan tetapi pancmaya tertutupi oleh tiga kekuatan alam, yaitu kekuatan yang diwariskan oleh orang tua, kekuatan unsur preyo dan unsue sreyo sebagaimana telah dijelaskan di atas. Tiga kekuatan itu dilambangkan dengan warna hitam, merah dna kuning. dan warna putih adalah kesucian hati manusia. Ketiga kekuatan itu menjadi penghalang bagi manusia untuk manunggal dengan Yang Maha Kuasa. Nmun bila manusia bisa mengendalikan tiga kekuatan tersebut, maka akan menjadi positif dan berguna bagi kehidupan manusia. Dalam khasanah tasawuf, empat daya yang berwarna hitam, merah, kuning dan putih itu dipandang sebagai kekuatan jiwa atau nafsu: al-amarah. al-lawwamah, al-shufiah dan al-muthmainah.
Dalam Pupuh 4 (dandhanggula) bait ke 17 suluk linglung sebagi berikut:
“Sirna patang prakara na malih
urub siji wewulo warnanya
seh melaya lon ature
punapa wastanipun
urub siji wewolu warni
pundi ingkang sanyata
urub kang satuhu
wonten kadi retno mancar
wonten kadi maya-maya ngebati
wonten abra markata”
” Empat warna lenyap. Muncul yang lain. Satu nyala delapan warna. Syekh Melaya berkata pelan: ” apakah namanya? Satu nyala delapan warna itu, mana yang sejati, nyala yang sebenarnya? ada yang seperti mutiara bersinar kemilau. Ada yang bagaikan sinar warna-warni menakjubjan. ada yang terang gemerlapan”.

Manusia sejatinya adalah roh suci yang ditemani oleh sukma sejati yaitu penunjuk apa tugas dan peran kita di dunia ini sebagai khalifah dan roh kudus atau saudara sejati adalah penuntun kita untuk menjalani tugas kita di dunia ini. dan roh suci, sukma sejati, saudar sejati berasal dari satu pancer atau sumber yaitu nur muhammad atau cahaya terpuji. Setelah dalam perjalanan mistiknya sunan kalijaga mengetahui cahaya seperti yang diceritakan di atas, beliau bertanya pada saudara sejatinya.
Dalam bait selanjutnya saudar sejati menjawab pertanyaan sunan. bahwa warna2 yang gemebyar itu sebenarnya satu. Berasal dari wujud yang satu. Sebagimana roh suci, sukma sejati dan saudara sejati atau roh kudus itu satu asal usulnya. Namun , beraneka warnanya sehingga dijelaskan bahwa semua warna yang dilihat oleh sunsn itumerupaka perlambang bagi seluruh isinya bumi dan langit. Artinya, segenap isinya bumi dan langit itu ada pada tubuh manusia. baik dalam suluk linglungnya sunan kalijaga maupun yang terdapat dalam “Bima Suci Kidung Basa Mardawa” disebutkan bahwa kedelapan warnia ini juga merupakan miniatur jagad raya yang ada di dalam diri manusia.
Saudara sejati selanjutnya menerangkan bahwa apa yang dapat disaksikan dalam keadaan meditasi bukanlah Tuhan. Yang menguasai segala keadaan yaitu Tuhan yang maha Esa, tidak dapat dilihat. Dia tidak mempunyai rupa, tidak berwarna, tak berwujud, tidak dapat dikhayalkan, tanpa tempat tinggal. Dia hanya terjangkau oleh orang yang hatinya awas. Hanya isyarat atau perlambangya yang memenuhi semesta. Meski dekat, tetapi tidak dapat disentuh. Tuhan dinyatakan sebagai “tan kena kinaya ngapa”. Dia tidak dapatdigambarkan seperti apaun. Dia hanya bisa disifati dengan sifat2 yang patut bagi-Nya.
Klaua bukan Tuhan, lalu apa yang disaksikan sunana?. Ternyat,a yang disaksikan suanan bak boneka gading yang berkilauan sinarnya itu adalah Premana atau permana. Inilah ajaran yang disebut chi (qi) dalam pandangan Cina. Ki dalam ajaran kebatinan atau reiki dari jepang yang juga dikenal sebagai prana dalam ajaran India. Dan, Permanalah yang menyebabkan badan ini hidup. Tetapi, Permana tak ikut merasakan kesedihan, kesakitan, dan penderitaan. Permana juga tidak membutuhkan tidur atau istirahat. tidak pula memerlukan makan dan minum. Jika Permana keluar dari tubuh, badan menjadi tak berdaya. Akhirnya menbusuk. Jadi, kekuasaan Permana itu untuk hidupnya badan jasmani ini.
MENGOLAH KEBATINAN

Kebatinan adalah laku, usaha dengan melalui rasa, hati yang bening, untuk mengetahui urip sejati, hidup sejati. Laku batin tersebut dilandasi perbuatan dan perilaku yang baik, budi luhur, hati bersih suci, dengan selalu mendekatkan diri dan manembah kepada Gusti, Tuhan.

Beberapa pengalaman akan dialami oleh pelaku kebatinan, ada yang enak, ada yang dirasa berat, semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi.

Pengalaman puncak pelaku kebatinan/ spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo berada dalam hubungan serasi dengan Gusti, Tuhan.
Istilah populernya adalah :
Jumbuhing kawulo Gusti – Hubungan serasi kawulo Gusti
Manunggaling kawulo Gusti – Manunggalnya kawulo Gusti
Pamore kawulo Gusti -Bersatunya kawulo Gusti

Yang intinya berarti : Seorang anak manusia telah berada dikehidupan sejati dalam lindungan keagungan Tuhan.

Timbulnya Kebatinan

Timbulnya kebatinan sebenarnya adalah hal logis, setelah manusia dalam pengalaman menjalani kehidupan ini, menemukan fakta bahwa hidup dan alam ini , tidak hanya terdiri dari benda-benda dan zat-zat yang lahir saja. Selain yang lahir, yang kasat mata, ada juga hal-hal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sebenarnya ada, eksis. Selain ada yang konkrit , ada yang abstrak, yang diakui oleh siapapun, seperti : pikiran, gagasan, batin dsb. Jelas, selain lahir ,ada batin. Sebelum sesuatu termanifestasi, muncul, lahir, sesuatu itu berada dulu didalam angan-angan, pikiran, yaitu batin. Setiap tindakan yang dilakukan, muncul dialam lahir, tentu sebelumnya di-batin dulu.

Batin Itu Luas dan Dalam

Dengan pengertian dasar seperti diatas, maka yang termasuk lahir adalah apa saja yang kelihatan oleh mata, sedangkan yang tidak kelihatan termasuk ranah batin.

Pandangan yang ditangkap mata juga ada dua.
Pertama : Yang bisa dilihat oleh mata lahir, mata biasa.
Kedua : Ada orang yang tajam mata batinnya, sehingga mampu melihat yang oleh kebanyakan orang disebut gaib.
Perlu diketahui bahwa setiap orang secara alami,dari “ sononya” juga dilengkapi, memiliki mata batin. Itu anugerah Tuhan, bukan takhayul!
Tetapi kemampuan fungsi mata batin, sejak anak kecil telah dikalahkan oleh logika, yang ditanamkan oleh orang tua dan pergaulan umum. Tidak hanya mata batin yang ditutup; kepekaan otak , rasa dan indra yang lain , juga ditutup.
Jadi yang terjadi sesungguhnya,kepekaan mata batin, otak batin, rasa batin , itu tidak hilang, hanya sengaja ditutup atau dihalangi atau tidak dikembangkan. Alasannya : Tidak sesuai dengan logika.Oleh karena perangkat-perangkat batin secara alami dan sah dimiliki setiap manusia, maka hal tersebut tak bisa dihilangkan. Sekali lagi, yang terjadi hanyalah fungsinya tidak dihidupkan.
Seorang manusia yang terbuka mata lahir dan batinnya, tetap berfungsi otak dan rasa batinnya, dia bisa melihat dan memahami yang kelihatan dan “ yang tidak kelihatan”.
Sehingga yang disebut dunia nyata itu relatif. Ini tidak perlu diperdebatkan.

Kesimpulannya sebagai berikut :
Bagi saudara-saudara kita yang fungsi perangkat-perangkat batinnya tidak diaktifkan, dibiarkan tertutup, yang dilihat adalah yang nyata secara konkrit. Itu bagus, wajib bersyukur kepada Tuhan, karena mempunyai mata, otak dan panca indra normal yang berfungsi bagus.

Sementara itu, saudara-saudara kita yang perangkat-perangkatnya berfungsi lahir batin, mampu melihat dan mengetahui bahwa kenyataan itu terdiri dari dua hal, yaitu :
Yang nyata bagi setiap orang ditambah “ yang tidak kelihatan”

Ini sebenarnya hal yang normal saja, katakanlah bahwa orang tersebut memanfaatkan sepenuhnya karunia yang diberikan oleh Tuhan.
Adapun terjemahan Surat An-Nur ayat 35 yang artinya :
Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang diyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh disebelah timur (sesuatu) dan tidak pula disebelah barat (nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dikehendaki. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.

Membuka Kembali Perangkat-Perangkat Batin

Karena yang mempunyai kemampuan melihat termasuk hal-hal yang disebut gaib jumlahnya sedikit, orang-orang seperti itu secara salah kaprah dipandang mempunyai kemampuan diatas normal, ada yang menyebut mereka paranormal, bahkan supernormal dlsb.

Supaya anda tidak perlu ke “paranormal” kalau lagi bingung atau punya masalah, selain perlu lebih banyak berdoa kepada Tuhan, tenangkan perasaan anda, kendalikan emosi, mulailah berlatih santai membuka kembali fungsi-fungsi perangkat “gaib” yang anda miliki.

Tentu untuk itu anda harus sabar, melatih diri, karena perangkat-perangkat itu sudah lama sekali tidak difungsikan. Kalau terbukanya terlalu cepat atau tiba-tiba, nanti anda kaget dan bisa mengalami goncangan jiwa.

Pelaksanaan dan latihan tersebut hanya melibatkan dan berhubungan dengan diri anda sendiri dan diberkati oleh Tuhan.

Latihan mengolah batin, bisa dilakukan sendiri atas dasar kemantapan hati yang pasrah total kepada Gusti atau dengan petunjuk atau bimbingan seseorang yang lebih senior dalam olah kebatinan, yang biasanya disebut Guru.

Bimbingan Guru Laku tersebut untuk menghindari dari beraneka gangguan dan hal-hal yang negatif, sehingga tidak keliru tujuan sejatinya. Silahkan, anda bebas menentukan pilihan.

Yang penting anda yakin selalu berada dijalan yang hakiki, yang benar, yang menjadi hak anda dan itu adalah jalan Ilahi.

Menjalani, mempelajari, melatih olah kebatinan atau spiritualitas menurut istilah universal, itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan takhayul, mahluk-mahluk halus yang mendiami tempat-tempat angker, santet dan hal-hal semacam itu.

Kebatinan adalah jalan yang mulia, metode untuk menghayati kebenaran sejati, mengenali diri sejati, hidup sejati, sehingga hubungannya dengan Tuhan, serasi.

Ada yang menyebut keadaan seperti itu : Wis tinarbuko, bahasa Jawa, sudah terbuka batinnya yang tinggi, sudah mendapat Pencerahan atau mendapatkan cahaya illahi. Ada yang menyebut Unio Mystica – Persatuan mistis kawulo Gusti . Dalam pemahaman spiritualitas universal dikatakan : Aku ketemu Higher-Self, diri yang lebih tinggi/ Pribadi atau bahkan bisa ketemu dengan Highest –Self – Pribadi Sejati.

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca Ta’usyiah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit, Fitnah, Prasangka Keji, Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan Ta’usyiah ini

Aamiin ya Rabbal’alamin

Batu, 22 November 2015
Di Publikasikan Oleh:

KRT. KH. Mukhammad Musyrifin Puja Reksa Budaya
Khodimul ‘Ummat, Dlo’if wal Faqiir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *